Adaptasi dari novel berjudul “Three Days of Happiness” karya Sugaru Miaki, yang disampaikan di bagian akhir jilid 1 komik ini oleh beliau sendiri, katanya cerita ini berawal dari rencana ingin melihat bunga sakura di musim semi di bagian selatan Jepang. Sugaru Miaki dan temannya berbincang dalam canda, “Betapa enaknya kalau kita bisa dapat uang banyak dengan menjual sebagian hidup kita.”
Empat tahun kemudian versi komik dibuat oleh Shouichi Taguchi dengan judul asli “Jyumyo Wo Kaitotte Moratta. Ichinen Ni Tsuki, Ichimanen De.” diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 2016 oleh Shueisha Inc. dalam 3 volume (tamat). Versi bahasa Indonesia terjemahkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2019 melalui International Buyers Agent Ltd., dan baru diterbitkan pada 2020 (volume 1 dan 2) dan 2021 (volume 3). Pada katalog penerbitan komik yang saya baca (versi Bahasa Indonesia) judulnya ditulis “I Sold My Life for 10.000 Yen Per Year” sedang di bagian lain (mis. kover) ditulis “I Sold My Life for Ten Thousand Yen Per Year”, saya tidak tahu apakah itu memang boleh, yakni mengganti angka dengan huruf, meski memang pengucapannya tetap sama dalam bahasa Inggris. Jika Anda punya jawaban sila tulis di kolom komentar.

Sekali lagi saya membaca buku bukan milik saya sendiri, komik ini saya pinjam dari teman serumah, sebut saja dia L. Sedikit informasi, saya tinggal di kota ini dengan menyewa sebuah rumah, kami berempat saat ini dan semuanya berasal dari kota berbeda.
Kalau tidak salah L membeli komik ini bersama saya di toko buku, yang saya ingat hanya reaksi saya tidak ingin membacanya ketika diperlihatkan, seperti biasa. Meski di lubuk hati terdalam sebenarnya saya selalu ingin membaca komik yang belum pernah saya baca. Lambat laun karena kami tinggal di rumah yang sama saya jadi tidak bisa menahan diri, maka di sinilah kita.
Saya penasaran dengan judulnya yang panjang itu, dan setiap mengetahui sebuah judul yang seperti itu (baca: kalimat) saya merasa pengarangnya minta perhatian dan ingin menyampaikan sesuatu, jadi saya lebih menghargainya. “I Sold My Life for Ten Thousand Yen Per Year” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Saya Menjual Hidup Saya seharga Sepuluh Ribu Yen Per Tahun” membuat saya menebak isi cerita komik ini mengenai dua hal, antara “perjanjian terlarang/terkutuk” atau lebih realistis “menghabiskan hidup untuk bekerja”. Untuk mengetahui jawaban itu, saya harus membaca sendiri komik ini daripada L yang memberitahu saya, meski dia adalah teman.

Apa pun jawaban itu, tidak akan saya katakan di sini, yang jelas memang seperti judul komik inilah yang terjadi, menjual hidup seharga 10.000 yen per tahun atau setara 1.300.000 rupiah (Maret 2021). Anda mau? Murah atau mahal? Jawabannya tergantung, dan Anda akan tahu ketika sudah membaca komik ini. Anda juga boleh kok menyampaikan pendapat di kolom komentar. (Oh, jadi seperti ucapan Youtuber, ya. Hmm… Next!)
Alur cerita memang lambat dan agak membosankan, tapi tetap menarik dan membuat penasaran. Sejujurnya saya tidak begitu tertarik karena tidak ada masalah besar, tapi tetap saja membuat saya tidak bisa berhenti membaca, bahkan saya menyelesaikan baca dua jilid dalam semalam dan satu sisanya di pagi hari usai dari gereja. Sebelumnya, ketika bangun tidur saya segera ingat komik ini dan tidak sabar menanti akhir cerita, meski (sekali lagi) tidak begitu menarik. Mungkin saya hanya tidak bisa berhenti ketika sudah memulai membaca komik, entahlah. Meski begitu saya cukup suka konsep cerita ini dan hormat kepada pengarangnya. Mungkin juga mereka berhasil memikat saya dengan sangat halus dan tidak menyadari bahkan ketika saya berpikir menyangkal.

