Karakter superhero Gundala (Gundala Putra Petir, 1969) diciptakan oleh Hasmi (Harya Suraminata) yang sekarang hak ciptanya dikelola oleh PT Bumilangit Entertainment Corpora.
Sedangkan komik yang pertama kali diterbitkan tahun 2019 oleh M&C! (PT Gramedia Pustaka Utama) ini adalah adaptasi dari naskah film karya Joko Anwar yang juga rilis pada tahun yang sama. Seniman yang terlibat dalam komik ini diantaranya: Oyasujiwo (penulis), Ardian Syaf (gambar), Ecky (tinta), dan Dony Cahyo (warna) yang dibantu asistennya (Dinda Ardiriyani dan Louis Lady Zhangrila).

Sedih rasanya saya baru bisa menulis blog lagi hari ini. Setelah cek ekspos terakhir adalah Januari 2020, saya jadi merasa bersalah. Memang, beberapa bulan terakhir saya lebih sibuk dan beberapa pekan terakhir malah murung (hilang semangat). Saya merasa jenuh dengan menggambar, jenuh dengan komik, bosan bekerja, dan menganggap impian tiada arti. Sebenarnya hari ini pun masih enggan menggambar, setidaknya saya mulai mau beraktivitas daripada hanya menghabiskan waktu dengan membaca novel.
Omong-omong, sejak awal Maret 2020 pandemi Covid-19 menyerang Indonesia dan hingga hari ini terus bertambah korban. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas kelompok dan dihimbau tetap di rumah masing-masing. Semua kegiatan dilakukan dari rumah dengan memanfaatan internet (sistem daring), seperti sekolah, ibadah, dan kerja. Virus ini awalnya dari daerah Wuhan, Cina, lalu menyebar ke seluruh negara.

Bukan bermaksud menghubung-hubungkan atau “cocokologi”, tapi dalam komik “Gundala” ini juga ada kasus beras beracun dan berlanjut penyebaran serum penangkal racun yang menggemparkan publik. Keduanya memang berbeda, antara virus dan racun, namun keduanya sama-sama melibatkan masyarakat dengan skala besar. Penggambaran visual keadaan sosial di Indonesia tersampaikan dengan baik dalam komik ini, saya cukup puas dengan kemasan itu.

Komik ini baru saya dapatkan beberapa bulan setelah saya menonton filmnya, karena waktu peluncuran pertama saya tidak punya uang untuk membeli. Komik Gundala yang saya miliki ini adalah cetakan ketiga (Oktober 2019) dan saya mendapatkannya tanpa sengaja sehabis nonton animasi “Sonic The Hedgehog” di bioskop di sebuah mal baru. Saat itu hujan deras. Saya penasaran bagaimana isi komik ini karena saya sudah menonton filnya terlebih dahulu.

Ternyata memang sama, pada intinya. Perbedaannya terletak pada alur penyampaian cerita. Mungkin secara umum filmnya lebih mudah dipahami daripada komik ini. Namun karena saya penggemar komik, bukan film, maka tentu saja saya memilih komik. Saya lebih menikmati membaca dan mengamati setiap detailnya tanpa peduli waktu yang terus berjalan. Dalam film memang kita bisa mendapat suara dan ketegangan, tapi saya lebih suka menonton mereka dalam kepala saya sendiri, imajinasi. Film Gundala juga bagus kok, meski saya dengar beberapa orang menilai kurang.

Saya rasa tim pembuat komik ini bekerjasama dengan sangat baik. Cerita disusun dengan baik, ilustrasi digambar dengan keren, warna yang sangat indah, dan cetakan buku yang bagus. Bangga memiliki komik ini dan bangga bahwa bangsa ini bisa melahirkan karya yang tidak main-main, serius. Saya sangat puas dan berharap Gundala dan industri komik Indonesia tidak berhenti di sini. Melainkan ini adalah era kebangkitan baru komik lokal khususnya komik cetak, mengingat maraknya komik digital yang bahkan bisa dibaca secara gratis. Tidak cuma itu, semua orang bisa membuat komik dan mempublikasikannya dengan sangat mudah melalui media sosial hingga menjadi sampah.
Ketika SMA saya juga dapat komik Gundala Putra Petir terbitan Bumilangit pada sebuah bazar buku di kota kelahiran saya. Senang dan bangga sekali waktu itu. Tidak hanya itu, ketika kuliah saya juga pernah menggambar bersebelahan dengan Pak Hasmi (kreator Gundala) pada sebuah acara komik strip di kampus saya. Awalnya saya tidak sadar itu adalah beliau hingga orang-orang minta foto bersama dan tandatangan. Begitulah kisah saya bersama Gundala. 😀
Sampai jumpa!
