Karena sedang masa senggang, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku dan menulis blog. Hobi lain yang berbeda dari hobi utama yang telah menjadi pekerjaan, menggambar komik, supaya tidak jenuh. Kegiatan ini bisa dibilang kegiatan simbiosis mutualisme, karena saya bisa istirahat dari pekerjaan, menambah pengetahuan, hiburan dan ditambah tantangan singkat menulis blog. Saya menulis blog tentang komik yang selesai saya baca dengan tujuan berbagi informasi, dokumentasi, mengurangi memori otak dan berlatih menyusun kata-kata.

Tadi malam saya membaca komik The Pilgrim’s Progress, setelah sempat bimbang mau mendahulukan buku mana, karena masih banyak stok buku yang masih dalam segel plastik. Setiap kali akan membaca buku, saya harus membuka segelnya dahulu kemudian memasang sampul plastik, karena saya tidak akan membuka bungkus buku hingga saya siap membacanya. Ternyata sampul plastik saya semalam adalah yang terakhir, ketika saya akan memakainya untuk komik lain, ukurannya terlalu besar. Maka saya pun kembali mengambil komik The Pilgrim’s Progress yang kebetulan ukuran bukunya lebih besar, jadi tidak menyisakan banyak plastik sampul.

Penulis cerita The Pilgrim’s Progress adalah John Bunyan, lalu diadaptasi oleh Lee Tung dan Johnny Wong. Ilustrasi versi komik oleh Creator Art Studio. Edisi komik dalam Bahasa Indonesia diterbitkan pertama kali pada bulan Juli 2013 oleh PT. Visi Anugerah Indonesia (sekaligus pemegang hak terjemahan). Saya merasa beruntung karena ternyata ini adalah cerita fantasi alegori nomor satu sepanjang masa (tertulis juga di sampul depan). Saya sempat menduga akan berisi kisah membosankan karena dibuat beberapa abad yang lalu.

Cerita The Pilgrim’s Progress diterbitkan pertama kali pada Februari 1678, telah diterjemahkan ke lebih dari 200 bahasa dan selalu dicetak ulang. Pada bagian belakang sampul komik ini tertulis: karya ini adalah sebuah legenda. Saya pun penasaran seperti apa isinya sampai terdengar begitu hebat, judul ini juga terasa tidak asing, mungkin itulah kekuatan legenda, namanya tersebar ke mana-mana. Mungkin gambar di atas tidak sesuai dengan apa yang saya bicarakan, karena saya tidak ingin menyampaikan keseluruhan ceritanya. Hanya membagi pengalaman saya saja.

Gambar di atas adalah pengenalan tokoh dalam komik The Pilgrim’s Progress. Semua karakter sangat penting dan mewakili sifat-sifat yang ada di dunia ini. Misalnya tokoh utama bernama Christian mewakili orang Kristen pada umumnya dan tokoh Pliable yang merupakan gambaran orang yang plin-plan. Sungguh alegori yang luar biasa!
Omong-omong soal alegori, saya punya kisah tersendiri. Belum lama ini saya mendapati kata “alegori” ketika membaca majalah bulanan dari gereja, di sana dijelaskan bahwa kata tersebut berarti: “cerita yang dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) peri kehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita, atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran)”, sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Saya pun mengerti sebutan cerita seperti itu dan ternyata sudah ada dalam KBBI. Nah, setelah itu saya mendapati lagi sebuah tulisan yang menyebut “alegori” beberapa hari kemudian secara tidak sengaja beserta contohnya. Saya jadi bertanya-tanya kenapa “alegori” tiba-tiba datang dalam hidup saya. Dan terakhir, saya menemukan komik ini, saya kira Tuhan tidak membuat kebetulan.

Christian betualang melewati pelbagai rintangan, kejadian, wilayah dan bertemu banyak orang. Semua itu tentu saja menggambarkan seorang Kristen dalam menjalani kehidupan, ada tantangan duniawi dan perjalanan batin, melawan keinginan daging dan memuliakan roh kudus. Semuanya digambarkan dengan epik dalam komik ini, ditambah ilustrasi yang memanjakan mata. Saya juga bersyukur karena saya bisa sekaligus mendapat referensi gambar bagus di sini.
Saya baru sadar ternyata ini adalah buku pertama, masih ada buku kedua yang sepertinya sekaligus terakhir. Saya tidak sadar ketika membelinya di toko buku.

Saat itu saya sedang menghadiri pameran karya adik saya dan teman seangkatannya di kampus. Sepulang dari sana saya mampir ke toko buku khusus agama Kristen yang kebetulan tidak jauh dari kampus. Saya ingin ke sana setelah mendapat informasi dari internet, penasaran ada apa saja di dalam sana. Saya menjawab “mau lihat-lihat dulu” ketika ditanya pelayan toko. Beberapa saat kemudian saya menanyakan buku Kristiani dalam bentuk sastra fiksi, mungkin novel atau lainnya. Pelayan sempat bingung namun berhasil menunjukkan sebuah novel, saya berpikir tidak membelinya saat itu karena harganya lumayan mahal. Lalu saya mencoba mencari buku lain (yang harganya lebih murah) dan mendapati komik di rak “buku anak”, saya mengambil dua buku, The Pilgrim’s Progress dan Son of Samson and the Judge of God (akan saya sampaikan lain waktu).

Banyak sekali bahaya dan godaan mendekati Christian, semakin dia kuat dan berjalan lebih jauh, semakin banyak dan kuat pula rintangan yang harus dihadapi. Alegori seperti ini memang sangat efektif dalam menggambarkan perjalanan iman kepada manusia, khususnya usia remaja dan anak-anak. Namun menurut saya, orang dewasa terkadang lebih membutuhkan yang seperti ini. Sekali lagi saya bersyukur karena mendapatkan komik ini.

Tidak hanya halang-rintangan, pertolongan dan petunjuk pun mendatangi Christian yang berjalan dalam nama Tuhan. Seperti pasukan malaikan turun dari langit ketika Christian terpojok oleh kepungan pasukan mayat hidup (anak buah Apollyon) dan membantu mengalahkannya. Karena saat itu Christian tidak cukup hanya menggunakan pedang roh dan tameng iman, maka ia berdoa terus menerus dan mengandalkan kitab suci.
Sebenarnya cerita ini juga cocok untuk pemeluk agama lain meskipun dalam konteks ini adalah agama Kristen, karena pada dasarnya manusia beragama pasti akan mengalami pergumulan batin, dan itu digambarkan sangat jelas dalam kisah epik ini.
Itulah pengalaman yang saya dapat dengan dan dari komik ini. Saya harus ke toko buku itu lagi, mencari komik kedua The Pilgrim’s Progress.
Sampai jumpa.
