The Birds of Death

The Birds of Death

Manga ini hanya ada 3 jilid, tamat, “The Birth of Death” karya Dr. Im, terbit pertama kali di Jepang pada tahun 2018 oleh Shueisha Inc. dengan judul “Shinotori”. Edisi Indonesia diatur oleh Shueisha Inc. melalui International Buyers Agent Ltd. Hak cipta terjemahan Indonesia tahun 2020 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2021 oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C imprint Akasha.

Saya membeli jilid pertama manga ini di kota Madiun, provinsi Jawa Timur, saat itu saya baru menghadiri pernikahan sepupu di kota Ponorogo sekaligus mengunjungi keluarga di sana. Tidak ada stasiun di Ponorogo, sehingga harus naik bus ke stasiun terdekat di Madiun. Sambil menunggu jam keberangkatan, sudah saya rencanakan, saya mampir ke toko buku dan membeli satu komik dan satu novel. Setahun yang lalu itu pandemi Covid-19 sedang tinggi, kami harus melakukan tes kesehatan di stasiun memakai alat Genose (sekarang tidak ada) yang telah disediakan pemerintah.

Sekarang mari kita mulai membahas manga ini!

Gambar: kover depan manga “The Birds of Death” jilid lengkap

Pesawat yang ditumpangi Akeboshi Kurou, seorang tahanan yang hendak transfer penjara dibajak oleh gerombolan bersenjata! Kurou yang pada saat itu pergi ke kokpit untuk menyelamatkan gadis kecil yang disandera, kemudian melihat pemandangan yang bagaikan mimpi buruk. (Dikutip dari bagian belakang kover manga “The Birds of Death” jilid 1)

Gadis kecil yang disandera itu bernama Toki, dan mimpi buruk yang terjadi di pesawat adalah serangan sosok mirip burung sebesar manusia dan kawanan burung asli. Sosok burung besar tersebut sangat mengerikan dan mematikan seperti wujudnya, dia menyerang manusia dan benar-benar membunuh dengan sadis, mencabik-cabik sampai hancur. Untuk mempermudah, saya akan memakai istilah “monster” untuk manusia yang telah terinfeksi dan menjadi kejam ini.

Gambar: tokoh Kurou dan kejadian di dalam pesawat dalam manga “The Birds of Death” jilid 1

Pesawat itu jatuh, dan Toki ternyata juga manusia burung tapi bersifat baik (tidak menyerang manusia), ia menyelamatkan Kurou dengan sayapnya. Mereka mendarat di dataran tinggi, semacam area wisata. Di sana pun burung sudah menyerang pengunjung dan membuat mereka menjadi manusia burung jahat (monster). Bersama satu orang lagi (gadis, wisatawan) yang selamat bernama Haru, mereka menuju kota untuk mencari pertolongan. Selamat sementara dari kejaran monster burung di atas, mereka justru mendapati kota yang sudah hancur di bawah, tidak ada manusia. Akhirnya mereka menemukan gedung sekolah yang dipakai tempat evakuasi warga, di sana ada seorang dokter muda bernama Asanoda (laki-laki).

Gambar: adegan penyerangan monster burung di area wisata dalam manga “The Birds of Death” jilid 1

Dalam buku jilid 1 ini ada penjelasan tentang manusia burung yang diletakkan pada halaman belakang, setelah isi komik selesai. Informasi ini memudahkan pembaca untuk memahami cerita lebih mudah. Selain penjelasan dalam bentuk kata-kata, disertakan pula ilustrasi seluruh tubuh yang semakin mempermudah pembaca mendapat bayangan visual. Penjelasan dan gambaran di sini berisi tentang jenis burung apakah yang menginveksi tubuh manusia ini sebelumnya hingga mereka menjadi monster “pembunuh”, misalnya burung gagak yang suka mencabik daging dan burung cendet yang suka menancapkan mangsa pada ranting (mirip sesajen).

Di sini penerbit menulisnya “sesaji”, karena penasaran apa makna sebenarnya dan apakah penulisannya tepat saya pun mengecek di KBBI. Ternyata “sesaji” itu salah, yang benar “sesajen” atau “sajen”, yaitu makanan yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya.

