Judul asli komik ini adalah “Comi-San Wa, Comyusho Desu” oleh Tomohito ODA yang diterbitkan pada tahun 2016 oleh Shogakukan di Jepang. Desain kover orisinal oleh Masato ISHIZAWA + Bay Bridge Studio. Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia diawasi oleh Shogakukan melalui The Kashima Agency. Hak cipta terjemahan bahasa Indonesia dipegang oleh PT Elex Media Komputindo dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2020 (jilid 1 – 6) dan 2021 (jilid 7).

Pertama kali membaca komik ini adalah ketika saya masih bergabung dengan salah satu studio komik di kota ini. Ketika saya berkunjung ke sana (seperti biasa) kawan saya, S memperlihatkan komik ini. Saya pun membacanya beberapa halaman awal. Saya memutuskan berhenti karena ingin membeli sendiri buku ini.
Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah judul, tidak seperti kebanyakan komik terjemahan yang memakai judul bahasa Inggris, komik ini memakai judul bahasa Indonesia penuh: Komi Sulit Berkomunikasi. Bagi saya ini sangat istimewa, apalagi isinya memang menarik. Saya memang suka bahasa Indonesia, dan saya berusaha memakai bahasa Indonesia dengan baik daripada belajar bahasa asing.
Mungkin beberapa orang berpendapat belajar bahasa asing akan membuka peluang sukses dan pengetahuan yang lebih luas, dan memang banyak orang yang melakukan itu, dan memang terbukti juga. Tapi saya punya pendirian ini sejak dulu, meski fokus saya bukan bahasa tapi komik. Waktu SMP saya benar-benar tidak peduli dengan kemampuan bahasa Inggris yang buruk bahkan mata pelajaran yang lain. Saya mulai tekun berlatih menggambar dan membuat komik secara mandiri, sekolah hanya formalitas atau “asal terus naik kelas kemudian lulus.” Mata pelajaran yang menarik saya ketika itu adalah Kesenian, Bahasa Indonesia, Sejarah, Muatan Lokal (Basa Jawa), dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Saat SMA saya mengambil jurusan IPA, tapi saya tetap belajar komik secara mandiri. Selain itu saya juga belajar aksara Jawa secara mandiri pula, keinginan ini muncul justru ketika sudah tidak ada lagi mata pelajaran Muatan Lokal di sekolah (SMA).

Itulah yang menjadi latar belakang saya menyukai judul komik ini memakai bahasa Indonesia. Saya berharap penerbit Indonesia juga memakai judul bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris pada buku/komik terjemahan. Mungkin memang kurang menarik bahkan dianggap aneh di pasar, tapi bagi saya itu adalah cara pembiasaan diri.
Baik, kita kembali ke komik Komi Sulit Berkomunikasi.
Sampai tulisan ini saya buat, saya sudah selesai membaca jilid 1 sampai 7, mari kita cek satu per satu:

Komi Sulit Berkomunikasi #1
Komi, gadis cantik yang mampu membuat semua orang menoleh kagum, ternyata sulit berkomunikasi. Dia sangat lemah dalam sosial dan selalu berpikir, “Apa yang harus kulakukan untuk menyapa mereka?” Meski demikian, Komi akhirnya berhasil mendapatkan teman pertama, yaitu pemuda biasa bernama Tadano yang mengetahui kesulitan Komi dan membantunya. Sedikit demi sedikit tumbuh ikatan emosional di antara mereka. Inilah kisah komedi yang penuh adegan lucu namun terkadang menusuk hati. (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 1)

Saya ingat ketika membaca volume (jilid) pertama ini, saya tertawa terbahak-bahak hingga mata berair dan perut kaku. Saya memahami bagaimana karakter Komi yang kesulitan berbicara/komunikasi karena saya juga sering mengalaminya terutama ketika berhadapan dengan orang baru atau tidak/belum dikenal.

