Halo semua! Akhirnya saya bisa menulis lagi hari ini untuk kalian (padahal yang membaca 1-2) dengan komik yang baru saja selesai saya baca, yakni Kowaiya. Sebenarnya memang selama ini pula saya tidak membaca komik sama sekali, hanya menyelesaikan satu novel.

Masih seperti terakhir kali saya pos blog, pandemi Virus Corona 19 (Covid-19) masih merajalela, setiap hari semua orang harus memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan. Banyak aktivitas yang harus dikerjakan dari rumah, misalnya sekolah dan bekerja. Sekarang saya sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah studio animasi setelah selesai dengan studio komik, dampak dari pandemi ini. Banyak hal terjadi, masalah dan rencana, harapan dan putus asa.
Namun saya tidak akan menceritakan itu, di sini saya akan membahas komik Kowaiya seperti yang sudah saya sampaikan tadi. Mari kita awali dengan katalog dalam terbitan. Ini dia!

Komik Kowaiya, ternyata memiliki judul lengkap Fantasteen Series: Kowaiya dengan 5 jilid yang masing-masing memiliki sub judul sendiri, yaitu:
- Changeling Chapter (terbit: April 2017)
- Doppelgangger Chapter (terbit: April 2017)
- Skeleton Waltz Chapter (terbit: April 2017)
- Ebu Gogo Chapter (terbit: Juli 2017)
- Jack O Lantern Chapter (terbit: November 2017)
Ini adalah komik Indonesia, pengarangnya ada dua orang, yakni Ahmad Mahdi sebagai penulis dan Mustafa Kamal sebagai ilustrator. Kebetulan saya kenal dengan dua orang tersebut, bahkan saya juga mendapat tandatangan untuk Kowaiya ini, tapi hanya jilid 1-3 dan oleh Mustafa Kamal saja. Saya mendapat komik ini pun juga langsung membeli kepada mereka dengan diskon dan sebagai tanda perpisahan kami. Saya sangat berterima kasih dan hormat kepada mereka berdua yang luar biasa.

Lanjut, Kowaiya diterbitkan oleh Muffin Graphics (PT Mizan Pustaka) dari bulan April sampai November 2017. Saya tahu nama Fantasteen adalah buku kompilasi komik dengan tema seram yang diterbitkan oleh Muffin Graphics, dan ternyata Kowaiya adalah bagian dari itu.
Judul Komik Kowaiya diambil dari nama toko buku milik kakek Mojito yang merupakan tokoh utama kisah ini. Kakek Mojito bisa melihat hantu, dan ia mencoba memecahkan berbagai masalah supranatural dibantu dengan beberapa temannya, baik itu manusia maupun makhluk halus.

Meski tokoh utamanya adalah seorang kakek, tokoh pendukung yang menjadi kawannya beragam usia dan latar belakang, seperti guru perempuan dan seniman, yang jelas semuanya lebih muda dari kakek Mojito.
Nah, ada yang menarik di sini: “seniman”, lebih tepatnya dia komikus (pembuat komik), jadi lebih terasa bagaimana kehidupan seorang komikus, mungkin memang itu yang ingin ditunjukkan juga oleh Ahmad Mahdi dan Mustafa Kamal. Meski pun saya kurang suka dengan gagasan seperti ini, tapi bukan masalah.

Sekarang saya akan membahas tentang ilustrasi / gambar dalam komik Kowaiya, karena itu sangat menonjol di sini terutama jika dibandingkan dengan komik lain yang selama ini ada di toko buku. Gaya gambar Mustafa Kamal memiliki ciri yang khas dan unik. Saya sudah mengenalnya sejak lama dan memang seperti itu, mungkin gaya ini tidak semua orang bisa menikmati.
Yang saya rasakan ketika melihat gambar Mustafa Kamal adalah bebas dan luwes, artinya semua seperti dibuat begitu saja tanpa rumus & teori pasti dan mengalir seperti air. Oke, ini karya seni yang indah dan jujur, TAPI saya kurang setuju lagi. Karena di sini sudah masuk industri, media untuk publik, maka menurut saya masih banyak yang harus disesuaikan, seharusnya itu tugas editor.

