I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level (Jilid 1-3)

I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level (Jilid 1-3)

Karya dari Yusuke Shiba (gambar) dan Kisetsu Morita (cerita asli) dengan desain karakter orisinal oleh Benio. Diterbitkan pertama kali tahun 2018 di Jepang oleh Square Enix Co., Ltd. dengan judul asli Slime Taoshite Sanbyakunen, Shiranaiuchi Ni Level Max Ni Nattemashita. Edisi Indonesia diterbitkan tahun 2021 oleh PT Elex Media Komputindo, terjemahan melalui Tuttle-Mori Agency, Inc.

Sebuah judul komik yang cukup panjang, kalau diartikan ke bahasa Indonesia menjadi Saya Telah Membunuh Slime Selama 300 Tahun dan Memaksimalkan Level Saya. Belakangan saya lihat versi anime manga ini di kanal Youtube Muse Indonesia dengan judul Tanpa Sadar Levelku Mentok Setelah Membasmi Slime Selama 300 Tahun. Menarik, judul resmi bahasa Indonesia versi anime lebih cocok dengan susunan yang disempurnakan. Bagi saya yang kemampuan bahasa Inggris kurang, jadi lebih mudah memahami dan mengingat, sayangnya versi komik tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Gambar: kover depan manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1, 2, dan 3 edisi Indonesia

Seperti yang selama ini sering terjadi, saya membeli komik bukan karena sudah tahu sebelumnya tapi karena saya datang ke toko buku dan menemukannya ada di sana. Saya bukan penggemar komik yang rajin mengikuti perkembangan informasi komik di internet, seperti kebanyakan orang dengan hobi sama, jadi saya sering kali tidak tahu jika beberapa komik merupakan adaptasi dari novel, game, dan sebagainya, ataupun telah populer di luar sana.

Alasan saya seperti itu adalah karena saya memfokuskan diri mengembangkan kemampuan membuat komik. Bukan berarti sepanjang waktu saya habiskan untuk belajar dan menggambar, tapi waktu jeda di antaranya saya pakai untuk kehidupan sosial. Saya tidak ingin pikiran saya dipenuhi dengan banyak informasi yang membuat saya lelah dalam mengembangkan diri, itulah kenapa saya tidak suka membaca daring selain karena tidak nyaman di mata.

Gambar: kover dalam berwarna manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1, 2, dan 3 edisi Indonesia

Beberapa kali ke toko buku saya selalu melihat manga ini, jilid 1, dan saya selalu tertarik melihatnya, mengamati, dan membaca uraian singkat (blurb) tapi urung membeli. Pada sekian kalinya akhirnya saya memutuskan membeli manga dengan judul panjang dan sulit diingat ini. Saya kesal karena seolah dia minta saya beli, memanggil-manggil dengan penampilannya yang menggoda, saya katakan, “awas kalau membuatku kecewa, komik sialan!”

Gambar: halaman daftar isi dan halaman pertama manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1

Ketika membuka segel lalu memasang sampul buku sebelum membacanya, saya senang karena ada halaman berwarna. Ketika mulai membaca, saya kaget dengan cerita pengantar komik ini yang hanya satu halaman, menarik! Kisahnya pun sederhana dan tidak bertele-tele, meski kalau dipikir-pikir maknanya bisa berat. Jadi saya mulai tertarik membaca manga ini. Inilah “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”, mari kita masuk!

Gambar: tokoh utama Aizawa Azusa di kehidupan kedua dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

“Azusa, seorang budak perusahaan yang mendedikasikan hidupnya untuk bekerja mati-matian… sampai mati betulan. Atas belas kasihan dewa, dia diberikan kehidupan kedua di dunia lain. Permintaannya adalah hidup abadi, dengan santai. 300 tahun berlalu.