Gambar: halaman penjelasan tentang beberapa jenis monster burung disertai ilustrasi dalam manga “The Birds of Death” jilid 1

Setelah meninggalkan sekolah tempat evakuasi, Kurou dkk tiba di penginapan yang terletak di bukit. Namun, sebelum bisa bernapas lega, Toki jatuh sakit akibat pneunomia. Untuk menolong Toki, Kurou dkk pergi ke rumah sakit tempat Asanoda dulu bekerja untuk mengambil obat yang diperlukan. Dalam rumah sakit yang telah hancur, sesuatu menunggu mereka… (Dikutip dari bagian belakang kover manga “The Birds of Death” jilid 2)

Sekali lagi saya cek KBBI, yang benar singkatan dari “dan kawan-kawan” adalah dkk. (pakai tanda titik), semoga penerbit tidak melakukan kesalahan ini lagi.

Gambar: monster burung pelatuk mengambil bola mata korban dalam manga “The Birds of Death” jilid 2

Di rumah sakit tak kalah mengerikan, karena pada dasarnya pandemi ini sudah menyebar di semua kota, ada monster burung jenis pelatuk yang suka mengumpulkan bola mata. Monster ini memiliki kekuatan fisik yang luar biasa karena bawaan burung pelatuk yang bahkan mampu melubangi pohon, ketika bertransformasi maka mereka memiliki tulang sekeras baja. Kurou ke sana bersama dr. Asanoda dan dua warga dari penginapan. Supaya bisa mengambil obat mereka harus melawati monster ini, karena putus asa sempat ada pengkhianatan di antara mereka.

Setelah berhasil kembali ke penginapan membawa obat, mereka mendapat panggilan telepon dari seseorang yang menyebut diri Scarecrow, penjaga burung yang hanya bisa memonitor dari jauh. Scarecrow menyebut manusia yang terinfeksi lalu menjadi burung pemangsa dengan nama “Garula”, ia meminta Kurou membawa Toki ke Tokyo karena anak ini adalah vaksin untuk menghentikan pandemi.

Gambar: adegan pertarungan Kurou dkk. melawan garula di Osaka dalam manga “The Birds of Death” jilid 2

Dalam perjalanan menuju Tokyo, Kurou, Toki, Haru, dan dr. Asanoda mendapat masalah di Osaka. Kota itu adalah kota terpadat kedua, jadi manusia yang telah menjadi Garula (monster burung) tentu sangat banyak, dan jenis yang menguasai wilayah itu adalah burung hantu. Di sana mereka bertemu Kujo dan Kippei, orang yang belum terinfeksi. Kippei berjuang membasmi Garula karena kakaknya telah menjadi pimpinan monster, sedangkan Kujo seorang polisi rekan Kurou.

Haru diculik burung hantu. Kurou yang dihadapkan pada pilihan untuk mengutamakan mengantar Toki ke Tokyo dan membiarkan Haru begitu saja, menyatakan ingin menyelamatkan Haru. Kurou dan kawan-kawan masuk ke sarang musuh dan berhasil menyelamatkan Haru. Namun, muncul adik Kurou di hadapan mereka! Inilah volume akhir dari panggung horor dan kepanikan yang menegangkan! (Dikutip dari bagian belakang manga “The Birds of Death” jilid 3)

Gambar: adegan kilas balik keluarga Kippei dalam manga “The Birds of Death” jilid 3

Misi menyelamatkan Haru menjadi emosional karena Kippei harus berhadapan dengan kakaknya sendiri yang telah menjadi monster. Orang-orang yang diculik dijadikan cadangan makanan untuk bayi-bayi “burung hantu” yang bersarang di menara.

Di sini juga sempat ada kilas balik kehidupan keluarga Kippei, tentang ayahnya yang terinfeksi, kakak Kippei yang menyelamatkan Kippei, dan impian mereka.