Komi Sulit Berkomunikasi #2
Siapa sangka kalau Komi, si primadona sekolah itu malah kesulitan dalam berkomunikasi! Tapi, dia akhirnya berteman dengan Tadano yang punya daya observasi cemerlang, sehingga lingkaran pertemanannya pun meluas. Teman-teman barunya unik, yaitu Yadano yang benci kalah, Yamai (yang pura-pura jadi) siswi biasa, Nakanaka yang mengidap ‘chunibyo‘, dan lainnya. Ditambah lagi, hubungannya dengan Tadano pun mengalami kemajuan? Imutnya Komi akan menohok hati kalian dan bikin sesekali senyum-senyum. Simaklah kisah si heroine yang hati dan ujung jarinya sampai gemetaran karena kesulitan berkomunikasi. (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 2)

Saya menemukan kata ‘heroine’ dan mencari di kamus daring (bahasa Inggris ke bahasa Indonesia), ternyata artinya adalah pahlawan wanita atau sering juga disebut ‘srikandi’. Istilah srikandi sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan, berikut saya kutip dari Wikipedia: “Srikandi adalah salah satu tokoh dalam wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Dalam kisah, ia merupakan putri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala. Dalam kitab Mahabharata bagian awal (Adiparwa) dijelaskan bahwa ia merupakan penitisan putri kerajaan Kasi bernama Amba, yang tewas karena dipanah oleh Bisma, pangeran kerajaan Hastinapura. Kemudian jiwa dewi Amba terlahir kembali sebagai seorang wanita.” Wayang kulit (seni dari Jawa, Indonesia) memang erat kaitannya dengan Mahabharata, khususnya dalam hal cerita. Jika dihubungkan dengan sosok Komi dalam komik ini, adalah karena Komi gadis yang sangat dikagumi orang sekitarnya, Komi dianggap gadis sempurna, bahkan sering dipuja bak dewi. Komi dijadikan sosok yang dimuliakan seperti seorang pahlawan, orang akan sangat menghormati dia dan sebagian besar orang setuju akan hal itu.
Kedua, ada istilah ‘chunibyo’ (bahasa Jepang), dalam komik vol. 2 ini juga disertakan penjelasan maknanya pada catatan kaki, yaitu, “Chunibyo: secara harfiah berarti “sindrom penyakit ala anak kelas 2 SMP. Orang yang mengalaminya bisa berimajinasi dan berdelusi dirinya memiliki suatu kekuatan istimewa/supernatural.” Tokoh yang mengidap chunibyo di sini adalah Nakanaka, tentu saja ia sangat salah paham ketika bertemu dengan Komi. Banyak spekulasi dari Nakanaka yang bahkan hanya bisa dipahami oleh dia seorang. Keterangan spesifik “ala anak kelas 2 SMP” pada istilah chunibyo saya pikir karena orang Jepang telah mengamati perubahan pada anak usia itu selama beberapa generasi (mungkin), atau mungkin juga memang ada ilmuwan yang menelitinya.

Komi Sulit Berkomunikasi #3
Komi, gadis super cantik yang sangat kesulitan berkomunikasi, sehingga orang-orang sering salah paham. Tapi, Komi akhirnya berteman dengan Tadano yang berdaya observasi cemerlang, sehingga bisa menikmati kehidupan SMA-nya yang menegangkan. Libur musim panas pun tiba! Inilah babak musim panas yang tak terlukiskan dengan kata-kata, di mana Komi pergi ke kolam renang bersama teman-temannya, pulang kampung untuk merayakan obon, dan pergi ke festival! Simak jilid 3 komik komedi heroine yang jantungnya berdebar kencang tanpa suara karena kesulitan dalam berkomunikasi ini! (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 3)

Jadi tokoh Tadano inilah yang menjadi penghubung Komi dengan dunia luar, dalam hal ini orang lain. Tadano memiliki daya observasi cemerlang, apa itu observasi? Saya lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, dan inilah penjelasannya: “1) peninjauan secara cermat; 2) cara untuk membantu mengembangkan imajinasi aktor.” Tepat sekali! begitulah peran Tadano, dia meninjau dengan cermat karakter Komi (kelemahan/kekurangan) kemudian membantunya menjalin hubungan sosial dengan orang lain meski Komi tetap kesulitan berkomunikasi. Jadi peran Tadano mirip dengan orang yang bertugas melatih aktor film supaya bisa memainkan peran dengan layak.
Lalu ada kata ‘obon’ (bahasa Jepang), istilah ini pun dijelaskan pada catatan kaki komik ini, yakni, “Obon: Tradisi perayaan di Jepang untuk merayakan datangnya arwah leluhur. Biasanya dirayakan pada musim panas.” Karena di sini Komi pulang kampung untuk merayakan obon, maka kalian akan melihat dia memakai baju tradisional Jepang (yukata). Kisah Komi kali ini juga banyak di luar sekolah, maka pakaian Komi pun ganti-ganti.

