Arigato Macaroni

Arigato Macaroni

Komik lokal yang satu ini tidak asing lagi bagi penggemar komik Indonesia. Ya, Arigato Macaroni karya Erfan Fajar. Diterbitkan secara mandiri tahun 2014 sampai 2018, terdiri dari lima buah buku, artinya satu buku tiap tahun. Arigato Macaroni juga pernah diterbitkan oleh penerbit Koloni, namun saya mambaca dan memiliki yang Collector’s Edition, yakni edisi keren yang dikeluarkan oleh Erfan Fajar sendiri dengan kualitas lebih baik. Kertas yang dipakai adalah artpaper, tebal, halus dan memang layak untuk dikoleksi.

Gambar: Komik Arigato Macaroni buku 1 sampai 5 (tamat)

Pada awalnya, pertama kali dengar, saya tidak berminat karena judulnya mengandung bahasa jepang, Arigato. Saya kira isinya tidak lebih dari manga pada umumnya, atau mungkin berbau budaya lokal dengan gaya Jepang. Ternyata saya salah besar, saya telah melakukan kesalahan dengan melihat komik ini hanya dari judulnya. Arigato Macaroni tidak ada unsur Jepang-nya sama sekali, saya pun membeli jilid 1 dan 2 pada acara Pasar Komik Bandung (Pakoban) tahun 2015 langsung di lapak Pak Eru, panggilan Erfan Fajar, dan meminta tanda tangan. Kemudian tiga buku lagi ketika Pakoban #7 2018, sayangnya beliau sedang makan siang, jadi saya tinggal dulu dan mengambil sore hari, buku sudah ditanda-tangani.

Gambar: Tanda tangan lengkap Pak Eru di komik Arigato Macaroni

Nah, isi komik ini adalah kisah kakak beradik Osei (usia 4) dan Yuki (usia 2) yang memiliki ayah seorang seniman komik. Kelakuan unik sehari-hari dua anak kecil ini menginspirasi ayahnya yang komikus. Banyak sekali hal tak terduga yang menggelitik pembaca, misalnya istilah baru yang mereka ciptakan untuk menyebut suatu kondisi, Kacapalayangan artinya gabungan dari pusing, lemas dan malas. Juga ada banyak cerita yang diambil dari sudut pandang anak-anak yang tidak terpikirkan oleh orang dewasa, seperti bagaimana menggambarkan detak jantung.

Gambar: Osei dan Yuki penasaran dengan suara detak jantung ayahnya

Menjadi sorang komikus itu tidak mudah, apalagi yang sudah berkeluarga, begitulah kira-kira yang ingin disampaikan Pak Eru dalam Arigato Macaroni. Memang, komik ini terasa seperti sebuah curahan hati Erfan Fajar sebagai seniman komik dan hal menarik yang terjadi dalam keluarganya, terutama tentang kedua anaknya. Ini tidak bisa dipungkiri karena beliau juga selalu membawa keluarganya ketika membuka lapak di Pakoban, dua anak dan istri. Sama persis dengan di dalam komik, mereka memang inspirasinya. Lika-liku menjadi komikus ketika sedang gundah karena suasana hati yang tidak stabil maupun faktor eksternal adalah sebuah perjuangan, antara terus berkarya atau menyerah.

Gambar: sang ayah dihadapkan dengan kenyataan tangan yang terluka dan profesi sebagai komikus

Setiap cerita disampaikan dalam beberapa halaman saja, tidak ada kepastian jumlah halaman dan jumlah bab membuat komik ini terasa sangat jujur. Gaya gambar dan cara mengekspresikan cerita benar-benar mampu menyihir pembaca, saya sebagai orang Indonesia dan juga komikus merasa sangat memahami kondisi yang terjadi. Tak jarang saya membenarkan setiap kejadian yang disampaikan Pak Eru dalam sosok “komikus”. Sepertinya tidak ada pakem, aturan dan keharusan tertentu dalam komik ini, semuanya dibuat dengan apa adanya, tidak muluk-muluk. Menariknya lagi, beberapa bagian komik dibuat dengan berwarna, terutama pada bagian judul setiap cerita. Padahal ilustrasi keseluruhan sudah keren, ditambah halaman berwarna semakin membuat Arigato Macaroni menjadi SUPER KEREN.

Gambar: Salah satu halaman judul cerita yang dibuat selalu berwarna

Pewarnaan pada halaman tertentu memang membuat komik ini berwarna, tidak terkesan suram (mungkin) jika seluruh isi dibuat monokrom. Tata letak gambar dan grafis juga cukup keren, cocok jika muncul di era budaya populer seperti saat ini. Saya sangat mengagumi keseluruhan edisi komik ini, walaupun sedikit menurun pada buku keempat dan kelima. Saya paling suka buku ketiga.

Gambar: Salah satu bagian berwarna pada halaman awal buku kelima

Kolaborasi cerita antar anggota keluarga menjadi salah satu bagian menarik yang sepertinya akan sulit didapat jika tidak berpengalaman. Yuki dan ayahnya benar-benar seorang anak dan ayahnya, ya iya lah. Lelucon umum terjadi ketika Yuki memakai kacamata dan ayahnya pura-pura tidak mengenali lalu bertanya-tanya ke mana anaknya. Oke, mungkin itu bukan sesuatu yang baru, namun akan sangat cocok ketika terjadi dalam cerita orang tua dan anaknya. Cemerlang, karena saya juga sering melihat beberapa sikap orang tua mengajak bercanda anaknya, membuat hubungan mereka menjadi seru dan tidak membosankan.

Gambar: Ayah Yuki pura-pura tidak mengenalinya ketika memakai kacamata baru

Tidak melulu hanya keluarga Yuki, tapi ada beberapa kisah diluar mereka yang tentu saja tidak kalah menarik. Ada orang-orang studio komik, cewek cantik yang menyilaukan dan lain-lain, selengkapnya lebih baik Anda membaca sendiri.

Gambar: Komik Arigato Macaroni 1 sampai 5 tampak samping

Saya rasa cukup sekian membahas sedikit komik Arigato Macaroni. Saya sangat berterima kasih dan bangga kepada Erfan Fajar yang telah menghadirkan komik ini, membuktikan bahwa membuat komik tidak harus dengan batasan & halangan dan telah menginspirasi banyak orang. Terima kasih pula sudah memberi warna perkomikan negeri ini. Arigato, Pak Eru!

Gambar: Kover belakang komik Arigato Macaroni buku 1 sampai 5

Tinggalkan komentar