Gambar: kemunculan adik Kurou dalam manga “The Birds of Death” jilid 3

Adik Kurou, bernama Noki yang selama ini hilang, tiba-tiba muncul. Noki dan Toki memiliki wajah yang sangat mirip, namun sifatnya kini bertolak belakang, jika Toki sangat baik dan ingin menyelamatkan semua orang maka Noki sangat jahat dan ingin menghancurkan semuanya. Noki memang bisa dikatakan awal dari bencana ini, sedangkan Toki yang memang klonanya bisa menghentikan pandemi. Keduanya (saat ini) memang memiliki darah untuk mencemari dan menetralkan.

Cerita selengkapnya dan akhir dari manga ini sebaiknya Anda membaca sendiri, karena tidak etis jika saya beberkan semuanya di sini, saya hanya menyampaikan garis besarnya saja untuk referensi.

Gambar: halaman Laporan Penelitian Scarecrow dalam manga “The Birds of Death” jilid 3

Jilid ketiga merupakan volume terakhir manga “The Birds of Death”, setelah cerita selesai ada penjelasan bagaimana pandemi virus burung yang mengubah manusia menjadi monster (Garula) ini, dengan sudut pandang tokoh Scarecrow, dalam Laporan Penelitian Scarecrow. Di sini dijelaskan dari mana asalnya, bagaimana perkembangannya, hingga bagaimana reaksi terhadap tubuh manusia.

Sekali lagi, penjelasan seperti ini sangat memudahkan pembaca untuk memahami cara kerja virus dan latar belakangnya, bukan hanya mengikuti cerita yang disuguhkan.

Awalnya saya kira manga ini bakal panjang, mungkin 9-13 jilid, ternyata hanya 3 sudah selesai. Bukan masalah, tapi dengan masalah yang begitu besar dan masalah turunan yang banyak pula, saya kurang puas hanya disampaikan dalam 3 jilid. Saya merasa banyak bagian cerita yang terasa dipercepat, misalnya aksi Noki (adik Kurou) ketika bermaksud menghancurkan semuanya padahal dialah penyebab semua ini. Di sisi lain, porsi cerita terasa terlalu banyak, misal tentang Kippei dan kakaknya, saya merasa tidak membutuhkan informasi ini.

Gambar: kover belakang manga “The Birds of Death” jilid lengkap

Untuk gambar/ilustrasi cukup bagus, memang agak terasa berbeda antara bab 1 jilid 1 dan bab terakhir jilid 3, bukan masalah. Secara keseluruhan tidak ada masalah juga dalam ilustrasi, desain karakter, efek, balon teks, panel, efek suara, dan corak (tone). Manga ini memang bergenre dewasa (tertera di kover belakang), jadi banyak adegan sadis seperti darah dan bagian tubuh yang rusak.

Tema bencana virus mengerikan dalam manga ini, ketika saya membaca, sedikit berhubungan dengan situasi dunia nyata saat ini: pandemi Virus Korona (Covid-19) yang juga memakan banyak korban. Saya mulai menulis pos ini di sela bekerja di kantor karena suasana kerja sedang buruk. Tempat kerja saya juga salah satu yang kena dampak pandemi Covid-19, meski tidak langsung, sebagian besar karyawan harus bekerja dari rumah, sistem tidak berjalan dengan baik berimbas pada proyek dan keuangan kemudian karyawan mengundurkan diri untuk mengejar bayaran yang lebih stabil di perusahaan lain. Akhirnya sekarang tinggal beberapa orang dan beberapa posisi kosong. Sekali lagi, pandemi ini membuat kita belajar banyak hal, membuat kita mawas diri.

Pandemi Covid-19 sendiri di Indonesia sudah lebih terkontrol, ditangani dengan cukup baik dan vaksinasi berjalan lancar. Kini untuk pergi ke tempat umum sudah lebih mudah meski tetap menerapkan protokol kesehatan dan pendaftaran pengunjung memakai aplikasi ponsel pintar (scan QR code Peduli Lindungi). Saya rasa banyak masyarakat dipaksa belajar disiplin menjaga kebersihan diri, kesehatan, dan tertib mengantre. Selain itu banyak pula instansi dan awam bekerjasama dalam jarak jauh memakai teknologi. Saya pikir kehidupan dan budaya modern kami justru berkembang lebih cepat daripada dalam kondisi normal, itu hal positif.

Sekian pos kali ini, sampai jumpa!

Tinggalkan komentar