Di jilid ini muncul sosok ayah Komi yang ternyata memiliki sikap yang serupa dengan Komi, entah apakah dia juga sulit berkomunikasi atau karena hal lain, yang jelas ayah Komi juga pendiam. Komi dan ayahnya berkomunikasi melalui telepati, mungkin, karena mereka bisa saling mengerti tanpa bicara. Saya suka ketika mereka bertemu dan melihat bagaimana uniknya hubungan mereka.
Komi Sulit Berkomunikasi #4
Komi, si cantik yang sulit berkomunikasi, akhirnya menambah jumlah temannya. Tapi, dia merasa sedikit kesepian. Di penghujung musim panas ini, untuk pertama kalinya Komi berpikir, “Aku tidak ingin libur musim panas ini berakhir”. Lalu, semester baru pun dimulai! Komi mencoba memanggil Tadano dengan nama depannya dan mendukungnya di festival olahraga. Perasaan yang membuncah dalam diri Komi itu berhiaskan berbagai macam warna. Kecantikannya terpancar saat serius, keimutannya terpancar saat malu. Inilah kisah komedi si gadis cantik yang membuat orang refleks ingin mendukungnya. (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 4)

Di bagian awal semua jilid komik ini ada keterangan, “Semua nama tokoh yang muncul di komik ini ditulis dengan nama keluarga di depan, diikuti dengan nama kecil.” Contoh: Komi Shoko, Tadano Hitohito. Pada jilid keempat ini kasus nama itu jadi sedikit rancu, karena Komi bilang ia ingin dipanggil pakai namanya sendiri (bukan nama keluarga). Tadano memperjelas maksud permintaan Komi dengan menyebut “nama depan” dengan gugup. Budaya Jepang memang meletakkan nama keluarga di depan, dan memanggil orang yang lain dengan nama keluarga. Jika sudah sangat akrab atau karena memang anggota keluarga sendiri barulah tidak tidak masalah memanggil dengan nama kecil (mis. Shoko). Saya mengerti maksud penerjemah tetap memakai istilah “nama depan” karena di Indonesia jika ada nama keluarga diletakkan di belakang. Barangkali mereka juga sempat bimbang apakah harus menyebut nama depan atau nama belakang, hingga diputuskan nama depan saja. Padahal… Ah, sudahlah!

Biasanya, dan hampir selalu kecuali Tadano, semua orang yang bertemu Komi akan berpikir, “Orang ini sangat elegan, saya tidak sebanding dengan dia, saya harus mengerti apa yang ia inginkan, itulah kenapa dia memang tidak perlu bicara.” Gambar di atas adalah adegan ketika Komi sedang ke restoran, sang pelayan mengambil keputusan (termasuk apa yang harus dipesan Komi) tanpa sepatah kata keluar dari mulut Komi. Ada juga tokoh yang latar belakangnya adalah orang dari kampung terpukau oleh sikap Komi dan menganggapnya sebagai sosok ideal orang kota. Tentu saja ada banyak salah paham di sini, meski begitu orang lainlah yang justru merasa bersalah sendiri alih-alih menyalahkan Komi.
Komi Sulit Berkomunikasi #5
Setelah berteman dengan Tadano, keseharian Komi, si gadis cantik yang kesulitan berkomunikasi, akhirnya tambah mengasyikkan. Keduanya merasa nyaman dengan hubungan mereka saat ini. Tapi, perasaan bernama “cemburu” mulai tumbuh dalam diri Komi? Lalu, festival kebudayaan pun dimulai. Komi berpartisipasi jadi maid! Meski selama ini jarang bisa ikut acara sekolah, tahun ini Komi bisa ikut bantu-bantu, sehingga hubungannya dengan teman-teman kian dekat. Inilah jilid kelima kisah komedi sang cantik yang bisa membuat orang otomatis terpikat pada sosok hatinya! (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 5)

Anda ingin melihat Komi dengan pakaian maid? Tadano juga! Hemmm… Maksud saya Tadano juga pakai kostum maid! (meski pun Tadano memang penasaran dengan Komi ala maid.) Kata ‘maid‘ (bahasa Inggris) sendiri artinya pembantu/pelayan/gadis/babu/pelayan wanita. Di sini yang dimaksud adalah ‘maid cafe’ atau pelayan kafe, yang biasanya diperankan oleh gadis-gadis cantik. Sosok maid cafe cukup sering muncul di manga/anime, jika bukan karakter yang memang memerankan posisi itu, adalah tokoh tertentu yang menjadi maid cafe dalam situasi tertentu.

