Showa Man

Showa Man

Sesuai judulnya, Showa Man karya Irie Kiwa menceritakan seseorang dari generasi Showa. Terbit tahun 2005 di Tokyo, Jepang, oleh Kondansha Ltd. dan tahun 2009 di Indonesia oleh penerbit M&C, PT Gramedia. Meskipun sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia sejak tahun 2007, namun cetakan pertama baru muncul dua tahun kemudian. Panjang komik ini hanya dua buku tamat, sangat cocok untuk penikmat manga pendek.

Gambar: Komik Showa Man buku 1 dan 2

Generasi Showa sendiri berkisar antara tahun 1925 sampai 1988. Nah, tokoh utama dalam manga ini adalah seorang kakek dari generasi itu, artinya dia telah melewati masa perang, kekacauan dan transisi pasca-perang di Jepang dalam Perang Dunia II. Kemudian dihadapkan dengan zaman sekarang (abad 21), dimana pola pikir manusia dan kehidupan sudah berbeda. Hal itu ia lalui bersama anak dan cucu di rumah tuanya bersama istri juga.

Gambar: Tokoh kakek Shigeo Minoura dalam komik Showa Man

Saat membaca komik ini, saya merasakan bagaiman pertentangan antara generasi tua dan genersai muda saat ini. Sangat mencolok karena tokoh utama, seorang kakek bernama Shigeo Minoura, sangat mempertahankan tradisi lama, kebiasaan dan pemikiran ketika dia masih muda berusaha diterapkan pula kepada anak-cucunya sekarang. Akibatnya sering terjadi perselisihan bahkan pertengkaran hebat. Si anak merasa ayahnya terlalu kolot, sedangkan sang ayah merasa anaknya tidak becus.

Gambar: Salah satu adegan dalam keluarga Minoura

Saya pikir alur kehidupan dan kejadian dalam manga Showa Man, yang berlatar Jepang, tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara ini, Indonesia. Selain perselisihan antar generasi, juga ada sistem kekeluargaan yang mirip. Anak pak Shigeo Minoura sudah menikah dan membangun rumah di dekat rumah orang tuanya, memiliki anak laki-laki yang baru masuk Taman Kanak-kanak (TK) bernama Rintaro. Pak Minoura sangat keras dan galak dalam mendidik, sehingga beliau enggan menerima budaya baru dan berusaha mempertahankan budaya yang ia banggakan. Salah satu contoh adalah ketika cucunya akan disekolahkan di TK Kristen, dia sangat menentang karena dianggap sebagai budaya dari negara yang dulunya menjadi musuh Jepang ketika perang.

Gambar: Pak Minoura yang sering marah dan bertindak semaunya sendiri

Mungkin, masalah sepanjang komik ini berpusat pada sekolah TK, Rintaro dan kekeknya lalu menyeret beberapa keluarga yang terlibat. Karena prinsip hidup pak Monoura benar-benar diuji ketika dihadapkan dengan ayah teman Rintaro yang pekerjaannya tidak jelas, bahkan sampai menumpang di rumah keluarga Minoura dan masalah pun menjadi semakin rumit. Oke, saatnya Anda membaca sendiri manga ini supaya tidak penasaran. Sebenarnya kakek Shigeo ini orangnya baik, lho! Dia sangat sayang kepada cucunya. Fu-fu-fu… (Serius, tidak bohong.)

Gambar: Bukti kalau kakek Shigeo sayang cucunya

Sebagai penutup, berdasarkan pengakuan mangakanya (mangaka: penulis sekaligus pelukis manga; sama dengan komikus), cerita ini terinspirasi dari sebuah keluarga nyata yang memiliki toko tatami (wah lupa! pekerjaan pak Minoura juga membuat tatami). Irie Kiwa melakukan riset selama ENAM TAHUN! Padahal ia juga bilang kalau itu bukan hal yang wajar, tapi orang Jepang memang tidak tanggung-tanggung, ya. Hormat kepada Kiwa sensei!

Gambar: Kover belakang komik Showa Man 1-2

Semoga kita sebagai manusia bisa menerima kehidupan yang beragam dengan mata terbuka. Bisa menggunakan akal dan hati dalam budaya modern. Hidup bukan hanya tentang kakek Shigeo Minoura, tapi juga ada kehidupan orang lain di sekitar.

Tinggalkan komentar