O halo! Saya hadir lagi dengan komik Indonesia Duet Mawut, dari judulnya saja sudah tidak santai, ya. Inilah komik karya Galang Tirtakusuma yang diterbitkan pada tahun 2013 oleh Koloni (PT Gramedia (m&c)) dengan judul lengkap Duet Mawut – Mendadak Boyband. Seperti sub-judulnya, komik ini terbit menanggapi demam boyband di Indonesia, ketika banyak orang menyukai gaya musik baru dari Korea Selatan. Boyband (grup vokal pria) sendiri menurut Wikipedia adalah sejenis kelompok musik pop atau R&B yang terdiri dari tiga anggota atau lebih, semuanya penyanyi laki-laki muda. Biasanya anggota grup vokal pria selain menyanyi juga menari dalam pertunjukan mereka.

Sampai sekarang musik asal Korea Selatan masih memiliki banyak penggemar di Indonesia, yang kemudian lebih sering disebut dengan K-Pop (Korean Pop), dan tidak hanya boyband namun juga girlband. Pada sekitar tahun 2013 demam K-Pop sempat memengaruhi musik lokal dengan hadirnya boyband Indonesia hingga serial televisi yang mana memang banyak sekali orang yang menyukai gaya baru. Saya sendiri tidak masalah dengan gelombang besar ini, saya bahkan berharap Indonesia mampu membuat banyak karya dengan kualitas sama bahkan lebih baik. Saya pikir selera ini menjadi tren baru dan akan mendominasi dunia, pandangan saya benar, sampai saat ini K-Pop bersama drama Korea (drakor) digemari banyak orang di seluruh dunia, hal itu berpengaruh terhadap selera fesyen, gaya rambut, rias wajah, bahkan bahasa Korea sangat diminati.

Namun, kala itu banyak pula orang yang tidak suka, baik itu benar-benar tidak suka atau hanya belum suka yang bisa dibilang tidak mau mengakui secara terang-terangan. Banyak orang di sekitar saya yang sebenarnya cukup tertarik musik, drama, atau film Korea namun tidak menunjukkan kepada umum, biasanya mereka menikmati di dalam kamar dan/atau bersama orang tertentu. Seperti dalam komik Duwet Mawut ini, dua tokoh utama berpihak dalam kontra boyband, mereka tidak ingin “ikut-ikutan” arus namun terseret juga secara perlahan. Banyak kejadian dalam komik ini sangat sesuai dengan kenyataan waktu itu, ketika K-Pop awal menyebar di Indonesia, seperti bermunculan grup vokal dan sinema elektronik (sinetron) seperti yang sudah saya sebutkan tadi, bahkan sempat ada ajang pencarian bakat khusus boy and girlband. Di kalangan umum banyak orang meniru gaya pakaian dan rambut, gaya bahasa, bahkan kebiasaan atau budaya Korea. Mungkin waktu itu dianggap berlebihan karena mendadak banyak orang melakukan itu sampai-sampai pihak pro dan kontra sangat tampak, banyak orang membicarakan itu di mana-mana. Dampaknya pihak pro K-Pop menurun, bisa dibilang mengurangi porsi di muka publik, karena dicibir pihak kontra yang mengatakan tidak menghormati budaya sendiri. Perlahan boyband dan girlband lokal sampai ajang pencarian bakat bubar lalu grup band dan penyanyi indie lokal kembali bangkit.
Sekarang saya rasa keduanya berjalan berdampingan dengan damai, tidak terlalu digaung-gaungkannya kekoreaan justru bisa memperlancar minat dengan lebih barhati-hati. Penggemar K-Pop tetap berjalan, di sisi lain pasar musik yang telah lebih dulu juga berjalan, semua ini sangat wajar, sesuatu yang baru membuat yang lama merasa terancam, namun indah jika bisa beriringan apalagi saling menghormati. Ah, ini hanya pandangan pribadi saya melihat dunia sekitar, saya bukan ahli dan tidak berdasarkan pada kajian lebih dalam.

Tak lupa komik ini juga membahas keberadaan penggemar hiburan Jepang yang lebih dahulu menjamur di Indonesia (selain pihak kontra K-Pop kelompok kearifan lokal). Penggemar Jepang ini meliputi karya komik (manga), anime (animasi), film, musik, budaya, dan bahasa. Ada satu kunci yang menjadikan kedua hobi ini bentrok, adalah musik. Ini sudah seperti kelompok supporter sepakbola yang sering rusuh di Indonesia, pada akhirnya hal seperti ini umum terjadi dalam banyak kasus yang melibatkan massa skala besar, misal agama, olahraga, partai politik, dan sekarang musik bahkan budaya (masalahnya bukan budaya sendiri, hahaha). Melihat semua ini menjadi hiburan sendiri bagi beberapa orang, termasuk saya dan beberapa kawan. Mungkin itu juga yang menjadi inspirasi Galang Tirtakusuma menciptakan komik Duwet Mawut – Mendadak Boyband ini, sangat bagus karena mengekspresikannya dengan karya, hormat untuk Galang!
Mengenai kualitas gambar dan cerita sudah tidak diragukan lagi, sangat keren! Sejak awal saya membaca komik Galang Tirtakusuma saya sudah tertarik dan kagum. Saya yang waktu itu juga sedang bersemangat dalam berkomik, menjadi termotivasi penuh untuk berkarya, saya bahkan berambisi membuat komik yang lebih hebat dari karya Galang, setidaknya sama, dan terus berlatih dan berusaha. Gilang Tirtakusuma adalah salah satu inspirasi saya. Komik ini saya beli pada tahun 2014 dan baru saya baca sekarang (beberapa hari yang lalu) dengan beberapa alasan, salah satunya adalah karena saya yakin komik ini bagus meski saya belum pernah melihat isinya dan saya berharap akan membacanya pada waktu yang tepat. Dan, tepat!
Mengutip kata-kata teman saya yang berkaitan dengan tulisan ini: “semua akan K-Pop pada waktunya,” dan “komik strip Indonesia terbaik sejauh ini masih karya Galang, belum ada tandingan.”
Saya setuju dengan kedua pernyataan di atas, maka saya berpesan kepada Anda yang bekerja atau berminat pada bidang terkait agar tetap semangat dan terus berkarya, zaman sudah berubah dan berjalan semakin cepat, hal wajar jika mengabaikan pandangan orang lain (terutama yang kontra) dan fokus pada minat dan impian diri sendiri. Banyak ruang terbuka dan akan terus berlanjut sampai seterusnya, itulah yang dilakukan manusia dan ini juga hasil jerih payah pendahulu kita.
Sampai jumpa!
