Solanin

Solanin

Terbit pertama kali di Jepang pada tahun 2006 oleh Shogakukan dengan judul yang sama, Solanin, karya dari Inio Asano. Terjemahan Indonesia diatur oleh Shogakukan melalui The Kashima Agency, diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C pada tahun 2015 (cetakan pertama tahun 2016). Manga ini hanya ada 2 jilid selesai.

Saya membaca manga ini dipinjami seorang teman, dia merekomendasikannya sejak lama tapi saya baru melakukan ketika dia mengatakan ketiga kali dalam jangka waktu yang masing-masing sangat panjang. Melihat kovernya saja saya merasa memang ini manga selera teman saya tersebut, setelah mulai membaca beberapa halaman awal saya semakin yakin. Sekarang mari kita lihat!

Gambar: kover depan manga “Solanin” jilid 1 dan 2

Pertama, kover dua jilid manga ini, baik depan maupun belakang, seolah bisa membuat gambar menyambung ketika dijajarkan. Saya sempat terkecoh ketika mencoba menempelkan kover depan jilid 1 dan kover depan 2; kover depan jilid 1 dan kover belakang jilid 2, kover belakang jilid 1 dan kover belakang jilid 2; dan kover belakang jilid 1 dan kover depan jilid 2. Namun, ternyata yang benar adalah meluruskan kover depan-belakang jilid 1 lalu disambung kover depan-belakang jilid 2 yang juga diluruskan, artinya kover belakang jilid 1 dan kover depan jilid 2 juga benar menyambung.

Gambar: kover depan dan belakang manga “Solanin” jilid 1 dan 2 dijajar

Sekarang kita lihat ceritanya…

Rapsodi masa muda kami yang hidup di masa kini yang buram tak terbatas~ Sepotong kisah cinta pahit-manis antara Taneda dan Meiko yang sudah 2 tahun terjun ke masyarakat~ Komik Populer yang mengundang simpati dan haru dari berbagai kalangan, menembus batas gender dan generasi!! (Dikutip dari bagian belakang kover manga “Solanin” jilid 1)

Gambar: kehidupan tokoh utama yang membosankan di apartemen dan rutinitas kerja di kota dalam manga “Solanin”

Tokoh utama manga ini adalah Taneda dan Meiko, mereka pacaran dan diam-diam tinggal bersama di apartemen di Tokyo, keduanya sudah bekerja. Keseharian mereka membosankan seperti pekerja pada umumnya di kota besar dengan rutinitas dan gedung dan kendaraan. Meiko yang bekerja di sebuah kantor tiba-tiba memutuskan mengundurkan diri dan ingin menikmati hidup, tidak ada tujuan jelas setelahnya. Sedangkan Taneda bekerja sebagai ilustrator lepas di sebuah studio desain.

Gambar: aktivitas hobi dan hiburan para tokoh dalam manga “Solanin”

Taneda dan Meiko memiliki tiga sahabat seusia, satu orang bekerja di apotek keluarga, satunya bekerja di toko pakaian sebagai pelayan, satu lagi masih belum menyelesaikan kuliah, menjadi mahasiswa senior. Mereka suka bermain musik, biasanya menyewa studio untuk hobi itu, kecuali Meiko, Taneda adalah vokalis sekaligus gitaris. Mereka semua sering berkumpul, baik untuk bermusik maupun makan-makan atau lainnya. Meski tampak seru dan tertawa bersama-sama, sebenarnya mereka memiliki kegelisahan yang mirip, ini tentang hidup, mereka melakukan semua ini sebagai bagian dari kehidupan di Tokyo saja. Mereka sebenarnya juga sadar kalau hidup ini membosankan, tapi mau bagaimana lagi?