Menariknya komik ini dikemas dengan lebih bebas karena alirannya komedi. Bisa dilihat pada beberapa adegan, panel komik dibuat identik sampai dua halaman berturut-turut. Jenis penyampaian seperti ini biasanya bertujuan menggambarkan kejadian yang lambat atau lama. Pada gambar di atas Komi sedang bersama tokoh yang memiliki sifat lamban dalam berbuat sesuatu. Cara seperti ini cukup efektif ketika menyampaikan tema komedi, asalkan tidak terlalu sering karena akan membosankan.

Karena Komi memang tidak pernah bicara, maka lawan bicara akan membuat kesimpulan sendiri mengenai sikap Komi dan apa yang ingin disampaikan. Pengunjung maid cafe di sekolah yang merupakan penggemar dan pengamat maid sampai salah mengartikan maksud Komi sampai 180 derajat. Dunia benar-benar jungkir balik menghadari sikap Komi.
Komi Sulit Berkomunikasi #6
Komi, si gadis cantik yang sulit berkomunikasi, punya target untuk mendapatkan 100 teman. Berkat Tadano, dia sedikit demi sedikit mulai dekat dengan teman-teman sekolahnya, walau masih sangat tegang saat ikut karaoke. lalu, musim dingin pun tiba. Keseharian Komi tetap diselimuti kehangatan karena dia makin sering berkomunikasi dengan teman-temannya. Selain itu, mungkin karena hubungannya dengan Tadano mulai sedikit berubah. Inilah jilid keenam kisah komedi sang cantik berhati murni yang tampak dingin, namun selalu tegang di salam hati! (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 6)

Hubungan Komi dengan Tadano mulai berubah, tentu semakin menarik di sini karena ada bumbu-bumbu cinta. Saya pribadi tetap menikmati komik ini karena meski sedikit merambah romantisme tapi tetap dalam jalur: Komi sulit berkomunikasi. Komedi juga tetap mendominasi penyampaian cerita, meski terkadang tidak terlalu lucu namun kalau dipikir-pikir lagi jadi lucu.

Dalam jilid keenam ini juga muncul tokoh baru yang tak kalah ‘unik’ dari teman-teman Komi lainnya. Dia seorang anak lelaki yang memiliki kemiripan dengan Komi: sulit berkomunikasi. Namun bedanya kalau Komi terkesan elegan atau terkesan bangsawan, lelaki ini tampak selayaknya berandal. Efek orang sekitar pun tentu saja berbeda. Saya kurang suka dengan tokoh ini, tapi perlu ada di dalam cerita ini, dan saya pikir itu bagus.

Komi Sulit Berkomunikasi #7
Komi, si gadis yang sulit berkomunikasi, akhirnya manjalani kehidupan sekolah yang menyenangkan. Tapi, kini dia harus sedikit menjauh dari kesehariannya itu karena libur musim dingin dimulai. Dia jadi tak bisa bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Ingin mengajak mereka main, tapi tidak bisa. Mungkin karena menyadari perasaan Komi itu, teman-teman sekelasnya yang mengajak Komi main. Selama liburan, untuk pertama kalinya Komi mengadakan pesta Natal bersama teman-teman, mendapat kejutan, dan pergi ke kuil di Tahun Baru. Libur musim dingin ini sepertinya bakal ramai! (Dikutip dari sinopsis komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 7)

Saya membaca jilid kedua sampai ketujuh secara maraton pada bulan lalu. Waktu itu saya ingin segera menulisya di blog, tapi masih enggan karena malas. Kondisi saat itu saya sedang tidak terlalu semangat, mungkin efek jenuh dan bosan karena pandemi Covid-19 yang masih terus berlanjut. Saya juga tidak bisa menunjukkan ekspresi ketika membaca komik seperti biasanya. Saya tahu komik ini tetap bagus, tetap lucu, tetap menarik, tapi saya hanya bisa memahami saja. Saking bosannya menjalani hari, beberapa jilid saya baca di sela-sela waktu di kantor (terutama ketika jam istirahat).

