Terbit pertama kali dengan judul asli BOKU NO HERO ACADEMIA pada tahun 2014 oleh SHUEISHA Inc. di Tokyo, Jepang. Lalu di Indonesia oleh M&C, PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018 dengan judul My Hero Academia. Mangaka-nya adalah Kohei Horikoshi.

Kerika orang-orang heboh karena anime My Hero Academia, saya masih cuek. Karena saya pikir akan bosan jika ikut arus ketika semua orang membicarakannya, membuat fanart sampai cosplay. Jadi saya memutuskan tidak menonton anime itu dan semua hal yang berhubungan dengannya. Saya belum tertarik sama sekali.

Kemudian tahun ini (2019), saya melihat komiknya di rak buku Gramedia. Saya juga melihat teman saya sudah membelinya ketika berkunjung ke tempat tinggalnya. Saya melihat-lihat dan ada yang berbeda, yakni kertasnya lebih tebal daripada manga terjemahan lain, sehingga membuat ketebalan buku juga bertambah. Lalu ketika berkunjung ke studio Taara (agensi saya), juga mendapati komik ini dalam koleksi. Saya pun mulai mencoba membaca My Hero Academia saat sedang bosan pada hari yang lain. Dan ternyata… MENARIK!! Saya tidak sabar untuk terus membacanya.

Yang membuat saya langsung tertarik adalah ceritanya, selain tentu saja gambarnya. Inilah yang membuat saya juga sering tertarik dengan manga, karena penyajian cerita yang unik, beragam, segar tapi tetap bisa diterima. Saya kira hanya akan seperti kisah pahlawan super yang selalu mengenai kejahatan, kebaikan dan kekuatan. Ya, di sini pun juga begitu, tapi ada yang lain yang menjadi tidak membosankan. Misal ternyata hero terkuat, All Might, sebenarnya bertubuh kurus dalam tampilan biasa, berbeda jauh dengan otot besarnya ketika menjadi superhero, dan itu sudah diperlihatkan dalam buku pertama. Oke, mungkin itu juga biasa dalam cerita pahlawan super, Anda baru akan merasakannya ketika membaca langsung.

Mungkin karena ini manga remaja, jadi pengambilan tokoh berusia sekolah selalu menjadi andalan paling mutakhir. Itu pula yang diterapkan dalam manga My Hero Academia. Tokoh utama, Izuku Midoriya, adalah siswa baru akademi UA, sekolah khusus jurusan hero setelah lulus SMP. Semua orang yang ingin mengambil profesi sebagai hero harus memiliki izin dan mematuhi undang-undang. Oh iya, jadi di sini kasusnya 80% dari populasi manusia memiliki keunikan genetik yang disebut “quirk”. Semua orang (saat ini) terlahir dengan kekuatan unik, dan Midoriya adalah salah satu anak yang tidak memiliki quirk sejak lahir. Dia sangat mengidolakan All Might dan bercita-cita menjadi superhero.

Tapi dia tidak memiliki quirk, jadi mustahil bisa menjadi superhero, karena persaingan sangat ketat, kekuatan super manjadi normal di dunia ini. Kukira Midoriya tetap akan berhasil meraih impiannya walau tanpa quirk, ternyata dia mendapat berkat dengan diwarisi kekuatan All Might, idolanya sejak kecil. Bagaimana bisa? Silakan baca sendiri (sudah? Bagus!). Intinya All Might mewariskan One For All dengan menyuruh Midoriya memakan sehelai rambut darinya. Katanya, sih, karena waktunya mepet, sebenarnya ada banyak cara untuk memindahkan DNA. Midoriya pun masuk akademi UA setelah mendapat latihan keras dan warisan DNA dari All Might.

Ibu Midoriya sangat sayang anaknya, sebenarnya dia sudah tahu kalau Izuku tidak memiliki quirk, itulah mengapa cintanya begitu besar sampai sekarang. Dulu ibu Midoriya memiliki tubuh ideal dan cantik, sekarang agak gemukan, sungguh realistis. (Informasi macam apa ini?)

