Bakemonogatari (Jilid 1-5)

Bakemonogatari (Jilid 1-5)

Terbit pertama kali di Jepang pada tahun 2018 oleh Kodansha, Ltd. Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia diatur oleh Kodansha, Ltd. juga. Hak cipta terjemahan edisi Indonesia dipegang oleh PT Elex Media Komputindo, diterbitkan pertama kali tahun 2020 oleh PT Elex Media Komputindo juga. Kreator komik ini ada tiga orang, atau setidaknya tiga pihak, yakni: Nissioisin (cerita), Oh!Great (gambar), dan Vofan (desain karakter orisinal).

Gambar: kover depan manga Bakemonogatari jilid 1-5

Beberapa tahun yang lalu saya berharap dengan sangat manga Bakemonogatari ini diterbitkan di Indonesia, saya pasti akan membelinya ketika itu terjadi. Lalu sekarang manga ini benar-benar terbit, saya terkejut saat melihat di toko buku. Namun saya tidak ingat kenapa dulu begitu menginginkannya. Bukan berarti saya kecewa dan tidak ingin lagi, saya hanya lupa. Saya tetap ingin membeli dan membaca Bakemonogatari, tapi saya belum punya uang cukup, jadi saya membiarkan teman saya (yang kebetulan pergi ke toko buku bersama) membeli manga ini. Beberapa bulan kemudian saya membeli juga, 5 jilid langsung dan 1 jilid lagi ketika baru rilis (jilid ke-6). Beberapa bulan kemudian baru saya baca, karena meski pun sangat ingin tapi ada beberapa buku sebelumnya yang belum selesai. Beberapa minggu setelah selesai membaca barulah saya tulis blog ini, yang mungkin baru selesai beberapa hari kemudian.

Gambar: kover belakang manga Bakemonogatari jilid 1-5

Manga Bakemonogatari jilid 1-5, inilah sinopsisnya di kover belakang buku:

  1. Monster sejak awal ada di sana. Selalu. Di mana pun. Hitagi Senjogahara. Gadis yang ditangkap oleh Koyomi Aragari (red. Araragi) ketika terjatuh pada suatu hari. Tubuh gadis itu… Tidak memiliki berat. Dia bertemu dengan seekor “kepiting” dan berat badannya diambil sampai ke akar-akarnya…
  2. “Aku cuma sekadar menuntunmu” Hitagi Senjogahara, gadis yang berat badannya direbut, harus menolong dirinya sendiri agar dia tidak tersesat di dalam perasaannya yang sesungguhnya…
  3. Mayoi Hachikuji. Anak SD yang berjumpa dengan Koyomi Araragi itu adalah “siput tersesat” yang takkan pernah bisa sampai ke tempat tujuannya. “Tugasku adalah mengantarkan anak ini dengan selamat,” sebelum tekadnya itu memudar, kata Araragi…
  4. Koyomi Araragi telah meyelesaikan masalah Mayoi Hachikuji dan menerima perasaan Hitagi. Semua terlihat seperti berjalan dengan lancar… Sampai Araragi harus berhadapan dengan orang bermantel misterius yang muncul tiba-tiba!
  5. Suruga Kanbaru, super star nomor satu di perguruan, dia yang hidup di dunia berbeda dengan Araragi, entah kenapa menguntitnya. Dan di tengah-tengah penyelidikannya, ada “permohonan” yang dikatakan Suruga, yang membawa Koyomi sampai kepada keganjilan!
Gambar: salah satu adegan dengan gambar memenuhi dua halaman penuh (spread page) dalam manga Bakemonogatari.

Baru beberapa halaman awal sudah langsung disambut dengan gambar satu tokoh berpose memenuhi dua halaman bersambung (spread page). Mungkin kurang tampak menarik ketika saya perlihatkan di sini (gambar di atas), tapi kalau Anda membacanya secara langsung akan merasakan sensasi yang luar biasa. Gambar spread page ini cukup sering disuguhkan dalam manga Bakemonogatari jilid 1-5 ini, namun tidak membosankan dan pemakaiannya sangat pas.

Spread page pada komik biasanya dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang istimewa atau penting. Cara ini sebenarnya berfungsi sebagai fokus yang diutamakan, “Anda perlu mengetahui dan memerhatikan adegan ini,” seolah seniman berkata demikian melalui karyanya itu. Spread page sebenarnya juga adalah satu panel yang sangat besar hingga mengisi dua halaman penuh, itu adalah ukuran maksimal sesuai ukuran buku (karena saya belum pernah mendapati lembar bercabang dalam bagian isi komik).