Ada beberapa ilustrasi yang saya tidak mengerti apa itu, setelah saya amati beberapa saat barulah saya paham, atau setelah lanjut beberapa panel baru saya mengerti maksud gambar tersebut. Hal ini penting karena di sini komik hanya berupa warna hitam dan putih. Memang sulit menampilkan visual dalam dua warna saja, terutama kasus di Kowaiya ini adalah komik horor dengan gaya gambar unik, yang mana keduanya memiliki kekuatan yang seimbang, bahkan seolah saling berebut ingin perhatian.

Lalu, sudut pengambilan gambar juga kurang nyaman, terlebih jika itu terjadi dalam perpindahan panel. Beberapa kali saya kebingungan karena tidak mengerti di mana posisi mereka sebenarnya, apa yang terjadi, dan bagaimana situasinya. Meski itu tidak banyak tapi cukup mengganggu.
Meski begitu secara keseluruhan tetap baik dan saya bisa menangkap ekspresi komik ini, saya juga sangat menghargai karena ilustrasi komik ini jelas sekali dibuat secara tradisional.

Sebenarnya saya membaca komik ini, jilid 1 sampai 3, pada bulan Maret 2020, namun baru lanjut lagi jilid 4 dan 5 pada Oktober karena waktu itu baru memiliki tiga saja. Nah, pada dua jilid terakhir ini saya mendapati beberapa parodi yang diselipkan, terutama pada jilid 4, misalnya Kamen Rider (film) dengan kata “hensin!“, The Yellow Monkey (grup musik) pada jaket. Ada pula tokoh yang saya pikir desainnya terinspirasi dari salah satu musisi The Yellow Monkey. Tapi entahlah, biarlah itu menjadi konspirasi yang akan menyenangkan pengarangnya. Hahaha!
Dalam setiap jilid komik Kowaiya juga ada komik bonus yang diletakkan di bagian akhir, biasanya mengenai dua pengarangnya.

Sekarang membahas tentang cerita. Sama halnya dengan visual, cerita juga bisa ditangkap intinya saja dan mengabaikan detailnya (menurut saya). Perbedaannya cerita bisa lebih jelas karena memakai kata-kata yang memiliki arti sebagai alat komunikasi. Lalu, di dalam komik mengandung keduanya dan harus bergerak bersama.
Di komik Kowaiya ini saya merasa ceritanya ringan dan tidak menyeramkan, saya tidak tahu apakah memang seperti itu tujuannya. Padahal menurut saya gambar sudah cukup mendukung, untuk menampilkan dan memberi rasa ngeri kepada pembaca.

Secara umum cerita bagus, saya cukup puas dan suka dengan konsepnya. Namun seperti yang saya katakan tadi, mungkin ini mengenai cara penyampaian. Meski tema komik ini seram, namun ada banyak komedi dan tokoh yang terkesan kurang serius, terlalu santai dalam menghadapi situasi yang mencekam ini. Sekali lagi, saya tidak tahu apakah itu memang tujuan Ahmad Mahdi dan Mustafa Kamal.
Saya tidak bermaksud menjelekkan komik ini, saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan ketika membaca, meski pun saya sebagai komikus juga ketika membuat komik pasti punya banyak sekali kekurangan. Terlebih misalnya saya yang membuat ilustrasi Kowaiya ini, tentu hasilnya belum tentu juga lebih baik dari ini. Semua seniman punya gaya dan konsep sendiri.

Semoga dunia komik Indonesia terus berkembang menjadi lebih baik dan jangan sampai mundur. Saya pernah mendengar dari sahabat saya: “tetap sebenarnya adalah sebuah kemunduran”, katanya.
Sampai jumpa di pos selanjutnya.
