Judul asli: Kimyo De Kowai Hanashi, diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 2014 oleh Shogakukan. Disusun oleh enam mangaka: Nao MAITA, Ryoko MIZOGUCHI, Mako FUKUNAGA, Kirara HIMEKAWA, Mea SAKISAKA, dan Isao SAKAMOTO. Desain kover orisinal Natsuka SAKURAI. Terjemahan bahasa Indonesia diatur dengan Shogakukan melaui The Kashima Agency. Hak cipta terjemahan Indonesia tahun 2020, diterbitkan pertama kali tahun 2021 oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C.
Saya membeli ini ketika suatu sore diajak teman serumah, G ke toko buku tiba-tiba di akhir pekan. Kami sebenarnya sangat jarang jalan-jalan (tapi bisa dianggap sering karena bersama orang itu-itu saja), dan toko buku adalah tujuan paling mudah kami sepakati (dan wujudkan). Selain buku ini, saya juga membeli beberapa manga seri yang sedang berjalan, saya mengambil buku ini karena hanya satu buku selesai. Hari itu ketika kami tiba di sana ternyata harus mengantre panjang karena pengunjung dibatasi 10 orang per gelombang. Ini adalah aturan baru terkait pandemi Covid-19 yang menguat lagi bulan ini. Ketika kami keluar ternyata toko sudah tidak menerima pengunjung karena harus tutup pada jam 15.00.
Melihat dari apa yang ada di kover, saya sudah menyadari kalau buku ini adalah kompilasi manga. Ada enam orang yang berkontribusi, masing-masing membuat satu cerita tamat (one-shot).
1. Red Sunset’s Stairway oleh Maita Nao
“Aku datang lagi ke kota ini. Untuk matahari sorenya yang indah, dan… untukmu.”
Cerita pertama ini sangat sederhana, dua anak SMA yang kembali bertemu, mereka sudah kenal sejak SD. Anak laki-laki sempat ke luar kota dan kini kembali. Anak perempuan hidup dalam rasa bersalah karena kejadian masa lalu. Sempat terjadi kesalah-pahaman di antara mereka, tapi akhirnya mereka pacaran.
Gaya manga ini “sangat shoujo” (manga ala anak perempuan), baik gambar maupun cerita. Saya bertanya-tanya, “di mana scary-nya?! Bagian mana yang menakutkan, heh?! Yah, begitulah, tidak ada hantu atau mistis sama sekali. Saya tidak tahu apakah ini cukup menakutkan bagi anak perempuan (khususnya di Jepang)? Tapi saya memang tidak menemukan sedikit saja cerita atau visual yang mengerikan. Paling mendekati hanya tangan si anak laki-laki yang sempat terluka karena terjatuh di tangga.

2. My Baby Sister oleh Mizoguchi Ryoko
“Saat tahu akan jadi kakak, Riko sangat bahagia. Namun ternyata sang adik adalah…”
Yang kedua ini lumayan “scary”, Riko sempat mendengar suara ketika mendekatkan telinga ke perut ibunya yang sedang hamil. Namun kedua orang tuanya menganggap Riko hanya berimajinasi dan terlalu khawatir karena akan punya adik. Ia pun dititipkan ke nenek-kakeknya. Mereka baru bertemu lagi ketika ibu melahirkan, ternyata bayinya biasa saja, bukan setan. Suatu hari ketika sang adik sudah bisa bicara, Riko mendapati ada jantung manusia di dalam tas adiknya. Kata adik itu adalah jantung ibu, diambil sejak di dalam kandungan ketika ia masih menjadi setan, supaya bisa mengancam membunuh kapan saja. Namun ketika adik mulai besar, ia sudah lupa semua itu dan menjadi anak manusia biasa. Hanya Riko yang mengetahui kejadian ini.
Gaya gambar biasa saja, bagus, dan saya merasa memang seperti inilah biasanya komik horor. Referensi saya tidak banyak, tapi ini aman untuk dibaca remaja.