“Dari apa yang kulihat, orang-orang dewasa itu hanyalah kumpulan orang yang berpikir “yah sudahlah.”.” (Dikutip dari manga “Solanin” jilid 1)

Gambar: tokoh Taneda dalam perjalanan dengan skuter sebelum kematian dalam manga “Solanin”

Kedamaian yang menjemukan, hari-hari malas terus berlanjut, kota yang dialiri sungai, dan kami yang beranjak dewasa… Komik yang menuai dukungan deras dari seluruh Jepang! Bagian kedua sekaligus terakhir dari rapsodi masa muda anak manusia yang diam-diam namun pasti menyentuh hati pembacanya… (Dikutip dari bagian belakang kover manga “Solanin” jilid 2)

Gambar: sahabat Taneda yang sangat sedih pasca kematian Taneda dalam manga “Solanin”

Suatu hari salah satu dari mereka meninggal dunia, dan itu adalah Taneda si tokoh utama. Meiko yang adalah pacarnya tentu saja sangat sedih, hidupnya semakin tidak ada harapan, sedangkan sahabat yang lain harus menghibur Meiko padahal mereka sendiri sangat sedih. Kegiatan bermusik mereka juga tidak lagi bisa berjalan, banyak hal menjadi kacau. Taneda mati tepat setelah menelepon Meiko, sebelumnya ia sempat menghilang dan hari itu berencana pulang menemui Meiko, dalam perjalanan, menaiki skuter, Taneda melamun dan terganggu pikirannya sendiri lalu kecelakaan tunggal.

Gambar: latar belakang foto nyata kota Tokyo dan tokoh Meiko dalam manga “Solanin”

Meiko yang kini merasa tidak punya apa-apa untuk diperjuangkan menjalani hidup dengan semakin tidak jelas, meski ia sempat mendapat pekerjaan baru yang kecil, di sebuah toko bunga, Meiko tetap seperti Meiko sebelumnya. Ketiga sahabat mencoba menghibur dan memberi saran diantara kesedihan mereka masing-masing.

Suatu hari, Meiko tiba-tiba bertekad menghidupkan kembali musik mereka yang bubar dengan menggantikan Taneda, menjadi vokalis dan gitaris, padahal Meiko sama sekali tidak bisa menyanyi dan memainkan gitar.

Gambar: Meiko dan grup band tampil emosional pada konser di kampus dalam manga “Solanin”

Sebuah kesempatan tampil datang untuk mereka, konser di kampus, Meiko berusaha keras berlatih gitar dan menyanyikan lagu ciptaan Taneda yang merupakan inspirasi Meiko untuk melakukan keputusan ini setelah mendalami liriknya. Waktu mereka terbatas, namun pada akhirnya mereka berhasil melakukan konser dengan sangat emosional. Bagi mereka ini bukan konser untuk menggapai masa depan/karier, tapi cukup untuk mengekspresikan perasaan mereka yang sangat kalut selama ini.

Gambar: kover belakang manga “Solanin” jilid 1 dan 2

Itulah cerita singkat dalam manga “Solanin” ini. Saya sebenarnya tidak terlalu merasa “wah” setelah membacanya, meski ada kejadian tokoh utama mati juga. Menurut saya, pada akhirnya, saya beranggapan “yah sudahlah”, bisa jadi saya sebenarnya terhanyut alur yang memang terasa seperti itu. Tapi manga ini memang cukup unik, terasa sebuah karya ekspresif daripada mengikuti industri manga.

Saya juga ucapkan terima kasih kepada teman saya yang merekomendasikan manga ini. Saya memang tidak merasakan sesuatu yang luar biasa, tapi saya sangat menikmati dan suka dengan keberanian pengarangnya membuat cerita yang realistis dan menyentuh. (Tepuk tangan)

Untuk gaya gambar cukup bagus dan unik, pembagian panel dan balon kata juga nyaman dibaca. Tapi beberapa bagian latar belakang sepertinya memakai foto asli, bukan digambar, tapi sepertinya itu memang sengaja untuk menunjukkan kenyataan dunia ini.

Sekian pos kali ini, kalau Anda merasa terganggu dengan bocoran alur cerita seperti ini sila sampaikan di kolom komentar atau kontak langsung. Sampai jumpa!

Tinggalkan komentar