Kubu penjahat (villain) di dunia ini juga sebenarnya adalah orang-orang biasa, namun mereka menyalah-gunakan quirk-nya. Kelompok villain tiba-tiba menyerang siswa yang sedang mengikuti pelajaran “latihan penyelamatan korban bencana” di luar sekolah. Tujuan mereka menyerang adalah membunuh All Might yang dijadwalkan menjadi salah satu guru pelajaran ini, tapi ternyata dia tidak hadir. Para siswa pun terpaksa melawan villain bersama beberapa guru. Ceritanya tidak sesimpel itu dibandingkan ketika Anda membacanya sendiri, lo.

Ujian penyelamatan berkembang menjadi pertarungan, mereka harus berjuang melindungi diri dan orang lain. Sebagai siswa baru, ini pengalaman pertama melawan musuh secara nyata. Pada kemudian hari, hal ini membuat iri kelas lain. Mereka juga menjadi populer di kalangan masyarakat.

Tidak lama setelah itu, ada Festival Olahraga UA, ajang terbesar yang bahkan menggantikan Olimpiade di Jepang yang sudah tidak menarik lagi. Pihak akademi UA mengatakan, digelarnya acara ini untuk menunjukkan bahwa sistem mereka sangat kuat, tidak goyah meski sempat ada serangan villain beberapa hari sebelumnya. Pada festival ini, para siswa harus saling bertarung untuk menjadi pemenang, dan dia adalah Katsuki Baguko pada akhirnya, teman masa kecil sekaligus rival Midoriya. Bakugo sangat membenci Midoriya, sangat membencinya lebih dari siapa pun.

Baguko semakin membenci Midoriya karena dia juga berhasil masuk akademi UA padahal tidak punya quirk. Sejauh ini pun mereka selalu bersaing unjuk kemampuan, sengaja atau tidak sengaja. Bakugo emosinya meledak-ledak, cocok dengan quirk-nya yang juga ledakan. Sedangkan Midoriya si culun dan baik hati (sangat tokoh utama sekali). Namun keduanya sama-sama tidak mau menyerah atau mengalah, mungkin itu karena jiwa muda mereka. Bakugo semakin membenci Midoriya lagi ketika mengetahui ternyata kini Midoriya memiliki quirk yang kuat, ia pun tidak sabar untuk segera mengalahkannya. Oh iya, di atas adalah gambar Baguko ketika diserang villain yang berusaha menguasai tubuhnya. Penampilan Bakugo jadi tidak jelas, tapi art-nya bagus, jadi saya potret untuk ilustrasi. Supaya kalian tidak penasaran, segeralah baca My Hero Academia sendiri.

Saya selalu membaca komik yang saya sukai dengan pelan-pelan karena memerhatikan detail gambarnya. Itu yang tidak bisa saya dapatkan ketika menonton film, terlebih anime, karena saya banyak fokus ke teks terjemahan. Lagi pula saya memang lebih suka komik, dan ini juga blog tentang komik. XD

Apa lagi ya? Saya bingung mau menulis apa, karena di komik My Hero Academia volume 1-10 sudah ada banyak hal terjadi. Dan sebenarnya saya membaca ini sudah sebulan yang lalu, kira-kira. Jadi sudah lupa beberapa bagiannya, ya ampun. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan menggambar komik. Saya mengisi blog ini lagi karena sekarang sedang membaca komik lain, jadi sebaiknya My Hero Academia segera saya dokumentasikan sebelum tertumpuk.
Yang menarik lagi, sebelum masuk bab berkutnya ada beberapa informasi yang dibuat Horikoshi sensei. Seperti pengenalan lebih dekat tiap tokoh dan ilustrasinya dalam gaya biasa (casual). Pada gambar di atas adalah contoh halaman tersebut, yang menampakkan Eijiro Kirishima dengan pakaian sehari-hari. Oh, di sebelah kiri ada sosok All Might saat beraksi, tapi bawahannya masih celana guru.