Gambar: contoh visual komik (manga) Bakemonogatari.

Sejak awal saya sudah menebak manga ini digambar secara digital (memakai perangkat lunak komputer). Ketika mulai membaca dan melihat isinya, saya semakin yakin! Dan manga ini sangat bagus! Sempurna! Saya sangat kagum dengan ilustrasi yang digambar dengan detail. Itu memang lebih mudah dilakukan dalam komputer, maksud saya meski begitu masih nyaman dinikmati sebagai komik cetak.

Secara pribadi saya memang kurang suka dengan komik yang digambar dengan komputer kemudian dicetak menjadi buku. Namun sekarang saya mulai bisa menerima dan sedikit meneliti secara mandiri (sebenarnya hanya mengamati). Kesimpulan saya sejauh ini adalah bahwa banyak komikus yang (dengan sadar atau tidak) menyepelekan gambar. Mereka terlalu mengandalkan fitur perangkat lunak yang sangat memudahkan proses menggambar. Beberapa contoh sederhananya adalah: batalkan (undo) tindakan/goresan pena, potong gambar (crop), menggambar dengan beberapa lapisan (layering), menggandakan gambar yang sudah pernah dibuat (copying), seleksi dan atur ukuran dan posisi (bahkan bisa diputar dan dibalik (mirror)).

Fitur dan alat yang memudahkan memang memiliki konsekuensi mengurangi kewaspadaan kita, cara pandang, dan nilai. Dalam banyak kasus, alat modern yang semakin canggih mampu mengubah kebiasaan manusia yang sebelumnya rajin dan bekerja keras menjadi malas dan menunda-nunda waktu. Sejarah peradaban manusia juga membuktikan terjadinya evolusi tubuh, seperti banyak orang sekarang tidak memiliki gigi bungsu karena tidak lagi makan makanan yang keras.

Begitulah, memang benar kata sesepuh yang selalu berpesan agar kita memakai jurus (pengetahuan dan teknologi) dengan bijaksana dan jangan terlena oleh duniawi (kemudahan yang memanjakan).

Gambar: salah satu halaman pengenalan karakter manga Bakemonogatari.

Beberapa nama tokoh dalam manga bakemonogatari cukup sulit dan panjang, tapi cocok dengan latar belakang atau karakteristiknya. Saya suka dengan ide ini, meski terkadang terasa norak, tapi persetan! kalau tidak begitu akan biasa saja. Nama Hitagi Senjogahara terdengar hebat, seolah tidak sembarang orang boleh memakainya, apalagi awam. Mungkin nama itu akan membuat seseorang menjadi sakit-sakitan jika tidak kuat dengan beban namanya sendiri yang sangat berat.

Mengutip dari kalimat di dalam manga Bakemonogatari jilid 1: “Hitagi Senjogahara, dari namanya terkesan sangat berbahaya, tapi dia bisa dibilang cewek tipe nona besar pingitan yang lemah.” Saya juga suka susunan kalimat ini, sebenarnya banyak kata-kata yang saya sukai dalam manga ini. Ada pula tokoh bernama Shinobu Oshino yang memiliki nama asli Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade. Norak, bukan? Memang! Tapi keren dan tidak ada masalah, kita juga tidak ada urusan jika mempermasalahkan itu. Karena tokoh ini adalah vampir berdarah baja, berdarah panas, dan juga berdarah dingin. (Mau protes apa, ha!? Hahaha…)

Jangan terlalu serius! Saya mengatkan ini dengan serius, tapi memang benar, jangan terlalu serius karena manga ini juga tidak selalu serius. Saya bahkan kaget melihat tokoh dengan desain indah seperti ini dan karakter yang serba-hebat ternyata bisa bercanda juga. Bahkan bercanda dengan keterlaluan, tapi komedinya berbeda, terasa keren dan mengalir, tetap sesuai dengan karakter aslinya. Mungkin kurang tepat kalau disebut bercanda, belum tentu tokoh tersebut bermaksud bercanda, melainkan menjadi humor dari sisi pembaca. Saya setuju dengan konsep ini, dan saya juga menikmatinya.

