Ito Junji: Best of Best Short Story Collection

Ito Junji: Best of Best Short Story Collection

Terbit pertama kali di Jepang dengan judul Ito Junji Tanpenshu Best of Best pada tahun 2019 oleh Shogakukan. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia diatur dengan Shogakukan melalui The Kashima Agency, hak cipta terjemahan tahun 2019 lalu diterbitkan pertama kali tahun 2021 oleh M&C Akasha (PT Gramedia Pustaka Utama).

Dugaan saya buku ini baru diterbitkan setelah 3 tahun diterjemahkan ada kaitannya dengan pandemi Covid-19. Meski sampai saat ini pandemi masih berlangsung namun keadaan mulai terkendali dengan penerapan berbagai aturan, toko buku sudah buka dan mungkin penerbitan juga berjalan kemudian. Ada yang berbeda dengan kebanyakan buku komik yang yang saya beli, yakni logo Akasha. Tahun lalu saya memang sudah mendengar kalau M&C akan memiliki imprint baru yang khusus menerbitkan komik dengan target pembaca dewasa, dialah Akasha.

Gambar: mantel kover depan buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Buku ini memeiliki mantel kover, yakni sampul yang bisa dilepas, dengan ilustrasi berbeda dengan kover utama, namun saya sudah menyatukannya ketika memasang sampul plastik (seperti yang biasa saya lakukan), tentu saja setelah mengamati secara pribadi, artinya siapa pun yang meminjam buku saya sudah tidak bisa melihat kover dalam dan ilustrasi bagian dalam mantel kover. Selain itu juga ada beberapa halaman berwarna dan pinup (semacam halaman poster yang dilipat) di bagian awal buku.

Gambar: pinup di dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Tiga hal ini seperti komik atau novel Jepang yang saya lihat di dalam film atau manga. Akhir-akhir ini banyak saya jumpai Gramedia menerbitkan buku terjemahan dengan fisik mirip edisi asli, terutama manga. Hal ini mungkin menjadi jawaban pembaca dan penggemar yang memang menginginkan itu berawal dari komplain “kualitas komik terjemahan berbeda jauh dengan orisinal” sejak beberapa tahun terakhir. Saya pun demikian meski tidak terlalu berlebihan karena saya pikir penerbit memiliki alasan sendiri, maka jika sekarang keinginan pembaca itu terwujud saya juga sangat senang. Dengan begitu harga buku menjadi lebih mahal karena kualitas dan ukuran kertas juga dinaikkan, namun ternyata pembaca sangat yang menyukai (saya mengamati teman-teman dan orang di toko buku). Ini hanya dugaan saya karena saya belum melihat edisi asli buku ini.

Gambar: potongan halaman berwarna dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Dulu saya sering mendengar teman-teman membicarakan nama Junji Ito dan karyanya, saya pun tahu itu berbau seram atau mengerikan, maka saya tidak pernah mau membaca karya Junji Ito. Lebih awal lagi saya kira Junji Ito adalah judul film atau komik dan mereka membicarakan cerita di dalamnya, ternyata itu adalah nama pengarangnya.

Suatu hari saya ke toko buku dengan seorang teman, saya membeli banyak komik karena tertinggal banyak dan sedang bergairah untuk masuk dunia komik lagi (paling tidak membacanya dan menulis di sini). Ketika itu teman saya yang menemukan buku ini, tapi ia enggan membelinya karena lebih mahal daripada harga komik kebanyakan, saya pun langsung memutuskan untuk membeli, “ya sudah, saya beli!”. Setelah saya pikir-pikir lagi sambil berjalan di antara rak buku, “kenapa saya mau membeli karya Junji Ito tanpa berpikir? Padahal dahulu saya tidak mau bahkan sekadar mau tahu”. Saya pun ingat pernah bercakap dengan kawan bahwa semakin dewasa seseorang rasa takut dalam hal mengerikan, menjijikkan, dan mistis semakin turun karena sudah mengalami berbagai pengalaman. Dulu mungkin saya akan bertanya-tanya kenapa pengalaman bisa mengubah pandangan seseorang terhadap sesuatu, sekarang saya paham.

