Judul asli Neji No Hitobito, karya dari Wakaki Tamiki, terbit pertama kali di Jepang pada tahun 2015 oleh Shogakukan, 3 jilid tamat. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia melalui The Kashima Agency, hak cipta dipegang oleh PT Elex Media Komputindo, diterbitkan pertama kali pada tahun 2019. Desain kover orisinal / Kohei Nawata Design Office.

Manga ini saya pinjam dari teman serumah, bernama L. Ia sudah membelinya sudah lama, saya ingat waktu itu L pernah membicarakan manga ini ketika baru dibacanya, namun saya tidak begitu memedulikan karena saya belum membaca. Biasanya saya begitu hanya untuk berjaga-jaga barangkali suatu saat saya akan membacanya, jadi tidak mendapat bocoran (spoiler) terlebih dahulu. Lalu saat ini pun saya akhirnya membaca The Screw People karena ingin tahu apa isinya dan kebetulan hanya 3 jilid tamat, sehingga tidak memakan waktu banyak. Sekilas dilihat pun ilustrasi isinya juga tampak ringan, bukan jenis manga serius.

“apa kau pernah “berpikir”? Aku itu apa? Dunia itu apa? Orang lain itu apa? Cinta itu apa? Hidup itu apa? Mati itu… apa? Setelah selesai membaca komik ini, harusnya dunia akan terlihat sedikit berbeda dibanding sebelum kau membacanya. Ini adalah cerita yang sedikit mengherankan dan sedikit berguna. Ayo, kau juga mulai putar sekrup di kepalamu!” (Dikutip dari bagian belakang manga The Screw People jilid 1)
Cukup unik, manga ini memang menceritakan tentang pikiran, namun bukan imajinasi. Saya juga sering berpikir seperti yang terjadi dalam manga ini, tapi ketika saya membaca The Screw People saya jadi kurang bisa menikmati. Entah kenapa saya merasa tidak cocok dengan manga ini.

“Apakah kita membaca situasi karena panopticon? Apakah moralitas tuan-budak yang menimbulkan kecaman di internet? Apakah ponsel itu nyata? Semakin kita memutar sekrup, semakin kita bisa melihat pentingnya berpikir. Meski komik ini tak bisa memberikan jawaban, dengan membacanya kamu akan mendekati jawaban itu (mungkin). Kadang lambat, kadang cepat. Volume dua yang terus memutar sekrup.” (Dikutip dari cover belakang manga The Screw People jilid 2)
Panopticon, mengutip dari terjemahan Wikipedia (Inggris), adalah jenis bangunan kelembagaan dan sistem kontrol yang dirancang oleh filsuf Inggris dan ahli teori sosial Jeremy Bentham pada abad ke-18. Dari kompas.id: Panopticon, yang berarti ’melihat segalanya’, adalah sebuah konsep tentang penjara yang berbentuk silinder. Di pusat silinder itu ada menara yang punya jendela dengan kaca satu arah yang menghadap ke sisi dalam silinder. Dinding silinder terdiri atas sel-sel yang satu jendelanya menghadap ke dalam dan jendela lainnya menghadap keluar untuk mendapat cahaya matahari.

Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, “apakah kita membaca situasi karena panopticon?” adalah kita dalam posisi seperti tahanan yang diawasi dari menara. Kehidupan kita tidak lepas dari norma masyarakat, apakah ini baik? Apakah hal ini bisa diterima? Saya harus melakukan ini agar jadi warga yang diterima, mungkin seperti itulah efek panoticon.
Di dalam manga The Screw People kita bisa memahami secara sederhana efek panopticon dan bagaimana jika kita menolak itu. Meski begitu, pembawaan komik ini tetap ringan, tetap dengan cara komedi, sehingga tidak membuat pembaca semakin pusing. Lebih dalam lagi, manusia juga bisa terjebak dalam konsep tuhan, menjadikan sesuatu menjadi acuan dan pedoman hidup. Tuhan yang bukan hanya dari agama spiritual, tapi teknologi dan ilmu pengetahuan juga menjadi “tuhan” baru. Tidak hanya itu, lebih mengerucut lagi, misalnya “beberapa orang menilai sesuatu di media sosial” lalu memikat banyak pengikut sehingga mereka punya “kepercayaan sendiri”, inilah benih agama baru non-spiritual.

“Aku tak bisa memberikan jawaban yang kamu inginkan. Namun, aku bisa membantumu berpikir. Mungkin sekeras apa pun kamu berpikir, kamu tetap tak bisa mencapai jawaban itu. Meski begitu, kita bisa mengatakan dengan yakin dan bangga, “Mari terus putar sekrup di kepala kita”. Pasti di depan sana akan terlihat dunia yang tak pernah kamu lihat selama ini. Volume terakhir “The Screw People” (Dikutip dari kover belakang manga The Screw People jilid 3)
Pada jilid ketiga, manga ini lebih nyaman diikuti perkembangannya; cerita dan tokoh. Pembahasan sudah ke mana-mana, banyak hal mengenai pemikiran, seperti ketika kita terhanyut dalam pikiran sendiri.

