Tiga Bayangan

Tiga Bayangan

Berapa harga yang rela kaubayar untuk menyelamatkan anakmu?

Mula-mula semuanya terasa indah. Kehidupan berlangsung manis dan sederhana di rumah keluarga Joachim, di lembah yang diapit perbukitan. Namun kemudian segalanya berubah. Tiga bayangan mendatangi, mengikuti ke mana pun mereka pergi. Mereka hendak mengambil si kecil Joachim.

Kisah mengharukan dan menegangkan ini adalah fabel tentang kasih sayang orangtua, tentang merelakan dan menerima kesedihan.

Gambar: Novel grafis Tiga Bayangan.

Memiliki judul asli Three Shadows, novel grafis Tiga Bayangan adalah karya Cyril Pedrosa. Diterbitkan oleh Guy Delcourt Productions pada tahun 2007 dan edisi bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2009. Cyril Pedrosa sendiri adalah seniman komik asal Prancis yang memulai karier dari dunia animasi, pernah berkarya di film-film Disney. Three Shadows tercipta dari kesedihannya yang mendalam ketika melihat anak sahabat-sahabatnya yang meninggal dalam usia dini.

Gambar: Kover belakang dan depan novel grafis Tiga Bayangan.

Yang langsung membuat saya tertarik untuk ingin membaca buku ini adalah ilustrasi sampulnya, kemudian judulnya, lalu embel-embel “novel grafis” yang tertera di bagian belakang kover. Saya pun penasaran bagaimana gambar di dalamnya, saya tidak bisa menahan lagi. Dan ternyata benar, sangat memukau! Ini keren sekali!

Gambar: Ilustrasi pada novel grafis Tiga Bayangan yang memukau.

Seketika saya setuju jika karya ini diberi label novel grafis dan mulai membacanya dari halaman paling awal, dengan perlahan. Saya memerhatikan setiap detail gambar karena saya tak henti-hentinya mengagumi dan tidak mau terlewatkan menikmati, jadi ingin rasanya membuat karya seperti ini. Terasa sekali bagaimana perasaan Cyril Pedrosa tertuang melalui tintanya, goresannya sudutnya dan kata-katanya.

Gambar: Bagian dalam novel grafis Tiga Bayangan.

Perlu latihan, jam terbang, pengalaman dan pengamatan yang luar biasa untuk membuat gambar seperti ini. Mungkin bisa dibilang gaya gambar ini “sangat Disney” atau khas Disney. Ya, tidak bisa dipungkiri pengaruh animasi sebagai pekerjaan Cyril Pedrosa. Karakter yang luwes dan desain yang tidak membosankan. Misalnya adalah tokoh ayah yang tinggi besar benar-benar digambarkan seperti itu dan anak kecil dibuat jauh lebih kecil sampai seolah akan bisa diangkat hanya dengan dua jari.

Gambar: Salah satu bagian cerita Tiga Bayangan digambarkan dengan simpel.

Cyril Pedrosa sangat pandai dalam menyampaikan cerita dengan tergantung situasinya. Meski sebagian besar gambar memakai garis, namun ada bagian yang ia sampaikan dengan bayangan tokoh tanpa background, karena itu adalah mementum penuh haru. Dengan begitu kita akan merasakan apa yang dirasakan tokoh, tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Kejadian ini adalah saat di mana sang ayah akan membawa pergi jauh anaknya, berpisah dengan istri demi menghindari sosok tiga bayangan yang terus mengintai.

Gambar: Kemunculan sosok tiga bayangan yang meneror keluarga Joachim dalam novel grafis Tiga Bayangan.

Jadi, keluarga Joachim sebenarnya sudah hidup tenang di sebuah desa yang asri. Adalah seorang ayah, istri dan anaknya yang masih kecil. Hingga suatu ketika mereka sangat cemas karena kehadiran tiga sosok bayangan yang berkali-kali mengawasi mereka, bahkan semakin sering dan semakin mendekat. Demi rasa sayangnya, ayah membawa pergi sejauh mungkin anaknya untuk mengindari tiga bayangan itu. Terus menjauh tanpa tujuan pasti karena hanya itu yang bisa dilakukan. Namun ternyata ketiga bayangan tetap mengikuti, di mana pun tempatnya.

Gambar: Ilustrasi yang dibuat lebih rumit dan detail untuk menyampaikan keramaian.

Pada saat sudah putus asa, ayah Joachim menukar hatinya dengan kekuatan yang besar hingga membuatnya menjadi sosok monster untuk melindungi si anak. Kekuatan itu didapat dari tawaran seorang tua ketika terdampar di tempat asing, karena tiga bayangan muncul di tengah badai dalam perjalanan Joachim dan ayahnya saat menaiki kapal.

Gambar: Ayah Joachim menjadi monster berkekuatan besar namun tanpa hati.

Ayah Joachim memang sangat kuat setelah menjadi monster, Joachim disembunyikan dalam genggamannya untuk menerjang semua yang menghalangi. Meski begitu, monster ayah dikuasai oleh amarah karena hatinya sudah diambil. Pada akhirnya sekuat apapun ayahnya melindungi Joachim, ia tetap ditemui ketiga sosok bayangan. Mereka sebenarnya menjemput Joachim karena masa hidupnya sudah habis, jadi siapapun tidak bisa menghentikan itu, termasuk rasa sayang orang tua.

Gambar: Adegan perkelahian yang terjadi di atas kapal, tiga sosok misterius tiba-tiba menyerang.

Memang itulah yang ingin disampaikan Cyril Pedrosa, kematian tidak bisa dilawan ketika memang sudah saatnya. Pada akhir buku ini juga disampaikan agar kita menjalani saja hidup ini dengan lapang dada, memang tidak semuanya indah tentu saja. Namun, setidaknya dengan rasa ikhlas tentang kejadian apapun, kita bisa menikmati hidup sepenuhnya. Tidak memaksakan, tidak membenci dan tidak berbohong. Mari kita ambil pelajaran dari kisah keluarga Joachim yang kini sudah hidup damai lagi dengan memiliki dua anak perempuan yang manis.

Terima kasih.

Tinggalkan komentar