Memiliki judul asli Akudou Bunko, oleh Matoi Tanaka. Terbit pertama kali di Jepang tahun 2016 oleh Shueisha Inc. Terjemahan bahasa Indonesia melalui Buyers Agent Ltd. hak cipta tahun 2020. Diterbitkan di Indonesia pertama kali tahun 2021 oleh PT Gramedia Pustaka Utama (M&C), imprint: Akasha. Manga ini hanya ada satu jilid tamat.

Seorang novelis tiba-tiba menghilang begitu novelnya laku keras di pasaran. Novel abnormal yang dia tulis telah menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang editor muda bernama Akisato Kodama. Akisato pun mencari novel tersebut dan berusaha membujuknya kembali menulis novel.
Komik ini menghadirkan berbagai cerita yang menggambarkan diri manusia yang sesungguhnya ketika mereka “jatuh” akibat beragam emosi yang meluap; nafsu, cemburu, cinta dan kebencian. (Dikutip dari bagian belakang buku cetak manga The Evil Collection edisi Indonesia)

Awalnya saya kira buku ini berisi kumpulan manga bertema misteri, tragedi, atau horor. Mungkin karena ada kata “collection” pada judulnya sehingga saya berpikir demikian. Ketika membaca beberapa halaman awal saya mulai mengerti, manga ini berisi kumpulan aksi “aneh” dari tokoh utama: si novelis. Dia punya minat mengolah emosi orang lain dan akan “senang” ketika orang itu jatuh dalam kenyataan diri sesungguhnya yang selama ini ditutupi. Kegiatannya ini mirip dengan membuka rahasia seseorang dengan mengatakannya secara gamblang tanpa saringan. Beberapa kejadian tampak seperti emosi orang itu sedang dipermainkan, sih.

Novel yang sempat diciptakan tokoh utama ini isinya pun tidak wajar, bukan seperti novel pada umumnya. Ia sendiri sebenarnya ragu apakah bisa itu disebut novel, karena katanya ditulis begitu saja. Nah, novel yang aneh tersebut ternyata terwujud akibat sang novelis menyaksikan kejatuhan seseorang dengan sangat dalam. Hal itu seolah dia telah mendapat asupan ide yang hebat, mungkin bisa dibilang juga dia jadi “kesetanan” ketika menulis novel itu.

Akisato Kodama, si editor muda, yang mengagumi novel abnormal itu tidak sengaja menemukan tempat persembunyian sang novelis yang selama ini menghilang. Niatan Akisato membujuk si novelis menulis novel lagi terus ditolak berpuluh-puluh kali. Namun Akisato tetap mengusahakan dengan halus, dengan selalu berkunjung dan mengikuti beberapa aktivitas novelis. Ah, si novelis itu namanya Tobayama Shinri, supaya mudah selanjutnya saya akan menyebutnya Tobayama saja.

Di sinilah akhirnya Akisato menyaksikan, dan terkadang ikut terlibat, aksi Tobayama yang hobi mempermainkan emosi orang. Tobayama ini orangnya mudah membaca karakter orang lain hanya dengan sekali pandang, lebih tepatnya pengamatan singkat tapi mendalam dan tepat. Kemungkinan kemampuannya itu semakin terasah seiring berjalannya hobi itu. Kalimat yang saya tandai di komik ini adalah, “Dari gerakan bisa diketahui tujuan. Dari kata-kata bisa terlihat kepribadian. Dari ekspresi bisa terlihat isi hari dan pikiran.”, itu kata-kata Tobayama Shinri yang sangat mewakili karakternya.

Saya sempat sangat tertarik pada manga ini, berharap akan menemukan banyak kenyataan pahit diungkap olah Tobayama. Tapi, begitu menjelang akhir, kemunculan kembali masa lalu Tobayama membuat minat saya justru menurun, terlebih manga ini diakhiri dengan hal tersebut. Itu bukan masalah seandainya manga ini terus berlanjut beberapa jilid dengan masalah yang semakin dalam. Menurut saya kenyataan yang diungkap Tobayama sejauh ini masih sederhana.

Mengenai kualitas fisik manga The Evil Collection edisi Indonesia, setelah membaca isinya, sudah tepat dan baik. Awalnya saya sempat kecewa karena tidak dicetak pada kertas Book Paper seperti banyak manga terjemahan yang diterbitkan akhir-akhir ini di Indonesia. The Evil Collection yang diterbitkan Akasha memakai kertas koran, tipis tapi terasa lebih berat.
Ilustrasi manga The Evil Collection cukup oke, cocok untuk manga one-shot (satu buku tamat). Aliran manga ini memang dewasa, jadi tidak terlalu memerhatikan penampilan tokoh, melainkan mendekati kenyataan kehidupan. Cerita yang diangkat pun masuk akal dan dialami banyak orang. Beberapa hal yang bisa kita perhatikan setelah membaca adalah wawas diri, jujur, dan sederhana. Ala orang dewasa sekali, ya!

Begitu pendapat saya tentang manga The Evil Collection ini, mungkin Anda akan memiliki pandangan berbeda ketika membaca sendiri. Komik ini tetap layak koleksi, kok, setidaknya bagus untuk referensi jika bermaksud membuat komik indie aliran dewasa (bukan untuk kepopuleran).
Kemarin saya baru membuat pos, dan hari ini lagi, wah, menyenangkan! Omong-omong, dua bulan terakhir saya keranjingan manga dan anime. Saya membaca dan menonton lebih banyak dan sering. Komik yang saya baca semuanya cetak resmi, sejak dulu, karena ini adalah prinsip! Tapi, saya tidak suka membaca komik daring meski pun resmi. Sekarang saya juga mulai menonton film dan anime pada kanal resmi, hal ini semakin mudah di Indonesia. Ada perasaan puas (di luar kualitas) ketika menikmati karya pada jalurnya (dalam hal ini bukan bajakan).
Sampai jumpa!
