I Saw The Same Dream Again

I Saw The Same Dream Again

Judul asli komik ini adalah “Mata, Onaji Yume Wo Mite Ita” karya dari Yoru Sumino dan Idumi Kirihara. Terbit pertama kali di Jepang oleh Futabasha Publishers Ltd. pada tahun 2017. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2019 melalui Tuttle-Mori Agency, Inc. Tokyo kemudian diterbitkan pada tahun 2020 oleh M&C (PT Gramedia Pustaka Utama). Rating komik ini adalah 17+ (untuk usia 17 tahun ke atas) seperti yang diterakan di kover belakang. Total ada 3 jilid buku tamat, tentu saja yang saya baca adalah edisi Indonesia dan lagi-lagi saya pinjam dari teman serumah, kali ini sebut saja G. Ada banyak cerita dalam perjalanan saya ketika membaca komik ini, saya sudah tidak sabar ingin menyampaikannya.

Gambar: kover depan komik “I Saw The Same Dream Again”

Minggu lalu saya ke kota Ponorogo, Jawa Timur untuk menghadiri pernikahan sepupu, saya pergi hari Jumat pukul 10 malam naik kereta dan tiba di Madiun Sabtu siang jam 11, setelah itu naik bus lalu dijemput pakai motor ketika tidak ada lagi kendaraan umum. Beberapa hari sebelum pulang saya meminjam jilid 1 komik “I Saw The Same Dream Again” kepada G dan membacanya, jilid 2 dan 3 ia beli bersama saya ketika ke toko buku. Sore sebelum saya berangkat ke stasiun, ketika sedang berkemas, G bilang kalau sudah selesai membaca jilid 2 dan 3, saya pun segera meminjamnya dan berniat membaca dalam perjalanan. Saya selalu membawa buku bacaan ketika bepergian dan perjalanan jauh, hari itu saya sudah menyiapkan sebuah novel, maka saya batalkan dan ganti dengan komik ini karena saya memang tidak sabar ingin mengetahui kelanjutan ceritanya.

Gambar: potongan komik “I Saw The Same Dream Again” jilid 1

Ketika di dalam kereta ternyata saya tidak sempat mengeluarkan komik ini karena kursi sebelah saya penuh dan saya tidak bisa membaca dalam situasi yang kurang nyaman, saya pun memilih bermain gim lalu tidur karena lelah setelah bekerja seharian. Selain itu pada siang hari ketika jam istirahat saya pergi ke stasiun untuk tes Genose Covid-19 dan beberapa hari terakhir sering ke sana ke mari membeli sesuatu, salah duanya oleh-oleh dan bahan untuk kado pernikahan yang akan saya hadiri.

Pagi hari ketika kereta sampai di Yogyakarta ada banyak penumpang yang turun, setelah mencuci muka saya mengeluarkan komik “I Saw The Same Dream Again” ini dan duduk di salah satu kursi kosong lalu membacanya. Sejak awal saya sudah menyukai komik ini karena erat kaitannya dengan kehidupan, maksud saya adalah makna kehidupan manusia di dunia ini. Selama ini saya sering termenung dan memikirkan pertanyaan abadi umat manusia, “untuk apa hidup ini?”. Maka ketika ada kesempatan membaca komik ini dalam perjalanan (dalam kereta) menuju kehidupan sosial (masyarakat) saya sangat bergairah dan merasakan waktu yang tepat. Sering kali saya menunda membaca buku karena merasa tidak pas kemudian ketika saya membacanya lain waktu itu adalah momentum yang saya butuhkan, saya sangat bersyukur atas anugerah ini.

Gambar: salah satu halaman komik “I Saw The Same Dream Again”

G, teman saya bilang kalau sesuatu bisa dianggap komedi dalam situasi tertentu dan menjadi sangat serius dalam sudut pandang lainnya. Saya setuju dengan kata-katanya itu meski tidak mengakuinya secara langsung ketika dia mengungkapkannya, waktu itu saya terbahak-bahak membaca jilid satu komik “I Saw The Same Dream Again” ini dan saya berpendapat kalau alirannya bisa saja komedi. Setelah selesai membaca, saat ini, ucapan G memang benar dan saya tidak memandang cerita ini komedi belaka, namun sebaliknya saya melihat filosofi dan kebijaksanaan hidup terkandung sangat kental di sini. Kalau dipikir-pikir memang cara penyampaian cerita sedikit berlebihan dan mengada-ada, namun bukankah memang begitulah komik, atau setidaknya drama? Di sisi lain latar belakang cerita ini cukup realistis dan masuk akal seluruhnya, jadi bukan masalah kalau dipandang berlebihan apalagi ketika Anda sudah membaca sampai tamat komik ini.

Gambar: potongan komik “I Saw The Same Dream Again” jilid 2

Tokoh komik ini adalah seorang anak perempuan biasa, dalam keluarga yang biasa, memiliki kehidupan biasa, di kota biasa, dan tokoh lain pun juga biasa saja. Semua tentang komik ini terasa biasa saja, tidak ada yang istimewa sama sekali selain cerita, bahkan halaman bonus yang sering menyampaikan informasi tambahan pun juga tidak ada. Desain karakter, judul, dan kover juga biasa saja, tidak ada sesuatu yang menonjol dan menjadi ciri khas. Mungkin yang sedikit bisa dijadikan keunikan (atau dipertanyakan) adalah keberadaan seekor kucing hitam biasa yang memang biasa juga seperti kucing pada umumnya. Saya sempat membahas ini dengan G ketika sudah kembali dari kota Ponorogo. Saya pikir komikusnya memang ingin pembaca fokus pada cerita sehingga bisa memikirkan apa itu kebahagiaan dan kehidupan. Sekali lagi saya merasa ini adalah pelajaran penting yang Tuhan dan semesta tunjukkan kepada saya melalui karya yang justru biasa saja dalam banyak sisi. Saya berkata demikian karena sering mengeluh akan kehidupan ini, bisa saja jika saya tidak sedang membaca komik ini saya akan memandang berbeda ketika dalam perjalanan kemudian bertemu dengan keluarga besar dan masyarakat umum. Berkat membaca komik ini saya jadi mensyukuri banyak hal dan lebih bisa menerima dan menikmati kehidupan.

