Kissaki 3-zun atau Kissaki Sanzun adalah manga karya Ryoji Hido beraliran perempuan (shoujo). Pertama kali diterbitkan pada tahun 2014 oleh Hakusensha, Inc., di Tokyo, Jepang. Diterjemahkan dalam edisi bahasa Indonesia pada tahun 2015 dengan judul Summer Love and kendo oleh M&C (PT Gramedia Pustaka Utama). Manga ini hanya satu volume, selesai.

Yasao Muroi baru dua bulan bergabung dengan klub kendo putra SMA Nekoya. Tujuannya adalah untuk menjadi cowok yang kuat karena ia selalu “diperbudak” oleh cewek sejak kecil. Di sekolah, Yasao berusaha membujuk Shogo Sassa, teman sekelasnya yang pendian dan penyendiri, untuk bergabung dengan klub kendo. Apakah yang akan terjadi ketika Yasao mengetahui jati diri Sassa yang sesungguhnya? Di tengah situasi itu, turnamen penyisihan Interhigh musim panas dimulai.

Aliran manga ini memang shoujo (untuk perempuan), tapi tidak melulu tentang kisah cinta yang manis seperti kebanyakan. Bahkan dari alur cerita, yakni perjuangan seorang biasa dalam bidangnya, mirip manga shonen (untuk laki-laki). Meski begitu ini terasa lebih realistis, maksudnya dalam kenyataan hidup memang tidak selalu berhasil dan penuh ambisi seperti tokoh manga shonen populer.

Meski manga ini hanya satu volume saja, tapi isinya begitu padat (lihat dua gambar di atas) hingga membutuhkan waktu lebih lama saat membaca, dan ketika selesai akan merasa sudah membaca komik yang panjang. Telah menyaksikan kisah yang rumit, beragam, dan berproses. Hido-sensei sangat hebat! Saya senang dengan peneling-nya. Gaya gambar juga sangat bagus dan rapi.

Mengenai tata letak efek dan hiasan itu memang khas manga shoujo, seperti ekspresi wajah tokoh yang penuh kasih dan jujur. Bahasa tubuh dan beberapa sikap tokoh laki-laki juga demikian, hal yang hampir tidak mungkin ditemukan dalam manga shonen. Bagi pembaca perempuan kebanyakan pasti ini sangat menyenangkan. Saya jadi mempelajari sesuatu daru situ. Omong-omong, komik strip di akhir setiap bab itu keren!

Menjelang akhir saya mendapati tokoh perempuan pendukung muncul dengan “biasa saja”, saya benar-benar terkejut. Mereka digambarkan dengan sederhana, benar-benar menjadi karakter pendukung saja. Yang saya kagumi juga adalah pengemasan kali ini berbeda, ada bumbu komedi yang entah kenapa membuat saya sangat menyukainya. Saya menyukai reaksi dan ekspresi di akhir manga ini, sungguh. Meski memang sedikit canggung ketika melihat karakter laki-laki seperti dalam sebagian besar komik ini, tapi saya bisa memakluminya.

Sekian pengalaman saya ketika membaca komik kali ini. Saat ini pandemi virus Corona (COVID-19) masih berlangsung, membuat semua orang harus tetap di dalam rumah. Sebagian besar jalan di lingkungan saya ditutup. Peringatan di mana-mana, jalanan dan swalayan lebih sepi, semua orang harus memakai masker dan harus sering mencuci tangan pakai sabun. Banyak pula orang-orang yang sudah kehilangan pekerjaan akibat perusahaan yang tidak beroperasi, seperti toko buku. Jakarta yang menjadi ibukota negara adalah yang paling parah kondisinya. Saya berharap dengan pandemi ini kita bisa berubah menjadi lebih baik, lebih bijak, dan lebih waspada.
Sampai jumpa.