Selain itu dalam manga Bakemonogtari ini ada banyak adegan fun service. Saya baru tahu kalau istilah fun service sudah diserap bahasa Indonesia, yaitu “fanservis”. Dalam KBBI daring, pengertian fanservis adalah:

  1. interaksi atau perhatian khusus yang diberikan oleh bintang idola kepada penggemar; hal khusus yang dilakukan oleh bintang idola untuk menyenangkan penggemar
  2. bagian dalam karya fiksi yang ditambahkan untuk menyenangkan pembaca atau penonton, biasanya sesuatu yang cenderung seksual, yang tidak berkaitan sama sekali dengan alur cerita

Nah, penggunaan fanservis di dunia manga dan anime (komik dan animasi) biasanya merujuk pada keterangan kedua dari KBBI tersebut: untuk menyenangkan pembaca atau penonton, biasanya sesuatu yang cenderung seksual, yang tidak berkaitan sama sekali dengan alur cerita.

Beberapa fanservis dalam manga Bakemonogatari memang tidak ada hubungan dengan cerita, tapi ada juga yang memang berkaitan dan itu tidak dipaksakan. Meski begitu fanservis yang ditampilkan masih aman untuk pembaca, masih ada sensor. Namun beberapa sensor terasa tidak enak, yang mungkin dilakukan oleh pihak penerbit Indonesia. Itu hanya dugaan saya. Mungkin gambar aslinya (dari Jepang) juga sudah disensor tapi disensor lagi di sini, seperti garis yang dihapus sehingga menghilangkan kesan. Sekali lagi itu hanya dugaan saya pribadi, saya masih tetap bisa menikmati manga ini.

Gambar: salah satu contoh perubahan gaya karakter dalam manga Bakemonogatari.

Hal tak terduga lain yang ada di manga Bakemonogatari adalah gaya gambar dalam situasi tertentu. Saya ambil contoh ketika tokoh dalam adegan bertengkar biasa (bercanda/bukan bertarung), dibuat seperti komik anak ala Fujiko F. Fujio (Doraemon, Ninja Cilik Hattori, dll). Kebanyakan manga memakai gaya gambar cebol (chibi) dalam situasi yang sama, maka ide ini menjadi unik dan lain daripada yang lain (tidak mainstream).

Pada situasi yang lain lagi, tokoh bisa berubah menjadi sosok terkenal sebagai penguat komedi, misalnya jadi berwajah Buddha.

Gambar: adegan dalam dua halaman dengan balon kata sangat besar serta teks yang sangat panjang dalam manga Bakemonogatari.

Satu lagi keunikan manga ini (kalau yang ini cukup ekstrem), yaitu balon kata yang sangat besar berisi kalimat yang sangat panjang. Ini sangat jarang terjadi pada komik era sekarang, saya pikir senimannya memang bermaksud menjadikan ini bahan bercanda. Dilihat dari mana pun teknik ini tidak keren dan tidak efektif, bahkan sangat mengganggu.

Saya jadi ingat komik lawas Indonesia era kolosal (cerita kerajaan dan pewayangan) yang saat itu santer disebut dengan istilah cergam (cerita bergambar). Cergam tersebut banyak yang memakai balon kata besar dengan kalimat panjang, bentuk balonnya pun sembarang dan tidak enak dilihat.

Gambar: potongan halaman dengan gambar karakter yang sangat besar hingga memenuhi satu halaman dalam manga Bakemonogatari.

Lalu, selain spread page yang memenuhi dua halaman, ada pula tingkat di bawahnya: satu gambar memenuhi satu halaman, ini juga merupakan satu panel yang besar. Menunjukkan detail dan fokus pada gambar, pembaca dapat menikmati karya seni yang indah. Dari contoh gambar di atas, adalah tokoh Hitagi Senjogahara yang sedang berpose keren, lihatlah betapa rapinya hasil kerja Oh!Great! (ilustrator manga Bakemonogatari) yang memang “Oh! Mantap!”

Tidak hanya ilustrasi tokoh, latar belakang (background) pun sangat hebat! Memakai situasi saat ini, gambar latar belakang itu semakin terasa dekat dengan pembaca, dan mudah dirasakan.

Besar kemungkinan seniman memang memakai referensi foto untuk membuat ilustrasi latar, bahkan mungkin dijiplak karena susunannya sangat nyata. Benda-benda keras (mis. sepeda) sepertinya juga dibuat dengan perangkat lunak 3D. Apa pun itu, saya tidak mempermasalahkannya karena hasil akhirnya sangat keren, pas, dan tidak memaksakan. Semua teknik dimanfaatkan dengan baik kemudian disusun menjadi satu ilustrasi dalam panel yang sempurna.

Gambar: salah satu detail latar belakang dengan sinematografi dan teknik gambar yang sangat bagus dalam manga Bakemonogatari.