Azusa yang dikenal sebagai Penyihir Dataran Tinggi tiap hari membunuh slime, dan tahu-tahu dia sudah jadi makhluk terkuat di dunia.” (Uraian singkat (blurb) manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1)

Saya baru tahu tulisan pada kover belakang buku disebut “blurb” yang dalam bahasa Indonesia adalah “uraian singkat” (terjemahan langsung, belum ada istilah khusus dalam KBBI).

Gambar: kemunculan tokoh naga (merah) menemui Azusa dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1

Karena sudah 300 tahun, tentu keberadaan Azusa tersebar ke seluruh penjuru dunia. Nama Azusa tersebar dengan gelar makhluk terkuat dengan sebutan Penyihir Dataran Tinggi, hal itu memancing penasaran orang/makhluk lain untuk membuktikannya, pertama adalah para petualang, yang dengan mudah kalah oleh Azusa. Kemudian datanglah naga, yang mengklaim diri terkuat sebangsanya, yang juga tak mampu mengalahkan Azusa.

Esok harinya, si naga menemui Azusa untuk membayar ganti rugi karena sudah merusak rumahnya di dataran tinggi. Azusa sempat tidak mengenali karena kali ini naga mengubah wujud sebagai manusia, namanya Raika.

Raika memohon (dengan memaksa) untuk menjadi murid Azusa karena ternyata kemampuannya selama ini ada yang bisa mengalahkan. Mereka pun menjadi guru dan murid dan tinggal bersama di rumah di dataran tinggi yang telah diperbaiki oleh Raika dengan mudah karena dia kuat.

Gambar: kemunculan tokoh Raika si Naga Merah dalam wujud manusia dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1

Beberapa hari kemudian seorang anak perempuan bernama Falfa tiba-tiba muncul di depan pintu rumah Azusa dan mengaku sebagai putrinya mengabarkan bahwa adiknya, Sharsha, hendak melakukan balas dendam. Singkat cerita, jiwa slime yang telah dibunuh Azusa selama 300 tahun menyatu menjadi anak manusia (perempuan, yang manis), Falfa dan Sharsha. Singkat cerita lagi Sharsha gagal mengalahkan Azusa sama sekali dan diterima sebagai anak lalu tinggal bersama pula di rumah di dataran tinggi.

Gambar: tokoh Falfa dan Sharsha (kakak beradik) dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

“Setelah bertemu naga, dan putri kembar yang manis, siapa lagi yang akan datang ke tempat sang Penyihir Dataran Tinggi? Karena ini dunia fantasi, pastinya harus ada elf dong. Iya, elf yang biasa jadi incaran orc itu.
Harukara, si elf pembuat ramuan stamina, memohon perlindungan karena dia dikejar-kejar oleh bangsa iblis yang nyaris mati karena salah obat.” (Uraian singkat manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 2)

Harukara yang memiliki badan serba montok, membuat Azusa sedikit iri, akhirnya diterima juga di rumah setelah memohon “dengan muka polos nan lemah tak berdaya” supaya bisa bersembunyi dari kejaran Beelzebub, bangsa iblis kelas atas.

Beelzebub sebenarnya sudah berkeliaran di dalam rumah Azusa tapi tidak pernah disadari karena wujudnya seekor lalat. Ketika ramuan yang dibawa Harukara lebih cepat habis selama tinggal di rumah, Azusa mulai curiga, saat itulah Beelzebub menampakkan diri sebagai sosok gadis cantik. Ia dijuluki “Raja Lalat” karena kemampuannya mengubah diri menjadi lalat, itu saja.

Gambar: kemunculan tokoh Beelzebub dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 2

Demi melindungi Harukara, Azusa memasang badan untuk bertarung melawan Beelzebub, mereka akan bertarung di angkasa supaya tidak banyak kerusakan. Namun, Beelzebub langsung lemas (demam, dan mual) setelah terkena perisai yang dipasang Azusa untuk melindungi rumah. Perisai itu ternyata juga aktif dari dalam, tapi selama ini tidak berpengaruh karena Beelzebub sudah berada di dalam rumah.