Entah bagaimana semua teman Komi sampai sependapat mengunjungi Komi yang hanya berdiam di rumah ketika malam Natal. Malam itu juga merupakan malam ulang tahun Komi. Komi sendiri memang merasa kesepian (untuk pertama kalinya) karena liburan dan rindu teman-temannya. Tiba-tiba saja mereka semua mau mengunjungi Komi seolah mengerti perasaannya, sungguh keterlaluan wibawa Komi ini.
Hal kedua yang membuat saya tertarik (setelah judul) di komik ini adalah desain karakter Komi. Desain karakternya sangat bagus, tipe gadis cantik yang diidolakan banyak orang. Dan memang seperti itulah kesan Komi di mata masyarakat di dalam komik ini. Tokoh Komi memiliki tubuh ideal, kaki jenjang, dan rambut panjang hitam. Komi juga memiliki mata yang indah. Semua itu tampak sempurna dengan sikapnya yang dingin seolah ia tak mengkhawatirkan apa pun, dunia berjalan untuk melayani dia. Padahal seperti kita tahu Komi terlihat dingin karena kesulitan berkomunikasi sehingga memilih diam, di dalam hati dan pikirannya bergejolak ke segala arah.

Setiap akhir jilid komik Komi Sulit Berkomunikasi ini disertai komik bonus di belakang. Seperti komik lain, bonus seperti ini cukup menghibur dan kadang memberi informasi tambahan. Komik bonus di sini tidak memakai standar sama (mis. 4 panel) melainkan dibuat beragam. Contohnya pada jilid ke-4 komik bonus digambar dengan kualitas hampir sama dengan isi, dan pada jilid ke-6 gambar dibuat seperti sketsa (meski itu pun tetap bagus).

Seperti sudah saya singgung tadi, terkadang komik bonus dapat memberikan informasi tambahan terkait isi cerita asli tanpa berdampak besar (tidak berpegaruh terhadap isi). Misalnya komik bonus pada jilid ke-7: adik Tadano merasa ada aroma perempuan di kamar Tadano, hal ini cocok dengan isi cerita asli ketika Komi memang sempat menjenguk Tadano yang sedang sakit di kamar. Supaya lebih seru sebaiknya Anda membaca komik ini dan bersiaplah tenggelam sambil tersenyum bahagia.

Selain itu, yang semakin menarik lagi, komik bonus pada jilid ke-5 ternyata Tomohito ODA (mangaka/komikusnya) kolaborasi dengan komik “Mao-Jo de Oyasumi”. Saya sendiri belum tahu komik itu, tapi dari keterangan yang ditulis, dua komik ini karya populer yang sedang serialisasi di majalah Weekley Shonen Sunday. Keduanya juga “heroine”/srikandi. Dari ilustrasi dalam komik bonus di sini saya bisa memaklumi komik Mao-Jo de Oyasumi disukai banyak penggemar komik karena tokoh utamanya yang imut. Meski begitu saya tetap di pihak Komi.
Sekian saja yang dapat saya sampaikan tentang komik Komi Sulit Berkomunikasi vol. 1 – 7, sebenarnya masih ada banyak yang ingin saya bahas, namun sepertinya sebagian besar megenai cerita, dan saya tidak ingin memberi spoiler (beberan). Jika Anda punya masukan sila hubungi saya, mungkin seperti apakah saya perlu membeberkan isi cerita, atau cukup seperti ini saja. Anda juga bisa meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah. Terima kasih

Omong-omong saat ini pandemi Covid-19 di Indonesia sedang naik lagi sehingga peraturan diperketat. Awalnya pemerintah memberi istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk mengurangi aktivitas masyarakat di luar rumah, kemudian saat ini diganti menjadi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Sekarang semua toko dan warung makan beroperasi pada jam tertentu, misalnya harus tutup pada pukul 19.00 dan tidak boleh makan di tempat (bahkan tempat duduk tidak disediakan atau dibalik). Saya punya pandangan bahwa masa ini adalah salah satu momentum umat manusia untuk berubah menjadi lebih baik, lebih beradab dan peduli/tidak seenaknya (terutama di Indonesia). Seolah ada ancaman, “Anda pilih tertib atau mati!”, namun tanpa menodongkan senjata. Yah, bagaimana pun semoga manusia segera beradaptasi dan berevolusi, karena mungkin Covid-19 ini tidak akan hilang selamanya, kalau pun hilang akan sangat lama dari sekarang. Sampai jumpa!