3. Killer Game oleh Fukunaga Mako
“Lima anak terjebak permainan berbahaya. Mereka harus mencapai finish atau… mati!”
Saya sangat suka yang ini. Visual dan ceritanya paling bagus dan rapi. Desain karakternya seperti anime arus utama, seperti anime-anime biasa yang tidak terlalu condong shonen atau shoujo.
Ceritanya, mereka berlima anak sekolah yang akan bermain permainan papan yang dibawa salah watu dari mereka. Sebelum kotak dibuka hanya ada instruksi yang terlihat biasa saja, mirip ular-tangga tapi ada perintah pada beberapa kotak dan pemain harus mengikuti itu. Ketika dibuka mereka tiba-tiba teralihkan ke dimensi lain, di dalam permainan itu sendiri. Mereka adalah bidak dengan peran berbeda, seperti samurai, putri, ninja. Mereka berjalan melewati kotak sesuai angka dadu yang dilempar sendiri. Awalnya menyenangkan karena perintah yang tertulis masih ringan dan menghibur. Namun permainan menjadi mengerikan ketika satu per satu anak-anak itu mati karena berhenti pada kotak dengan perintah mematikan, yaitu dihukum diseret kuda, dibakar hidup-hidup, dipenggal karena berkhianat. Salah satu dari mereka akhirnya ada yang mencapai finish dan ia kembali ke dunia nyata. Setelah itu sang pemenang harus mengajak anak lain memainkan permainan ini atau dihukum.
Melihat cerita itu, sepertinya permainan ini tidak akan berakhir dan akan memakan korban terus menerus. Tapi saya penasaran apa yang akan terjadi jika si pemenang menolak kewajibannya. Hukuman apa yang harus diterima? Jika itu kematian, toh ia juga harus ikut permainan ini lagi dengan anak lain dan kemungkinan dia sendiri akan mati sangat besar.

4. Keseran Pasaran oleh Himekawa Kirara
“Pernahkah kamu mendengar legenda tentang bola bulu putih yang bisa membuatmu bahagia?”
Bola bulu putih yang bisa membuat bahagia, ia adalah objek misterius, itulah keseran pasaran. Sebelum membaca, saya sempat berdebat dengan teman saya apakah ini bahasa Jepang, Indonesia, Inggris, atau Jawa. Bahasa Inggris rasanya tidak mungkin, bahasa Jepang dan bahasa Indonesia masih bisa, dua kata ini begitu mirip bahasa Jawa. Tapi bagaimana mungkin judul dalam komik yang dicetak resmi seperti ini memakai bahasa daerah (suku) tertentu yang tidak populer? Akhirnya kami mencari di mesin pencari, dan ternyata ini adalah istilah Jepang, (ケサランパサラン, Kesaran-Pasaran).
Dijelaskan kalau objek misterius ini berasal dari bola bulu burung atau bunga kapas. Ceritanya di sini ada anak perempuan yang dengan sengaja merampas keseran pasaran dari temannya. Ia melakukan ini supaya bahagia karena orang tuanya bercerai. Benda itu bekerja, orang tuanya rujuk dan keluarga itu sangat bahagia. Suatu hari si anak memberikan keseran pasaran ke sahabatnya untuk membuktikan khasiat benda itu. Sang sahabat sangat tidak percaya takhayul, tapi ia setuju kalau benda ini membesar dari sebelumnya. Ternyata sahabatnya itu adalah kakak dari pemilik asli keseran pasaran itu, ia sengaja bersahabat supaya bisa balas dendam. Namun tiba-tiba keseran pasaran mengeluarkan gigi dan menggigit tangan si anak perempuan pencuri kemudian menelan seluruh tubuhnya. Mendengar lagu yang sering dinyanyikan sang adik, kakak menyadari arwah adik merasuki objek ini untuk balas dendam sendiri. Omong-omong, si adik tewas tertabrak mobil ketika mengejar keseran pasaran-nya yang dirampas hari itu.