Gambar: potongan komik “The Human Chair” dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Ketika melihat-lihat isi komik ini sebelum membaca, saya sudah kagum dengan ilustrasinya. Ketika sedang membaca, saya semakin kagum dan sering berhenti lama untuk mengamati detail gambar, kalau saya bergidik bukan karena takut tapi ngeri, mengerikan bukan karena maksud visual tapi kualitas teknik gambar yang “mengerikan”. Tentu saja maksud visualnya pun tetap mengerikan, tapi saya sudah tidak setakut waktu dulu. Gambar karya Ito Junji ini sangat realistis sampai-sampai kamera ponsel saya mendeteksi semua wajah karakter ketika saya memotretnya untuk blog ini. Sebegitu nyata.

Gambar: potongan komik “The Licking Woman” dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Gambar paling mengerikan dalam buku ini bagi saya adalah wanita penjilat. Itu benar-benar menjijikkan sampai sedikit mual. Mungkin saya yang dulu akan banyak mual ketika membaca semua komik ini dan bermimpi buruk serta tidak berani ke mana-mana pada malam hari. Saya bahkan mulai membaca buku ini sudah hampir tengah malam, kemudian berhenti sudah lewat tengah malam, pagi saya lanjut membaca lagi. Ketika tidur saya tidak bermimpi sesuatu yang mengerikan atau menakutkan, meski sekarang sudah tidak ingat mimpi apa tapi saya yakin.

Gambar: potongan komik “Other Love of This Word” dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Detail gambar membuat saya semangat berkarya, bahwa di luar sana banyak orang-orang yang bekerja keras dan karena itu karya hebat lahir, maka apa guna saya bermalas-malasan. Mungkin saya tidak membuat komik lagi (belum), dan tidak bekerja di bidang komik, tapi setidaknya saya tidak akan meninggalkan dunia komik, saya akan berkontribusi dengan membeli komik, membaca, mengoleksi, dan menulis blog tentang itu. Dari dulu saya sering berandai budaya Indonesia dikemas dalam komik gaya Jepang (manga), meliputi perawakan orang, lingkungan, bangunan, nama, kebiasaan, pakaian, dan mitos. Saya kira banyak orang Indonesia yang juga memiliki imajinasi semacam Junji Ito sejak zaman dulu, itu terbukti dari banyaknya cerita rakyat yang tidak masuk akal dan kebiasaan berkhayal ketika sedang berkumpul. Saya bersama teman-teman juga sering melakukan itu.

Gambar: potongan komik “Memento” dalam buku “Ito Junji: Best of Best Short Story Collection”

Saya penasaran bagaimana isi pikiran Junji Ito hingga bisa melahirkan komik seperti ini. Apakah pikirannya tidak jauh-jauh dari hal-hal seperti ini setiap hari? Dugaan saya tidak, mungkin memang beliau memiliki banyak skenario dalam pikirannya karena fokus berkarya dengan konsep seperti ini, namun sepertinya Junji Ito juga memikirkan banyak hal yang lebih luas dan beragam. Saya berpendapat seperti itu setelah membaca buku ini, karena ternyata tidak semuanya berisi sesuatu yang mengerikan atau menakutkan seperti pandangan saya beberapa tahun terdahulu. Di sini saya menjumpai cerita yang beragam namun memiliki benang merah, saya kurang bisa menjelaskan, namun saya menyebut cerita komik Junji Ito ini adalah tragedi/misteri.

Satu lagi, biasanya orang menyebut nama Junji Ito, tapi di sini Ito Junji, kenapa begitu? Dulu saya juga bingung dan bertanya-tanya kenapa ada orang yang menyebut nama Naruto Uzumaki dan ada pulang menyebut Uzumaki Naruto. Waktu itu saya bertanya kepada beberapa orang yang saya pikir mungkin mengerti, tapi ternyata juga tidak. Suatu hari saya membaca komik (lupa kapan dan judulnya) yang sedikit membahas format nama orang Jepang, di sana dikatakan kalau budaya mereka menempatkan nama keluarga/marga/klan di depan alih-alih di belakang seperti kebanyakan negara lain. Jadi kalau kita biasa menyebut nama belakang seseorang menandakan asal keluarganya, di Jepang itu terletak di depan. Maka nama Junji Ito adalah nama internasional, sedangkan di Jepang ia ditulis Ito Junji. Nah, mungkin karena belakangan informasi berjalan semakin cepat, banyak orang yang lebih memilih menyampaikan sesuatu seperti apa adanya, seperti nama yang tidak perlu disesuaikan dengan negara lain karena orang sudah banyak yang mengetahui daripada menimbulkan kesalahpahaman.

Sekian, terima kasih!

Tinggalkan komentar