Gambar: salah satu ilustrasi dalam komik “I Saw The Same Dream Again” yang menyentuh jiwa.

Penyampaian cerita melalui ilustrasi dalam komik ini sangat baik dan pas, beberapa kesempatan bahkan mampu menembus perasaan dan membuat pembaca semakin tenggelam. Beberapa keadaan mungkin dekat atau bahkan pernah kita alami, hal seperti itu membuat alur semakin nyata dan membuat pembaca setuju dengan komik ini. Semua hal yang memang masuk akal terjadi dalam kehidupan dan disuguhkan dalam komik ini membuat saya bisa mengambil banyak pelajaran layaknya pengalaman. Menurut saya komik ini merupakan hasil ekspresi keresahan komikusnya, Yoru Sumino dan Idumi Kirihara, yang disampaikan dengan sempurna melalui karya seni, cara yang tepat!

Gambar: salah satu halaman komik “I Saw The Same Dream Again” jilid 3

Walau saya katakan banyak unsur biasa saja dalam komik ini bukan berarti jelek atau kurang, justru semua itu sangat cocok dan tidak ada kurang sama sekali. Salah satunya adalah ilustrasi, di sini meski tampak biasa saja tapi kalau diamati lebih saksama tampak sangat indah. Saya tidak bisa memutuskan apakah ini digambar secara tradisional di atas kertas atau digital dalam komputer, komik Jepang sudah sangat jauh berkembang dan gabungan keduanya sangat sempurna. Kemampuan komikus Jepang juga sudah tidak diragukan lagi, terlebih ketika karyanya sudah sampai di Indonesia (luar negeri), pastilah sudah “berkualitas ekspor”. Kemungkinan besar jika memang masih memakai cara gambar tradisional maka ini adalah contoh hasil kolaborasi yang cantik karena editing-nya sangat rapi.

Gambar: kover belakang komik “I Saw The Same Dream Again”

Ilustrasi sampul belakang 3 jilid komik ini seperti gambar di atas, sekilas tampak menyambung seperti serial pada umumnya yang ingin memberikan bonus kepada pembaca. Tapi di komik “I Saw The Same Dream Again” ini tidak! Tidak ada yang seistimewa itu, ini hanyalah gambar biasa. Meski begitu saya membaca dalam ketiga ilustrasi tersebut adalah tempat yang sama tapi tidak diambil dari sudut yang sama, mungkin sisi lain yang tidak terlalu jauh. Tiga tokoh yang ada di sana pun merupakan tokoh utama komik ini dan itu semua menjadi semakin masuk akal kenapa ilustrasinya dibuat seperti itu. Saya sangat setuju! Bacalah jika belum, carilah komik ini, saya menyarankan Anda sebagai sesama manusia.

Awalnya saya berencana menulis blog ini ketika di Ponorogo, tapi ternyata saya tidak punya waktu karena lebih sibuk daripada yang saya duga. Bahkan sampai malam hari H pernikahan sepupu saya itu saya masih berkutat dengan gambar yang akan saya hadiahkan kepadanya, beberapa hari sebelum pulang sebenarnya saya juga sudah mulai mengerjakan dan mencari kertas khusus namun belum selesai. Hari terakhir di sana juga sibuk menemui kerabat lalu membeli oleh-oleh. Setelah itu berangkat ke Madiun karena tidak ada stasiun kereta di Ponorogo, saya datang lebih awal untuk tes Genose lagi karena tidak bisa naik kereta jika tidak membawa surat negatif Covid-19. Ternyata saya tiba di stasiun Madiun lebih awal dan tidak ada antrean, ketika itu hujan deras. Setelah reda masih ada waktu 2 jam sebelum keberangkatan, saya memanfaatkannya untuk ke toko buku. Saya memang sebisa mungkin mampir toko buku ketika berkunjung ke kota lain dan membubuhkan tempat dan tanggal pembelian pada buku yang saya beli sebagai kenang-kenangan. Ketika kembali ke stasiun saya memilih berjalan kaki karena melihat hanya 15 menit menurut aplikasi peta di ponsel, kenyataannya saya sangat lelah karena harus membawa semua barang hanya demi ingin menikmati suasana malam kota Madiun.

Seumur hidup terutama ketika masih kecil saya sangat jarang naik kendaraan umum, jadi ketika ke Ponorogo itu saya berusaha naik kendaraan umum semaksimal mungkin dan menolak dijemput di stasiun. Menurut saya kehidupan itu bagai perjalanan, kita bisa saja naik kendaraan pribadi, dijemput, atau memilih kendaraan umum yang masih banyak ragamnya lagi supaya mencapai tujuan. Kita bisa memutuskan sendiri dan menikmatinya atau menurut saja seperti orang pada umumnya, terutama di Indonesia sudah menjadi lumrah ketika kita diantar-jemput memakai sepeda motor.

Hidup memang perjalanan bukan? Sampai jumpa lagi, sekian tulisan kali ini. Semoga Anda dalam keadaan sadar dan cobalah melihat hidup dengan positif, barangkali Anda akan menemukan arti kebahagiaan.

Tinggalkan komentar