My “Sweet” Darling

My “Sweet” Darling

“Kacau! Kacau balau!” itulah kata yang tak sabar ingin saya sampaikan di sini. Itulah kata yang tepat untuk komik yang baru saja selesai saya baca. My “Sweet” Darling karya Airi Sano. Saya benar-benar terkejut membaca cerita seperti ini! Benar-benar mengejutkan seperti yang sudah disampaikan di kover belakang buku:

“Kalau kamu pikir ini kisah “cinta segitiga” yang biasa, kamu pasti bakalan terkejut!!”

Dikutip dari bagian belakang kover komik My “Sweet” Darling.
Gambar: kover depan manga My “Sweet” Darling.

Diterbitkan dengan judul asli Onyanoko Darling pada tahun 2014 oleh Shogakukan di Jepang. Lalu edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada tahun 2016 dengan judul My “Sweet” Darling.

Ritsu Sakuragi mempunyai teman baik yang sangat dia banggakan, Nakai Yuna. Sementara di tempat kursusnya, dia mempunyai rival yang sangan dibencinya bernama Mahiro Kanzaki.

Suatu hari, Yuna mengatakan ada orang yang disukainya dan itu membuat Ritsu penasaran. Lalu saat tanpa sengaja bertemu dengan Kanzaki, dia melihat Kanzaki mengenakan gelang yang sama dengan yang dikenakan Yuna. Apa ini artinya, orang yang disukai Yuna adalah Kanzaki…!?

Sinopsis manga My “Sweet” Darling, dikutip dari bagian belakang kover bukunya.
Gambar: ilustrasi manga My “Sweet” Darling.

Kenapa saya mengatainya “kacau” di awal tadi, karena ini benar-benar diluar dugaan sebelum membacanya. Latar tempat cerita ini adalah di sekolah khusus perempuan dan tempat kursus. Di sana terjadi sebuah cinta segitiga yang “unik!”, melibatkan Ritsu, Kanzaki, dan Yuna. Ternyata Yuna yang awalnya diduga sebagai pacar Kanzaki hingga membuatnya cemburu adalah orang yang sama. Ya, Kanzaki memerankan sosok kakak kembarnya, Yuna, di sekolah itu karena “Yuna yang asli” kabur dari rumah bersama pacarnya. Karena itu adalah sekolah yang mahal dan terlanjur membayar, Kanzaki pun dipaksa oleh ibunya menggantikan kakaknya dengan kostum cewek.

Gambar: Yuna dan Ritsu saat di pemandian.

Masalahnya juga, sosok Yuna (yang sebenarnya Kanzaki) di sekolah putri itu justru menjadi sangat populer karena cantik. Sedangkan Ritsu juga populer karena karakternya yang kuat dan suka membantu, dianggap sebagai sosok “pangeran” di sekolah itu. Keduanya dianggap sebagai pasangan yang sempurna dan mempunyai penggemar yang banyak. Sungguh rumit memang cerita ini, tapi karena itulah yang membuatnya menarik.

Pengemasan yang sempurna! Kerjasama antara gambar dan cerita sangat serasi. Terima kasih, Sano-sensei! Saya senang membacanya.

Gambar: ilustrasi manga Shy & Awkward Love.

Ini adalah manga tankoubon, satu buku tamat, namun di dalamnya ada ada dua manga lagi selain yang dijadikan judul utama buku. Yaitu, Shy & Awkward Love dan Winter, Low Fever.

Shy & Awkward Lover bercerita tentang cewek canggung yang ditembak seorang cowok populer di kelasnya. Mereka menjalani pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Manga kedua ini saya juga sangat menyukainya, meski tak seheboh My “Sweet” Darling, tapi unik juga. Sangat sederhana dan terasa dekat karena lebih masuk akal.

Gambar: ilustrasi manga Winter, Low Fever.

Terakhir, ada manga “Winter, Low Fever”, bercerita tentang pertemuan teman lama setelah dua tahun. Diawali dengan cinta bertepuk sebelah tangan dari si cewek. Dibandingkan dari kedua cerita sebelumnya, saya kurang suka dengan yang ini. Baik dari sisi cerita maupun gambarnya. Bukan gambar secara keseluruhan, tapi lebih spesifik ke tokoh cewek, entah kenapa dia seperti laki-laki, mungkin karena rambutnya pendek.

Gambar: novel After “Sweet Darling”.

Di akhir buku ada novel After “Sweet Darling” yang merupakan kelanjutan cerita manga My “Sweet” Darling sebelumnya. Mungkin lebih tepatnya bisa disebut cerpen, tapi bukan masalah. Saya cukup terkejut mendapati ini, karena sangat jarang ada komik berbonus novel di dalamnya. Ide ini juga cukup bagus karena saya juga suka membaca novel.

Satu hal yang membuat saya kecewa dan tidak nyaman adalah salah ketik. Semoga tim penerbit lebih hati-hati lagi, karena Anda adalah profesional.

Gambar: kover belakang manga My “Sweet” Darling.

Secara keseluruhan manga ini tidak benar-benar seperti manga shoujo pada umumnya, ada sedikit sisi shonen-nya, menurut saya begitu. Hal itu ditunjukkan dengan beberapa ekspresi “gila” dari karakter, seperti ketika berteriak. Dan juga adegan berkelahi yang terlihat kuat. Karena memang tidak terlalu bergaya shoujo, jadi lebih nyaman dibaca.

Sekian pembahasan saya kali ini. Omong-omong hari ini saya sudah membaca tiga komik dan menulisnya di sini pula. Karena pekerjaan menggambar komik saya sudah selesai kemarin malam, jadi hari ini adalah jeda sampai menerima naskah selanjutnya. Saatnya menghabiskan waktu dengan membaca komik yang sudah menumpuk. Maafkan saya, Dewa Komik!

Sampai jumpa dan terima kasih telah membaca.

Tinggalkan komentar