Komik lokal yang dibuat oleh Sheila Rooswitha, diterbitkan pertama kali pada tahun 2019 oleh M&C (PT Gramedia Pustaka Utama).
Dalam keseharian berumah tangga, pasti ada banyak cerita-cerita unik dengan si buah hati.
Nah, kali ini, Sheila Rooswitha Putri, seorang ibu rumah tangga sekaligus komikus, akan membagikan pengalaman bersama para “sumber inspirasinya” dalam komik “Keluarga Lalala”!
Ada cerita menarik apa lagi di Keluarga Lalala hai ini?
Sinopsis komik Keluarga Lalala yang tertulis di bagian belakang buku.

Ketika jalan-jalan ke toko buku tahun lalu, saya memang mendapati komik Keluarga Lalala di rak buku dan juga sempat mengamati isinya. Saya ingin membeli, tapi mengingat buku yang saya masukkan dalam ranjang sudah banyak maka saya membatalkannya.
Suatu hari saya ke studio dan menemukan komik Keluarga Lalala sudah ada di rak buku. Rupanya “kapten” kami sudah membelinya, tentu saja, namun saya belum ingin membacanya.

Hari ini, setahun kemudian, saya datang lagi ke studio karena bosan di rumah terus. Pandemi Virus Corona mesih belum selesai, bahkan pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak jalan kecil ditutup bahkan sampai pedesaan. Saya ke studio bersama seorang teman yang tinggal di desa yang sama, kami rekan kerja. Pagi ketika bangun tidur saya membaca pesannya di ponsel mengajak main ke studio karena juga bosan. Maka saya segera bersiap dan menjemputnya, sejak pagi itu pun saya memutuskan akan membaca komik di studio sekaligus mengisi blog. Lalu komik Keluarga Lalala inilah yang salah ambil.

Gaya gambar Sheila Rooswita memiliki ciri khas yang saya ingat sejak pertama kali melihat karyanya di acara komik bertahun-tahun yang lalu. Entah apa nama acaranya dan kapan tepatnya (lupa), namun saat itu saya ingat pernah menyapanya di tempat makan dan meminta tanda tangan. Sampai sekarang saya masih merasakan ciri khas tersebut meski ada sedikit perubahan, lebih tepatnya berkembang menjadi lebih keren. Beberapa halaman di bagian depan dicetak berwarna, dan itu membuatnya istimewa.

Menurut saya proses gambar mbak Sheila ini patut dicontoh para komikus pemula maupun calon komikus. Bahwa ia konsisten dengan gaya yang sudah dipilih sejak awal, maka semakin banyak jam terbang jadilah gaya yang kuat dan khas. Tentu cara ini tidak bisa diterapkan secara mutlak kepada orang lain, ada banyak cara lain. Saya sendiri hingga saat ini masih belum bisa memutuskan gaya gambar yang akan saya pakai selamanya, pada titik tertentu bisa bosan dan berganti lagi.

Cerita yang diangkat mbak Sheila juga sederhana, dia menyampaikan sesuatu yang dekat dengan kehidupan kita. Seperti dalam komik Keluarga Lalala ini, ceritanya adalah tentang sebuah keluarga beranggotakan ayah, ibu, dan dua anak. Ibu bekerja sebagai komikus, kedua anaknya suka menggambar, sedangkan ayah suka koleksi mainan robot. Sebuah keluarga yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari khususnya komikus dan kolektor robot mainan.

Saking dekatnya cerita ini dengan kehidupan keluarga, Anda bisa merasakan bahwa cerita ini sangat nyata dan tidak mengada-ada. Buku ini berisi kumpulan komik pendek (strip) dengan panel bebas, tidak terpaku pada “empat panel” atau jumlah halaman tertentu. Dalam beberapa strip juga dibandingkan dengan jelas antara harapan dan kenyataan (ekspektasi dan realitas). Jadi memang cerita komik ini dibuat dengan apa adanya di kehidupan ini alih-alih mendramatisasi. Tertera pula tahun pembuatan beberapa komik strip, ini menunjukkan bahwa buku Keluarga Lalala merupakan kumpulan komik pendek yang dibuat mbak Sheila dalam rentang waktu yang berbeda kemudian disatukan.
Saya tidak menemukan sesuatu yang berlebihan di sini, semua masuk akal dan wajar. Tidak ada tertawa keras saat membaca Keluarga Lalala karena memang saya rasa ini bukan komik humor. Cukup senyum dan mengiyakan, setuju, maupun “oh begitu”.

Yah, bagaimana pun saya sangat mendukung komik lokal dan berharap terus berkembang dan beragam seperti rakyat Indonesia. Saya sangat setuju jika komikus dan kreator negeri ini menuangkan apa yang mereka ketahui, apa yang dekat dengan kita, daripada membuat cerita yang rumit tapi hanya kreatornya yang paham. Mari kita belajar dan berkontribusi dalam karyanya masing-masing, apapun itu bentuknya.
Sampai jumpa.