Untuk perkembangan tokohnya, manga The Screw People jilid 3 sudah mencapai puncak. Beberapa kehidupan tokoh juga terlihat perubahannya. Banyak ilustrasi dunia tokoh menyatu dengan ilustrasi penjelasan cerita, hal ini cukup menarik dan efektif. Saya suka adegan ketika tokoh mengobrol (chatting) di aplikasi ponsel sekaligus mewakili panel komik, di sini si tokoh yang sedang membaca chat seolah menjadi wallpaper, ide brilian!

Cukup unik ketika manga ini mulai menjadi lebih “komedi”, saya kira akan terus-terusan serius dan sulit dimengerti seperti jilid pertama. Sekarang bahkan ditampilkan sosok mangaka dan dua editornya yang sedang membahas pembuatan jilid ketiga manga ini. Sebenarnya saya agak kurang nyaman dengan ide ini, terlebih mereka digambarkan dengan wujud siluet. Apa yang mereka bahas pun tidak begitu penting, dan saya pikir ini benar-benar konyol. Apa mereka sudah frustrasi? Yang jelas hasilnya cukup melenceng! Jika dilanjutkan, saya tebak, akan menjadi manga tentang anak sekolah dengan klub pemikir.

Saya mengerti mereka mengambil langkah ini memang untuk mengakhiri cerita. Mereka membahas dan menampilkan tokoh “teman masa kecil” dan mencoba melawan arus dengan membuat teman masa kecil itu sebagai anak perempuan jelek dan gemuk. Mereka juga menjelaskan kenapa melakukan ini karena kecantikan itu relatif, bahwa tidak semua orang punya teman masa kecil yang disukai pembaca.

Namun ada pula penjelasan dalam manga ini yang cukup realistis, atau setidaknya lebih masuk akal dan bisa ditelusuri, yakni perkembangan penceritaan dalam beberapa era. Misalnya zaman cerita, orang bercerita hanya dengan lisan; lalu zaman penulis, orang mulai menyebarkan cerita melalui media. Bagian ini bagus.

Supaya tidak bosan, Anda juga disuguhi beberapa fanservis, tahu lah yang mengandung unsur seksual yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita itu. Biasanya tokoh tiba-tiba berpakaian minim dan bertingkah menggoda, memancing imajinasi pembaca.

Para editor dan mangaka-nya pun membahas ini, bahwa mereka harus memberikan fanservis meski tidak terang-terangan. Fanservis ini pun sebenarnya hanya ilustrasi diskusi mereka, si tokoh bahkan tidak melakukan itu sama sekali. Oke-lah, tidak masalah, toh ini memang fanservis, sudah seperti maknanya. Omong-omong di sini ilustrasinya lebih bagus, lebih detail, dan seperti tokoh gadis cantik dalam manga arus utama (mainstream).

Pada setiap bab dalam manga The Screw People diakhiri dengan kata-kata bijak, kata-kata mutiara. Entah apa maksudnya, tapi saya tidak terlalu merasakan dampaknya. Ketika selesai mengikuti cerita dalam bab itu dan membaca kalimat ini di belakang, rasanya tidak berkaitan. Maksud saya tidak begitu enak untuk disebut sebagai kata-kata mutiara bab tersebut.

Selain kata-kata bijak itu, ada pula komik 4 panel sebelum masuk ke bab selanjutnya. Bagian ini berfungsi lebih baik, dan memang banyak manga yang melakukan hal yang sama. Isinya memang bonus, berkaitan dengan cerita utama tapi tidak memberikan dampak.

Saya merasa ilustrasi kover depan jilid ke-3 manga The Screw People ini bagus, jadi saya menyusun lalu memotretnya seperti gambar di atas. Anggap saja ini semacam bonus, bagi saya pribadi ini bisa menjadi dokumentasi di masa mendatang. Oh, gambar ini juga bisa digunakan sebagai wallpaper komputer jika Anda mau, tapi apa mungkin ada orang yang seperti itu?

Desain kover belakang juga cukup bagus, sederhana, tapi tidak sembarang.
Begitulah, saya tidak ingin membaca ulang manga ini lagi, meski memang saya hampir tidak pernah melakukan hal itu. Tapi, kalau saya harus membaca ulang komik saya tidak akan memilih ini.
Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah membaik, orang-orang semakin banyak yang bisa menyesuaikan diri dengan normal baru. Ini hal yang sangat bagus, meski tidak signifikan sampai bebas sepenuhnya, tapi ini sudah membuktikan bahwa masyarakat punya kesadaran untuk berkembang dan mengubah kebiasaan.
Sekian, sampai jumpa!