Begitulah manga Bakemonogatari, dari jilid 1 sampai 5 ini saya menganggap inilah acuan ketika kita ingin menggambar komik memakai perangkat lunak komputer (bukan tradisional di atas kertas). Manga ini sangat bagus sebagai referensi dalam banyak hal: penceritaan, desain karakter, latar, dan ilustrasi secara keseluruhan. Saya akan membahas lebih lanjut ketika sudah membaca jilid 6 ke atas.

Terlepas dari kesempurnaan di atas (kita tahu tidak ada yang sempurna, tidak perlu didebatkan), ada beberapa kekurangan ketika saya membaca manga Bakemonogatari jilid 1-5 edisi Indonesia, yakni:

Pertama, pada susunan kata. Mungkin terjadi karena menerjemahkan dari bahasa Jepang, jadi kurang nyaman ketika dalam bahasa Indonesia. Nah, hal itu seharusnya bisa lebih disesuaikan lagi supaya tidak terasa ada kata yang hilang, meski pun tetap bisa dipahami.

Kedua, kesalahan ketik. Saya sangat terganggu dengan yang seperti ini, kesalahan ketik seharusnya tidak terjadi dalam buku yang sudah diedarkan, terlebih kalau ada banyak kesalahan. Saya bahkan sampai mencatatnya karena tidak hanya satu/dua salah ketik, inilah yang berhasil saya simpan:

  1. Koyomi Aragari (nama, seharusnya: Koyomi Araragi)
  2. Kan terus menjadi (seharusnya: akan terus menjadi, kalau pun memakai “kan” harus ditambah tanda petik satu: ‘kan)
  3. Koyomi. dkk (seharusnya: Koyomi dkk.)
  4. Yang yang (seharusnya satu saja: yang)
  5. Eberapa kuat (seharusnya: seberapa kuat)
Gambar: salah ketik pada kover belakang manga Bakemonogatari.

Ketiga, salah cetak harga. Ini terjadi pada kover belakang buku jilid ke-3, kemudian ditimpa stiker, dan saya masih bisa melihatnya: Rp.30.000 menjadi Rp.40.000. Saya masih bisa menerima ini, dan penerbit pun sadar dan segera memperbaiki. TAPI, penulisan simbol mata uang rupiah salah! Saya tidak bisa menerima yang ini. Seharusnya penerbit sebesar LEVEL KOMIK (PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia) dan anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tidak melakukan kesalahan sederhana ini. Simbol Rp ditulis tanpa tanda titik (.) dan langsung menyambung ke nominal uang karena Rp bukan singkatan dan tidak mewakili rupiah Indonesia. Isu ini bisa ditambahkan menjadi poin ke-6 daftar kesalahan ketik di atas: Rp.40.000,- (seharusnya: Rp40.000,-). Lebih disayangkan lagi, kejadian ini ada pada semua jilid manga Bakemonogatari yang saya bahas di sini (jilid 1-5).

Keempat, beberapa halaman tergeser dan terpotong tidak tepat. Mungkin ini terjadi pada proses pencetakan dan penjilidan, bisa juga salah sejak tata letak (layout). Masih umum terjadi pada penerbitan buku, sedikit bisa dimengerti.

Kelima, ada halaman akhir bab yang kualitas gambarnya resolusi rendah. Beruntung di sini bukan merupakan bagian isi komik (ilustrasi utama), melainkan hanya halaman jeda.

Ada pula kesalahan yang memang dari seniman, saya hanya menemukan satu: tokoh Mayoi Hachikuji seharusnya tidak memakai sepatu di kaki kiri karena sebelumnya sempat dilempar sendiri. Belakangan sepatu kiri itu ternyata disimpan Araragi di ranselnya). Ada beberapa gambar Hachikuji memakai sepatu lengkap (sepasang) padahal Araragi belum mengeluarkannya dari ransel dan mengembalikannya.

Sejak awal saya tidak mencari-cari (dengan sengaja) apa yang salah dalam manga ini, tapi ini saya dapatkan karena saya memang mengamati dengan saksama. Saya memang sering begitu dalam membaca komik supaya bisa mempelajari beberapa hal, dan itu menyenangkan).

Semoga apa yang baik bisa kita tiru, dan apa yang salah bisa menjadi perbaikan.

Omong-omong, pos ini saya selesaikan seminggu setelah mulai. Sampai jumpa di pos berikutnya!

Tinggalkan komentar