Daily Lives of High School Boys (Jilid 1-3)

Daily Lives of High School Boys (Jilid 1-3)

Judul asli manga ini adalah Danshi Koukousei No Nichijou oleh Yasunobu Yamauchi, terbit pertama kali di Jepang pada tahun 2010 oleh Square Enix Co., Ltd. Terjemahan bahasa Indonesia diatur oleh Square Enix Co., Ltd. melalui Tuttle-Mori Agency, Inc., diterbitkan pertama kali tahun 2020 (vol. 1) dan 2021 (vol. 2 dan 3) oleh PT Elex Media Komputindo.

Saya ingat ketika masih kuliah, mungkin tahun 2013, seorang teman saya menonton anime adaptasi dari manga ini. Dari sanalah saya mengenal judul ini dan mengingatnya, Danshi Koukousei No Nichijou, untuk membedakan anime lain yang berjudul mirip, Nichijou. Ketika edisi Indonesia manga ini akhirnya muncul saya membelinya karena akan memakainya sebagai referensi membuat komik. Sebenarnya jika Nichijou juga diterbitkan edisi Indonesia saya pun akan langsung membeli untuk koleksi dan referensi juga. Semoga hal itu segera terwujud.

Gambar: kover depan manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 1-3

Fisik manga ini masih memakai mode “murah” untuk edisi Indonesia, yakni kertas tipis dan ukuran kecil. Bukan masalah bagi saya, justru, untuk yang ini karena menurut saya ini cukup, dan akan terlalu mahal jika memakai kertas tebal dan ukuran besar. Rata-rata jumlah halaman tiap jilid adalah 140 halaman. Batas usia yang dicantumkan adalah untuk 15 tahun ke atas.

Manga Daily Lives of High School Boys bercerita tentang keseharian sekelompok siswa SMA, sesuai judulnya, yang tidak jelas dan acak baik di dalam atau luar sekolah. Sepertinya memang tidak ada tujuan penting/utama/besar/jelas yang dilakukan oleh kelompok siswa SMA ini, makanya disebut pencarian jati diri dalam sinopsis jilid 1.

Gambar: salah satu isi manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 1

“Kisah tentang sekelompok anak laki-laki gila dari SMA Sanada yang sedang mencari jati diri, lengkap dengan komedi dan petualangannya.” (Dikutip dari bagian belakang manga Daily Lives of High School Boys jilid 1)

Jilid pertama ini sebenarnya adalah pengenalan karakter/tokoh. Namun, berbeda dengan manga pada umumnya, di sini langsung masuk dalam salah satu aktivitas para tokoh, dan tidak ada narasi. Tokoh juga tidak diperkenalkan dengan detail, bahkan mungkin memang sengaja tidak diperkenalkan. Anehnya, pembaca bisa mulai mengerti karakter beberapa tokoh dengan mengikuti alur cerita tiap bab.

Gambar: salah satu potongan manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 1

“Sebenarnya tidak perlu diucapkan lagi, tapi ini merupakan komik yang disukai oleh orang yang menyukainya. Kalau nggak suka komik ini, ya, nggak suka. Tapi, rugi sekalau kalau sudah nggak suka sebelum coba membacanya! Inilah volume 2 dari kisah keseharian cowok SMA, yang sempat heboh di internet!” (Dikutip dari bagian belakang manga Daily Lives of High School Boys jilid 2)

Gambar: salah satu tokoh cewek dalam manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 2

Kesal rasanya membaca kalimat yang disematkan pada kover belakang manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 2 ini. Tapi, itu memang benar, dan saya suka ide itu.

Dalam jilid 2, muncul tokoh cewek dari sekolah lain, SMA khusus perempuan, memasuki SMA Sanada yang semuanya cowok. Saya tidak menduga ceritanya bakal berbeda dengan yang ada dalam pikiran saya. Ketegangan kedua pihak, yang sama-sama menjunjung harga diri, berujung pada kesimpulan bahwa SMA khusus anak laki-laki lebih elegan daripada SMA khusus anak perempuan, yang ternyata perilaku mereka tidak ada manis-manisnya di dalam sana. Yang saya pahami adalah bahwa siswi-siswi ini sikapnya jauh berbeda jika tidak ada laki-laki di sekitar, mereka lebih “gila” daripada anak laki-laki (siswa). Itu pendapat saya karena membaca manga ini.

Gambar: cuplikan isi manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 2

Manga ini memang komedi, banyak kejadian konyol tak terduga pembaca. Selain itu, ciri khas yang menjadikan manga ini unik, menurut saya, adalah gestur karakter yang tidak luwes justru menguatkan rasa komedi itu. Saya tertarik teknik ini.

“Hampir nggak ada tokoh utamanya. Hampir semua tokoh ceweknya nggak berwajah. Menghancurkan bendera kisah cinta. Tapi, entah kenapa bisa sangat populer! Inilah volume ke-3 dari kisah keseharian cowok SMA, yang sempat menghebohkan dunia maya! (Dikutip dari bagian belakang manga Daily Lives of High School Boys jilid 3)

Gambar: adegan dalam manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 3

Ide “hampir semua tokoh ceweknya nggak berwajah” sangat bagus, menurut saya akan jauh lebih menarik jika dibuat sama sekali tidak ada tokoh perempuan yang wajahnya ditunjukkan. Tapi, dalam 3 jilid manga “Daily Lives of High School Boys” cukup banyak cewek yang berwajah.

Soal “hampir nggak ada tokoh utamanya” saya sangat setuju. Sampai sejauh ini, 3 jilid, saya masih kesulitan mengenali masing-masing tokoh. Yang ada dalam benak saya hanyalah kelompok siswa SMA dengan keseharian mereka yang tidak jelas, itu saja. Dan saya tidak peduli dengan tokohnya, saya akan bisa mengenali kembali beberapa tokoh dalam salah satu cerita dengan mengingatnya dari bab sebelum-sebelumnya. Saya pikir juga tidak penting mengingat masing-masing karakter, sepertinya itulah alasan pengarang tidak memperkenalkan tokoh.

Gambar: salah satu halaman manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 3

Sebelum mulai membaca, saya melihat penerbit pertama manga ini adalah Square Enix. Belakangan saya menemukan beberapa manga terbitan Square Enix di Indonesia, dan saya mulai mengenali gaya manga yang mereka terbitkan. Lalu, “Daily Lives of High School Boys” ini semakin meyakinkan saya akan gaya khas mereka itu. Gaya tersebut adalah komedi yang menertawakan kebiasaan lain, misal “biasanya adegan ini sering muncul dalam manga/anime”. Beberapa gaya gambar dan alur cerita juga mirip, manga terbitan Square Enix, itu membuatnya memiliki ciri khas lagi. Saya pikir apa yang mereka lakukan sangat baik dalam memasuki pasar. Mungkin Square Enix memang tidak mencari keuntungan utama dari manga, makanya mereka bisa menerbitkan manga sesuka hati dan ternyata malah menarik pembaca.

Gambar: kover belakang manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 1-3

Itulah pendapat saya tentang manga “Daily Lives of High School Boys” jilid 1-3. Saya tidak mengagumi atau mengidolakan manga ini, tapi saya menjadikannya referensi dalam membuat komik. Omong-omong, mulai bulan ini saya kembali fokus membuat komik dan berencana menerbitkan sebanyak mungkin. Saya sudah mengundurkan diri dari tempat kerja saya sebelumnya. Kali ini saya sangat berambisi mewujudkan mimpi setelah sempat menyingkirkannya selama bekerja dalam perusahaan, menjadi karyawan.

Sampai jumpa lagi!

Tinggalkan komentar