Di sini juga ada karakter anti-hero, namanya Hero Killer. Dia punya ideologi tersendiri mengenai fenomena manusia super, penjahat super dan pahlawan super. Hero Killer hanya mangakui All Might sebagai pahlawan yang sejati, lainnya hanya popularitas dan uang. Dia memburu siapa saja yang menurutnya layak dimatikan karir hero-nya, dan hanya rela dibunuh oleh All Might seorang. Ia bahkan tidak mau bergabung dengan Aliansi Villain dan memilih bergerak sendirian. Dalam situasi seperti ini, ideologi akan terpecah dan melahirkan golongan-golongan. Sehingga wajar saja jika ada orang yang memilih menjadi pahlawan atau penjahat. Bahkan keyakinan semacam Hero Killer juga ada pengikutnya, dia diidolakan beberapa orang.
Lagi-lagi Midoriya terpaksa menghadapi musuh berat, dia melawan Hero Killer ketika hendak menyelamatnya Tenya Iida, temannya, bersama Shoto Todoroki. Kakak Iida dikalahkan oleh Hero Killer sampai cedera parah, sehingga membuat Iida ingin balas dendam.

Aksi teror Aliansi Villain beberapa waktu sebelumnya telah memancing penjahat lain untuk bergabung, salah duanya adalah Himiko Toga dan Dabi. Pimpinan kelompok ini adalah Tomura Shigaraki, ciri-cirinya ada beberapa potongan tangan memegangi tubuhnya, terutama bagian muka. Pada dasarnya Shigaraki membenci hampir semua hal, termasuk Hero Killer, apalagi pahlawan.

Sekarang para siswa akademi UA melakukan outing, rombongan kelas 1-A (Midoriya dkk.) tiba-tiba diserang kelompok Aliansi Villain lagi ketika mereka akan menuju penginapan. Tempat itu berada di hutan yang luas milik kelompok hero “Pussycats” yang baru saja menyambut kedatangan para siswa. Sepertinya ini tugas pertama Dabi dan Himiko, karena mereka ada dalam penyerangan ini. Sedangkan Midoriya lagi-lagi mendapat musuh berat ketika akan menyelamatkan Kouta, keponakan Mandalay anggota Pussycats. Dan kebetulan, ternyata villain ini adalah orang yang telah membunuh orang tua Kouta yang berprofesi sebagai hero (jadi rumit, ya). Karena sangat kuat, jadilah Midoriya mengerahkan kekuatannya sampai satu juta persen –yang kemudian dijelaskan oleh Horikoshi sensei bahwa itu hanya istilah saja, tidak sebanyak itu- untuk mengalahkan lawannya yang sangat kuat.

Setalah itu tubuh Midoriya babak belur, terutama tangan kanannya. Saya baru ingat, bahwa kekuatan One For All yang diwariskan All Might kepada Midoriya itu sangat hebat dan sangat kuat. Tubuh Midoriya belum mampu menahan untuk menggunakan kekuatan maksimal, biasanya hanya sekitar lima persen dengan jentikan jarinya, jika sampai 100% maka tubuhnya bisa hancur lebur. Bisa dibayangkan kekuatan All Might yang tak terkalahkan itu saat bertarung, betapa kuat tubuhnya.

Di tengan kejadian menegangkan ini, memang dibutuhkan sesuatu untuk meredam. Adalah halaman hiburan informatif pada akhir bab komik My Hero Academia. Mungkin saking menegangkannya, pembaca pun perlu rehat sejenak supaya tidak stres. Gambar di atas adalah salah satu ide yang saya sukai karena selain menyampaikan informasi di luar kepahlawanan juga menjadi penghibur. Sebut saja Uraraka yang ternyata memiliki strategi jitu untuk menghemat uang makan, yaitu dengan cara “tidak makan”. Hemmm…! Siapa Uraraka? Dia gadis imut yang memiliki quirk anti gravitasi pada apapun yang disentuhnya. Cukup dekat dengan Midoriya sejak pertama kali masuk akademi UA.