Beelzebub sekarat dan malah diselamatkan Azusa dengan sihir. Setelah siuman, Beelzebub menjelaskan kebenaran, bahwa ia memburu Harukara bukan untuk dibunuh, tapi karena ingin minta ramuan stamina yang dibuatnya. Kesalahpahaman selama ini bahwa Beelzebub keracunan dikoreksi dengan kejadian sebenarnya, ia meminum ramuan stamina untuk lembur lalu kelelahan (bukan keracunan).

Mereka pun menjadi sahabat, kali ini tidak bergabung di rumah, tapi Beelzebub bilang akan sering berkunjung dan membuka diri diundang.

Gambar: tokoh Flatorte si Naga Biru dalam wujud manusia dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

Suatu hari kakak Raika, keluarga naga, menikah dan Azusa sekeluarga menghadiri pesta. Keluarga Azusa di sini tentu tidak ada hubungan biologis sama sekali, mereka adalah yang tinggal serumah di dataran tinggi itu saja, yakni Azusa, Raika, Falfa, Sharsha, dan Harukara.

Di tengah berlangsungnya pesta pernikahan Naga Merah (keluarga Raika), datanglah kelompok pengacau dari bangsa Naga Biru. Singkat cerita para Naga Biru dikalahkan dengan mudah oleh Azusa setelah terjadi pertarungan antar naga yang tak ada habisnya. Kelompok naga biru pengacau ini dipimpin oleh Flatorte, yang namanya berkali-kali salah disebut oleh Azusa, ia mengacau pernikahan kakak Raika karena cemburu masih jomblo.

Gambar: keluarga Penyihir Dataran Tinggi menikmati pemandian air panas di kota naga dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

Di sisi lain, beberapa naga biru disegel oleh Beelzebub yang kebetulan mengunjungi pemandian air panas di wilayah tersebut. Mereka semua bertemu dan akhirnya mandi bersama-sama. Ya, mandi bersama-sama di pemandian air panas yang membuat tubuh siapa pun menjadi “panas” seperti dalam gambar di bawah ini.

“Keluarga Azusa terus bertambah, dan kehidupannya yang tak berubah selama 300 tahun pun mulai bergerak. Tapi, ada pertemuan ada pula perpisahan. Akhirnya Harukara berencana untuk membuka pabrik baru di kota lain. Akankah si elf pergi?
Ah, tapi tidak semudah itu, karena tanah yang dia beli untuk membangun pabriknya ternyata properti bermasalah.” (Uraian singkat manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 3)

Gambar: keluarga Azusa menjadi kover bab 8 manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

Sekarang desa tempat tinggal Azusa sedang mengadakan festival tahunan. Azusa si Penyihir Dataran Tinggi, yang lebih tua dari festival itu sendiri dikenal secara turun-temurun, tidak pernah mau ikut berpartisipasi, ia hanya menghadiri saja. Tahun ini, karena punya anggota keluarga, dia mau berpartisipasi setelah dibujuk dan memutuskan membuka kafe du rumah selama festival. Kafe mereka sangat ramai melebihi perkiraan, semua orang ingin datang karena ini kejadian langka. Selain itu mereka ingin melihat Azusa dan keluarga dalam pakaian pelayan.

Gambar: keluarga Penyihir Dataran Tinggi dengan pakaian pelayan pada festival desa dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level”

Setelah itu, beberapa hari kemudian, Harukara ketahuan akan pergi dari rumah, mereka sudah merencanakan perpidahan dengan sangat sedih. Tapi kemudian terbongkar bahwa Harukara hanya bermaksud membangun pabrik di daerah lain. Rencana itu sulut terwujud karena bangunan yang ia beli ternyata berhantu, membuat tidak ada orang yang mau bekerja di sana. Karena keluarga Azusa tidak ada yang berani melawan makhluk halus, mereka memanggil Beelzebub.