5. One Click Death oleh Sakisaka Mea
“Sebuah website mengirimkan barang-barang modis dengan gratis. Namun ada syaratnya!?”
Seorang gadis biasa, iri melihat temannya yang selalu tampil modis. Suatu hari ia tahu kalau temannya itu mendapat semuanya dari situs web secara cuma-cuma. Dia pun melakukan hal yang sama dan berhasil menjadi artis cilik di majalah, teman-teman sekolahnya juga sangat mengagumi. Kemudian mereka saling bersaing mengambil barang dari situs aneh tersebut, sebanyak-banyaknya untuk mendapat perhatian siapa yang paling keren. Beberapa hari kemudian saingannya itu hilang secara misterius. Gadis ini pun menikmati popularitas tanpa rival. Hingga suatu hari dia tidak bisa mengambil barang dari situs itu karena terus melanggar aturan. Akhirnya dia harus menebus dengan nyawa, dibunuh tanpa diketahui siapa pun.
Saya tidak berpikir ini tentang hantu, setan, atau apa pun. Bisa saja ini ulah manusia dengan sengaja di suatu tempat, manusia jahat yang juga tidak bisa dilihat oleh korban sama saja dengan setan. Sangat bagus jika memang demikian, saya pikir konsep ini bisa dilebarkan lagi menjadi serial.

6. Welcome to xx Village oleh Sakamoto Isao
“Yui datang ke desa misterius hanya untuk beberapa hari. Namun sesuatu telah menunggunya di sana.”
Ibunya Yui mendapat panggilan telepon kalau nenek buyutnya (ternyata) selama ini masih hidup dan baru saja meninggal. Mereka datang ke desa (dari Tokyo) untuk menghadiri acara pemakaman. Desa itu tidak mereka kenal, sangat terpencil, dan akses sangat sulit. Banyak hal ganjil terjadi selama mereka di sana. Tiba-tiba jalan satu-satunya yang menghubungkan desa itu dengan dunia luar longsor dan saluran telepon terputus, tidak ada sinyal ponsel di sana. Selama terjebak, situasi semakin ganjil, ibu tidak ingin kembali ke Tokyo. Orang-orang di sana sangat baik dan ramah, berbeda dengan Tokyo, tapi Yui tidak betah. Tidak ada seorang pun yang ingin keluar desa karena di sana sudah damai. Suatu hari Yui mengetahui ada seorang anak yang ingin keluar dari desa itu dan mereka merencanakan pelarian. Keesokan harinya anak itu hilang, hanya ditemukan tasnya. Kemungkinan anak itu dibunuh penduduk desa karena kini terang-tenangan memaksa Yui untuk tetap tinggal saja. Namun Yui mendengar suara mirip temannya, menuntun supaya lari dari desa itu segera. Yui jatuh ke jurang dan siuman 3 hari kemudian di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak paham apa yang diceritakan Yui mengenai desa itu, tidak ada desa di sana. Akhirnya, ketika Yui sendirian, ibunya dan penduduk desa menjenguk Yui dan mengajaknya segera pulang ke desa.
Menarik! Saya pikir ini mitos khas daerah yang sering terjadi kepada pendatang dari kota. Bagaimana pun prosesnya, di mana pun negaranya, saya memahami cerita seperti ini sangat mudah diterima masyarakat. Tidak masalah.

Saya membaca komik ini tidak selama biasanya, tapi saya bisa menerima dan menikmati dengan baik. Saya bahkan mengingat setiap ceritanya, mungkin karena ini manga pendek (sekali tamat) jadi tidak bertele-tele. Tidak buruk. Saya merekomendasikan Anda membaca, kecuali yang pertama. Kalau pun Anda mau membacanya, jangan berlama-lama dan segera lupakan saja.
Hari ini saya libur karena tanggal merah, tahun baru Hijriyah (Islam) yang dalam penanggalan Jawa disebut 1 Suro. Berarti tadi malam adalah malam satu suro! Malam di mana sering diidentikkan dengan mistis, atau sebenarnya hanya perayaan tahun baru yang salah kaprah, seperti Halloween? Apa pun itu, yang penting hari ini saya bisa mengisi dengan menulis blog tentang komik, yang baru saya baca karena di rumah saja karena pandemi berkepanjangan.
Sampai jumpa di pos selanjutnya.


