Cinta Komik

Cinta Komik

Di dalam blog Travelkomik ini, saya ingin berbagi mengenai komik karena saya memang suka komik. Berbagi tentang komik yang saya baca dan bagaimana pendapat saya tentang komik itu. Saya bukan maniak atau pengamat komik, jadi tentu masih banyak sekali komik yang belum saya baca dan belum saya ketahui. Jadi mohon maaf jika banyak kekurangan dan terima kasih sekali jika ada pembaca yang membantu. 

Gambar: Komik Dagashi Kashi diambil dari mangarock.com, kesamaan saya dengan tokoh Kokonotsu Shikada yang menjaga toko sambil berkomik membuat saya tersentuh.

Saya suka komik sejak kecil, kira-kira usia tujuh. Namun ketika itu belum paham mengenai komik itu apa dan komik yang saya baca pun bukan berbentuk buku yang sampai 100 halaman lebih. Ketika itu hanya komik kecil hadiah dari makanan ringan yang halamannya hanya 6 atau 10 dan ukurannya tidak lebih dari setengah tangan orang dewasa. Kebetulan ibu saya punya kios serba ada di dekat SD, jadi saya sering lebih banyak tahu tentang produk daripada teman-teman, termasuk makanan ringan yang ada hadiah komiknya. Ketika SD saya mengoleksi komik kecil itu hingga banyak sekali bersama adik saya. Hal itu masih berlanjut sampai SMP ketika saya juga mulai membuat kliping komik dari koran. Hanya sejauh itu karena kami tinggal di desa dan tidak ada toko buku.

Kelas dua SMP, saya mulai kenal komik yang berbentuk buku (berhalaman lebih dari 100) karena disekolahkan di kota dan ada beberapa teman yang membawa komik ke sekolah. Sejak saat itu saya langsung jatuh cinta dengan yang namanya KOMIK. Saya selalu meminjam komik teman saya dan saya juga sering ke toko buku, perpustakaan bahkan bazar. Saya mulai membeli komik dengan menyisihkan uang saku. Cinta itu begitu besar, mengalahkan segalanya. Seolah saya menemukan sebuah peta untuk memulai petualangan, memulai perjalanan baru dengan tujuan berbeda, meninggalkan segalanya. Melupakan masa kecil yang sering terkurung di rumah dan hanya belajar, melupakan kenyataan bahwa jauh dari kampung halaman, tidak sempat (apalagi) memikirkan tentang anak perempuan, bahkan nilai pelajaran sekolah turun drastis sejak itu. Saya menjadi punya mimpi baru, cita-cita yang sebenarnya telah membuka mata saya untuk melihat luasnya dunia. Saya pun mulai mempelajari komik dengan berbagai cara, mulai dari mengamati setiap detail gambar, jalan cerita, mencari informasi di warung internet, meniru gaya gambar, mencari buku tentang membuat komik dan mempraktikkan semua itu dengan bekal seadanya dan modal nekat. Setiap hari, setiap waktu luang, sambil menunggu kios ibu, bahkan di sela-sela jam pelajaran. Saya suka jam kosong. Hahaha

Singkat waktu, dari semula saya sering meraih prestasi di pelajaran sekolah, menjadi siswa yang biasa-biasa saja namun kemudian menonjol dalam bidang gambar. Lalu saya kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil program studi Animasi. Saya semakin rajin membuat komik, membuat sebanyak-banyaknya. Dan saat itu media sosial sedang naik, maka saya turut membanjiri dengan postingan komik terutama tentang dan untuk teman-teman saya, membagikannya di grup, megikuti event dan bergabung komunitas komik. Saya lebih senang ketika teman-teman saya mengetahui dan mau membaca komik saya, itu menjadi salah satu penyemangat saya dalam berkomik setelah keluarga, ketika itu. Saya ingin membuktikan kepada siapapun yang meragukan profesi komikus, mungkin itu jiwa muda yang berhasrat menaklukkan dunia. LOL

Saya pun tetap suka, tetap membaca komik dan tetap membuat komik hingga sekarang di sela-sela kehidupan yang semakin rumit.

Tinggalkan komentar