Sekarang kembali lagi ke per-hero-an Jepang –karena ternyata di sini dengan jelas latar tempatnya adalah negara Jepang-, Aliansi Hero sudah mengetahui tempat persembunyian Aliansi Villain, mereka melakukan serangan balasan. Bahkan All Might si hero nomor satu bersama nomor dibawahnya turun langsung dalam aksi ini, jadi ini sangat serius dan kuat. Sebelumnya, aliansi penjahat telah berhasil menciptakan makhluk kuat bernama Nomu, dan ternyata di dalam markas ini pula Nomu diproduksi. Para pahlawan telah berhasil melumpuhkan mereka semua, termasuk Tomura Shigaraki dan Nomu-Nomu lainnya.

Namun, mendadak seseorang muncul dengan kekuatan luar biasa, beberapa hero kuat langsung kalah begitu saja. Orang ini adalah sumber kekuatan Shigaraki, sekaligus yang bisa menciptakan Nomu. Dialah “All For One”, musuh besar One For All.

Kekuatannya sangat dahsyat, sampai-sampai Midoriya dan teman-temannya merasa mual karena ngeri. Sebelumnya mereka ingin menyusup ke markas itu juga untuk menyelamatkan Bakugo yang tertangkap saat penyerangan di hutan Pussycats. Tapi aksi seenaknya sendiri mereka didahului Aliansi Hero, sehingga mereka hanya bisa menyaksikan kekacauan yang mengerikan.

Sebenarnya All For One ini sudah pernah dibunuh oleh All Might, pemilik quirk One For All, tapi kenapa bisa muncul lagi? Kini mereka harus bertemu lagi dalam kondisi yang berbeda. Karena ini bagian terakhir buku kesepuluh, maka akan saya ulas dalam bahasan komik My Hero Academia 11-20. Eh, saya belum tahu sampai volume berapa komik ini, karena saya tidak suka mencari-cari di internet dan lebih (merasa) baik menunggu di rak toko buku saja.

Sebagai pelengkap, saya juga akan menunjukkan apa yang diperlihatkan oleh sensei Kohei Horikoshi di bagian terakhir setiap buku. Itu adalah para asistennya selama pembuatan manga, biasanya digambarkan dalam bentuk hero dan selalu berbeda setiap buku. Ditambah ada keterangan pendek mengenai setiap asisten dan tentu saja namanya. Sepertinya Horikoshi sensei sangat menghargai mereka. (Hebat!)

Sedangkan ini adalah halaman pengenalan tokoh yang terletak di bagian depan komik. Saya selalu membacanya setiap buku dan sering melihat kembali ketika lupa tentang salah satu karakter di tengah-tengah membaca. Omong-omong, halaman pengenalan karakter ini hanya ada di buku ketiga sampai sembilan. Dan dari tujuh tampilan tersebut, semuanya digambar berbeda-beda. (Keren!)

Kalau ini kover dalam setiap buku, saya mengambil dua contoh sebagai ilustrasi. Jujur saya sangat suka dengan sampul yang di dalam daripada yang di luar meskipun berwarna.
Eh, kebetulan tokoh di atas adalah favoritku! Saya sempat terpikir: “siapa tokoh kesukaanku di komik ini?” Uraraka tidak, karena pasti sudah banyak yang menyukai. Saya sangat tertarik dan penasaran dengan Tohru Hagakure, tapi dia manusia tidak terlihat, jadi susah mengidentifikasi, apalagi ketika dia tidak memakai apapun, cuma bisa membayangkan. Lalu saya memutuskan menyukai Mina Ashido dan Momo Yaoyorozu. Kemudian mengutamakan Ashido karena berambut pink daripada Yaoyorozu yang berbaju merah (saya tahu dari kover depan). Saya menantikan yang berwarna biru, perempuan dan keren.

Tak kalah keren sampul belakang komik ini, kita bisa melihat warna karakter nyentrik yang sebelumnya kita hanya bisa melihat hitam-putih. Saya sangat senang menjadikan manga ini sebagai koleksi, meskipun harganya lebih mahal. (Huh!)
Kalau begitu, sampai jumpa!