Beelzebub menangkap dengan mudah si hantu yang ternyata adalah arwah gentayangan, bernama Rosalie, putri pemilik sebelumnya. Singkat cerita, Rosalie juga bergabung dengan keluarga Azusa dan dipindah ke rumah di atas dataran tinggi supaya bangunan pabrik Harukara bisa beroperasi.

Gambar: kemunculan tokoh Rosalie dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 3

Begitulah cerita singkat dari 3 jilid manga ini. Sebenarnya ada banyak sekali cerita-cerita kecil atau lebih detail dari yang saya tulis, sangat menarik untuk diikuti. Saya rekomendasikan Anda untuk membaca meski sudah saya bocorkan garis besarnya karena keseruannya tetap ada di dalam.

Saya suka manga ini karena penyampaiannya mudah dan segar, tidak rumit dan lambat seperti kebanyakan manga. Mungkin tergantung tema, tapi saya merasa ini cocok dengan era sekarang, di mana banyak pembaca yang suka bermain gim dengan alur mirip. Saya tidak bisa bicara banyak soal itu karena saya sendiri awam.

Gambar: komik ekstra (bonus) dalam manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 3

Pada akhir setiap jilid buku juga ada komik bonus dalam format 4 panel (4 koma) atau komik strip. Isi dari komik bonus ini kebanyakan adalah alternatif lain dari cerita inti komik. Saya suka ide seperti itu dan menurut saya setiap pengarang pasti punya cerita alternatif ini, biasanya ke menjadi humor karena dijadikan bonus atau hiburan tambahan.

Gambar: halaman ucapan terima kasih dari pengarang manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1 dan 3

Ada pula halaman yang disediakan untuk pengarang menyapa pembaca, seperti kebanyakan manga. Saya juga suka bagian seperti ini karena jadi sedikit mengetahui tentang pembuatan manga dan bagaimana perasaan komikusnya.

Omong-omong, saya sangat yakin ilustrasi manga ini dibuat di komputer (digital) bukan secara tradisional (di atas kertas). Bukan masalah, gambar karakternya sangat bagus dan sempurna dalam banyak bagian. Namun, untuk latar belakang saya rasa kurang, banyak bagian yang digambar dengan sederhana. Manga ini memfokuskan diri ke tokoh, ilustrasi tokoh, dan cerita, sehingga wajar sebenarnya jika latar belakang gambar tidak terlalu detail.

Sekian, terima kasih, dan sampai jumpa!

Gambar: kover belakang manga “I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level” jilid 1, 2, dan 3 edisi Indonesia

Sekalian saya tulis supaya tersimpan mengenai blurb. Pada kover belakang setiap buku ada uraian singkat tentang isi buku, sebelum membeli biasanya kita membacanya, kalau tidak tertarik dan merasa tidak cocok kita bisa melupakan buku itu lalu pindah ke buku lain. Tulisan pada bagian belakang buku disebut blurb (bahasa Inggris) atau uraian singkat dalam bahasa Indonesia. perlu diketahui, Blurb bukan sinopsis, jadi ketika membacanya kita tidak sedang membaca garis besar cerita.

Sinopsis adalah ringkasan cerita yang berisi seluruh adegan sehingga membentuk tema cerita (pengertian sesuai KBBI). Blurb adalah penjelasan singkat mengenai sebuah buku yang diletakkan pada bagian belakang buku untuk membuat calon pembaca penasaran dan tertarik membaca buku tersebut.

[Tambahan tidak terlalu penting: saya berhasil menghafal judul komik ini karena sering menulisnya. Tidak hanya di pos ini, tapi ketika mengobrol pun saya punya kebiasaan menyebut sebuah judul dengan lengkap dan benar. Saya juga suka menyimpan kontak dengan nama lengkap seseorang.]

I’ve Been Killing Slimes for 300 Years and Maxed Out My Level

Tinggalkan komentar