Tokoh utama komik ini mungkin memang sosok gadis yang selalu menjadi kover komik ini di depan atau belakang bahkan di semua jilid (1-3), namun ketika membaca saya merasa tokoh utamanya adalah seorang lelaki. Biasanya tokoh yang selalu muncul di sampul seperti ini adalah tokoh utama, kalau pun ada dua tokoh utama maka ditampilkan berdua juga di kover, tapi ini tidak. Ini menjadi menarik dan unik, sama seperti ceritanya.
Oh, saya jadi punya data bagus yang semuanya berpola ganda, perhatikan!
- Kisah ini ada dalam dua media: novel dan komik
- Ide muncul dari obrolan dua sahabat: Sugaru Miaki dan temannya
- Tokoh utama (ternyata) juga dua: seorang gadis dan pemuda
- Pengarang memang dua orang: Sugaru Miaki (cerita) dan Shouichi Taguchi (gambar)
Mungkin ini remeh dan kebetulan saja, tapi saya suka mengemati hal seperti ini.

Desain karakter biasa saja, tidak ada yang aneh-aneh atau terlalu khas dan mencolok, seperti komik slice of life lainnya. Hal ini menjadi sangat mendukung cerita, yang disampaikan juga dengan bisa saja (ringan), bahkan tidak ada banyak tokoh sepanjang 3 jilid komik ini selesai, sangat hemat dan efektif! Mungkin bisa menjadi referensi jika Anda sedang kebingungan karena terlalu banyak karakter dalam cerita Anda lalu membuat pembaca pusing.
Selain penyampaian cerita dan desain karakter yang sederhana, latar tempat pun sederhana. Semua seperti terjadi di sebuah kota di Jepang saat ini begitu saja. Semua itu bagus dan cukup, tidak ada masalah. Namun saya pribadi merasa beberapa sudut kota seperti diambil menggunakan kamera lalu diubah, bukan sepenuhnya digambar berdasarkan imajinasi komikus dengan referensi pengalaman. Maksud saya begini, beberapa latar itu seperti sebuah foto objek asli kemudian dijiplak di komputer sedemikian rupa hingga menjadi seperti gambar gaya komik.

Pada gambar di atas memang sedang menunjukkan beberapa hasil jepretan kamera tokoh, namun pada beberapa bagian yang memang menjadi latar belakang tokoh pun demikian. Sebenarnya ini bukan masalah, dan dewasa ini juga banyak komikus yang memakai teknik ini, yakni menjiplak foto asli menjadi ala komik atau sering disebut tracing. Meski wajar tapi saya kurang suka dan menurunkan rasa, mungkin kalau soal makanan seperti turun selera ketika melihat kaki ayam di kandang ketika hidup. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi, jadi kawan-kawan komikus sila lakukan senyamannya saja karena itu karya Anda. Saya lebih menghargai dan bisa menikmati jika latar belakang tidak dibuat dengan cara menjiplak (tracing), atau setidaknya tidak terlihat begitu.

Bonus! Saatnya bonus! Siapa yang tidak suka bonus? Tapi bukan dari saya, ini bonus ada di bagian belakang buku ketika cerita utama komik ini telah usai. Banyak komik yang memberikan bonus seperti ini, bahkan biasanya juga diletakkan menjadi jeda antar bab, siring kali kita sebagai pembaca sangat senang mendapat itu dan merasa beruntung atau paling tidak terhibur. Bonus biasanya berisi tentang informasi tambahan tentang cerita utama, tokoh, latar belakang, bahkan curahan hati pengarang atau sekadar gambar tak berarti (doodle).
Selain catatan novelis (Sugaru Miaki) yang sudah saya sampaikan di awal, komik ini juga memberikan bonus berupa pilihan sketsa ilustrasi untuk kover yang kemungkinan sedang dibahas bersama editor ketika prosesnya. Bonus ketiga adalah beberapa komik pendek (tapi bukan komik strip 4 panel) yang ada hubungannya dengan cerita utama namun dari sudut pandang berbeda. Komik pendek bonus ini juga cukup serius alih-alih konyol seperti yang biasa diberikan komik lain, saya beri tepuk tangan dan ucapan terima kasih yang dalam. Saya memang sering berkesan dengan bonus dalam jilid komik karena beberapa merupakan informasi dibalik karya ini. Kesan itu membuat saya lebih menghargai dan merasa beruntung karena diberi kesempatan mengetahui. Akhirnya saya juga menjadi lebih menghargai hidup berkat membaca komik ini.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan tapi sudah terlalu panjang saya mengoceh di pos ini (atau tidak? Hanya waktu penulisannya saja yang lama, hahaha!), jadi sampai jumpa di tulisan saya berikutnya. Ingat, berapa harga hidupmu jika dijual? Sampai jumpa!
